Pilihan Terbaik bagi Semua Pihak, Membiarkan Satwa Liar pada Fitrahnya

oleh -30 kali dilihat
BBKSDA Sulsel Amankan Satwa Liar Endemik di Pasar Burung
Satwa liar dilindungi yang diamankan BBKSDA Sulsel-Foto/Ist

Klikhijau.com – Satwa liar dikepung beragam ancaman. Ancaman yang diterimanya itu menyeret banyak di antara mereka terperosok ke jurang kepunahan dan kelangkaan.

Ancaman yang paling marak adalah perburuan, penangkapan, dan juga perdagangan baik legal maupun ilegal. Hal lain yang menjadi ancamannya adalah tergerusnya habitat mereka dan juga perubahan iklim.

Khusus perdagangan satwa liar, menurut Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan, Indonesia berada di pusaran perdagangan satwa liar dunia.

Pernyataan tersebut  berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan Indonesia tercatat sebagai salah satu negara eksportir akbar produk satwa liar di dunia.

KLIK INI:  Menyimak Ajakan Pelestarian Lingkungan Bupati Bulukumba di Hari Raya Idul Fitri 1443 H

Selain Indonesia, negara yang berada dalam pusaran perdagangan satwa liar adalah Honduras dan Jamaica. Negara lainnya adalah Italia, Prancis, dan juga Amerika.

Perdagangan satwa menurut  Prof Ronny diduga kuat jadi penyebab utama kelangkaan dan kepunahan spesies. Tidak hanya itu,  tapi juga menjadi salah satu jalur penularan dan penyebaran penyakit ke berbagai belahan dunia.

Dalam jurnal  Science, memperlihatkan  pusat perdagangan satwa liar utama seperti mamalia, burung, hingga amfibi marak terjadi di wilayah pegunungan hutan hujan Amazon dan Andes, sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara dan Australia.

3.000 spesies lain bakal diperdagangkan

Hal mengerikan dari hasil penelitian itu, karena di masa mendatang  teridentifikasikan ada sekitar 3.000 spesies lain bakal diperdagangkan. Dan yang jadi korbannya adalah satwa liar dengan bulu cerah atau tanduk yang eksotis.

“Hasil penelitian yang dipublikasikan di Science Advances belum lama ini menunjukkan, skala perdagangan satwa liar sangat besar. Sebagai gambaran dari tahun 2006 hingga tahun 2015 telah diperdagangkan sebanyak 1,3 juta hewan dan tumbuhan hidup, 1,5 juta kulit, dan 2.000 ton daging satwa liar diekspor secara legal dari Afrika ke Asia. Jadi, dapat kita bayangkan jika data perdagangan satwa liar digabungkan maka skala  perdagangan satwa liar dunia ini sangatlah besar,” ucapnya.

KLIK INI:  Lagi-Lagi, Gajah Mati Tertabrak Kereta di India

Kenapa bisa demikian? Menurut Prof Ronny, salah satu penyebab maraknya perdagangan satwa liar adalah jurang  kemiskinan antara negara kaya dan negara miskin semakin nganga. Hal itulah yang memicu terjadinya perdagangan satwa liar ilegal antar negara kian marak. Dan alasan utamanya adalah ekonomi.

“Di pasar-pasar hewan, kita masih dapat melihat bagaimana satwa liar yang dilindungi masih diperdagangkan dengan leluasa,” imbuhnya.

Yang perlu dilakukan

Indonesia sebagai mega biodiversity,  perlu melakukan upaya keras dalam memangkas perdagangan satwa liar, khususnya yang dilindungi dengan status yang langka.

Meski saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasinya, faktanya aktivitas perdagangan  satwa liar tetap marak, entah untuk dipelihara atau dikonsumsi.

Parahnya dalam hal memelihara satwa liar ini, sebagian besar pemeliharanya menjadikannya satu kebanggaan, bahkan menunjukkan status sosial yang kerap dipamerkan di media sosial mereka.

Karena salah satu penyebab maraknya perdagangan satwa liar adalah alasan ekonomi, maka menurut  Prof Ronny perjanjian antar negara perlu dimasukkan faktor ekonominya.

KLIK INI:  Kawasan Lindung, Benteng Terakhir bagi Satwa Liar

Sedangkan menurut aktivis pembela kesejahteraan hewan, Doni Herdaru cara terbaik untuk menjaga satwa liar adalah membiarkannya hidup di alam bebas, tidak mengurungnya.

Cara tersebut adalah bukti sayang kita kepada satwa liar dengan tidak merampas hak hidupnya di habitatnya sendiri. Sebab senyaman apa pun jika dalam sangkar, tidak akan ada apa-apanya dibanding jika bebas.

“Setiap satwa punya fungsi masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam,” katanya belum lama ini.

Akan mempengaruhi hidup manusia

Pendiri Yayasan Animal Defenders Indonesia itu juga mengatakan, dengan merenggut mereka, apalagi satwa yang dilindungi dari habitat dan memeliharanya di rumah. Dampak negatif tidak hanya dirasakan oleh satwa liar, tetapi akan mempengaruhi pula kehidupan manusia.

Misalnya, kata dia, owa di habitat hutan berperan dalam regenerasi hutan dengan cara menebar benih. Dia meminta semua lapisan masyarakat untuk berhenti memelihara hewan liar yang lebih cocok untuk bertahan hidup di alam liar.

“Kalau memelihara hewan yang bukan milik orang lain, rasanya tidak enak dan sejuk,” ujarnya. Memelihara hewan liar di tempat yang bukan habitat aslinya menimbulkan risiko yang berbahaya, jika salah satu memicu keganasan. naluri dan akhirnya membahayakan orang-orang di sekitar mereka. Jika yang terburuk terjadi, korban terakhir adalah hewan.

KLIK INI:  Luka Karena Jerat Babi, Kaki Beruang Madu Ini Diamputasi

“Kalau ada kejadian tidak menyenangkan, ada kejadian hewan menyerang pemiliknya, hewan itu harus ditembak,” katanya.

Sementara itu, pendiri Yayasan Natha Satwa Nusantara, Davina Veronica mengatakan, satwa liar memang seharusnya berada di alam bebas karena memiliki peran penting dalam keseimbangan bumi. Membiarkan satwa-satwa liar pada fitrahnya adalah pilihan terbaik untuk semua pihak.

“Pada akhirnya manusia yang akan menikmati manfaat keseimbangan bumi,” tegas aktris dan aktivis pembela hak hidup dan kesejahteraan hewan tersebut.

Jadi, saatnya melepas satwa liar yang dipelihara ke habitatnya. Cara itu jauh lebih baik ketimbang mengurungnya di dalam kandang, meski dengan segala kemudahan dan kemewahannya.

KLIK INI:  Mencegah Pandemi dan Menghemat Biaya dengan Cara Melindungi Satwa Liar

Sumber:  https://dikti.kemdikbud.go.id/kabar-dikti/kampus-kita/pakar-ipb-university-indonesia-berada-di-pusaran-perdagangan-satwa-liar-dunia

https://jatim.antaranews.com/berita/618685/membiarkan-di-alam-bebas-cara-menyayangi-satwa-liar