Pesan Inspiratif Kepala BNPB Doni Monardo tentang Pohon dan Trembesi

oleh -29 kali dilihat
Pesan Inspiratif Kepala BNPB Doni Monardo tentang Pohon dan Trembesi
Kepala BNPB Doni Monardo - Foto/Tempo.co
Anis Kurniawan

Klikhijau.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo mendapat gelar kehormatan Doktor Honoris Causa (HC) dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Penganugerahan ini digelar secara virtual pada Sabtu 27 Maret 2021.

Rektor IPB Arif Satria mengatakan, mengatakan, salah satu pertimbangan pihaknya memberikan gelar ini kepada Doni karena program yang diusung Kepala BNPB adalah atas peran Doni di sektor sumber daya alam dan lingkungan, yang mampu meredam konflik di Maluku.

“Ini adalah kerangka teoritik yang bisa menjelaskan hubungan sumber daya alam lingkungan, yang proses perdamaian bahwa proses governance yang baik dalam pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam akan mampu meredakan konflik,” kata Arif dalam sidang terbuka IPB, dikutip Kontan (27/3/2021).

Menurut Arif Satria, dedikasi Doni Monardo telah menunjukkan sikap enviroment leadership atau kepemimpinan lingkungan. Kepemimpinan lingkungan, jelas Profesor Arif adalah konsep untuk mewujudkan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.

KLIK INI:  Perihal Daun Sungkai yang sedang Naik Daun untuk Atasi Covid-19
Cerita Doni Monardo tentang pohon

Dalam pidatonya di hadapan senat IPB, Doni Monardo menuturkan kisahnya yang sangat dekat dengan tanaman.

“Marilah kita mengucapkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan yang maha kuasa karena kita masih diberikan kesempatan untuk hidup dan bernafas dari oksigen yang dihasilkan oleh tanaman di sekitar kita,” kata Doni membuka pidatonya.

Pengalaman tentang tanaman tidak serta muncul begitu saja. Namun, telah menjadi pengalaman bertahun-tahun Doni Monardo saat berlatih di hutan dan penugasan operasi militer di beberapa daerah. Itulah yang menginspirasinya untuk menanam, merawat dan melestarikan tanaman di mana pun saya berada.

Berikut kutipan pidato Kepala BNPB yang bicara tentang aksinya menanam pohon:

Dimulai dengan menanam pohon di Asrama Brigif Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad yang tandus, di Kariango, Sulawesi Selatan, yang merupakan sumbangan dari alm. Andi Tendri Onigapa, pimpinan Panin Peduli Makassar.

Dilanjutkan dengan pembibitan Trembesi, serta menanamnya di banyak tempat di Sulawesi Selatan termasuk di Lapangan Karebosi dan Bandara Sultan Hasanuddin. Berkomitmen untuk melanjutkan program ini dengan mencanangkan slogan yang terpampang di kebun Bibit Brigif Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad Kariango pada tahun 2008 “Dari Kariango Ikut Hijaukan Indonesia”.

KLIK INI:  5 Aksi Unik sebagai Tanda Cinta pada Pohon, Poin Terakhir Tinggal Kenangan!

Setelah pindah ke Paspampres di Jakarta, komitmen itu saya buktikan dengan membuat kebun bibit trembesi di Cikeas akhir November 2008, dan pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2009, bibit trembesi dibagikan di Istana Merdeka.

Selanjutnya, tahun 2010 saya mengembangkan kebun bibit di Rancamaya. 100.000 bibit trembesi ditanam di wilayah Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dan DKI Jakarta termasuk di sepanjang Kota Kudus, Jawa Tengah.

Kemudian 100.000 bibit Sengon dibagikan secara gratis kepada masyarakat termasuk warga terdampak erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Setahun kemudian, saya mendirikan Paguyuban Budiasi di Sentul di lahan pinjaman milik alm. Ketut Masagung.  Budiasi kependekan dari Budidaya Trembesi, nama pemberian Bapak SBY, Presiden Republik Indonesia saat itu.

Sampai hari ini Paguyuban Budiasi telah memproduksi lebih dari 20 juta pohon, terdiri dari 150 jenis pohon termasuk tanaman langka, yang dibagikan ke berbagai daerah termasuk Timor Leste.

Beberapa pejabat tinggi negara dan kepala daerah sempat berkunjung ke kebun bibit Budiasi, termasuk Bapak Jokowi, saat menjabat Gubernur DKI Jakarta pada Januari 2014.

Tahun 2017, ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Maluku, Beliau sempat menyinggung soal kebun bibit. Saya jelaskan bahwa kebun bibit masih ada bahkan sudah berkembang, Presiden Jokowi juga meminta saya membuatnya di Maluku.

KLIK INI:  Islam dan Solidaritas Alam Bagi Kaum Beragama
Ketertarikannya pada Trembesi

Dalam pidatonya, Doni Monardo menuturkan ketertarikannya secara khusus pada pohon beberapa jenis pohon, khususnya Trembesi.

“Saya ingin menggaris bawahi mengapa saya tertarik dengan trembesi. Ketika bertugas di Paspampres mulai tahun 2001 dari era kepemimpinan Presiden Gus Dur, Ibu Megawati, hingga Bapak SBY, saya banyak berkunjung ke berbagai daerah. Saya amati, di sekitar bangunan pemerintah peninggalan Belanda, setidaknya ada tiga jenis pohon yaitu: Trembesi, Asam, dan Beringin,” katanya.

Berikut petikan pidatonya mengenai Trembesi:

Diperkuat dengan hasil penelitian Dr. Endes N. Dahlan, Dosen Fakultas Kehutanan IPB, yang mengatakan bahwa pohon Trembesi adalah penyerap polutan terbaik. Satu pohon Trembesi yang lebar kanopinya telah mencapai 15 m, mampu menyerap polutan atau gas CO2 sebanyak 28,5 ton per tahun.

Pohon ini termasuk jenis tanaman “die hard”. Dapat tumbuh di tempat yang tandus dan di tempat yang lembab atau basah, di daerah tropis yang tumbuh hingga ketinggian 600 meter diatas permukaan laut. Oleh sebab itu sangat cocok untuk penghijauan kota.

Selain Trembesi, saya juga membudidayakan pohon endemik langka Indonesia lainnya seperti Ulin, Eboni, Torem, Palaka, Rao, Cendana, dan Pule yang sudah sulit ditemukan.

KLIK INI:  Cerita tentang Anak Nelayan yang Putus Sekolah di Tengah Gemerlap Kota Makassar

Pohon Palaka saya jumpai di Maluku. Usia pohonnya diperkirakan 400 tahun, dengan keliling banir sekitar 30 rentang tangan orang dewasa, dan ketinggiannya mencapai 40 meter.

Demikian juga Pule yang saya temukan di Markas Lantamal Ambon. Diameter batangnya lebih dari 3 meter. Dengan ketinggian sekitar 30 meter.

Pohon ini mungkin menjadi salah satu saksi sejarah kejadian gempa dan tsunami yang melanda Ambon pada tahun 1674 sesuai dengan tulisan Rumphius.

Berkat pengetahuan tentang tanaman, saya banyak terbantu ketika ditugaskan sebagai Kepala BNPB.

Untuk mitigasi daerah longsor dengan kemiringan lereng diatas 30 derajat, bisa menanam beberapa jenis pohon berakar kuat seperti Sukun, Aren, Alpukat, dan Kopi. Untuk lahan rawan longsor dengan kemiringan yang lebih curam, bisa ditanam Vetiver atau akar wangi.

Untuk menghindari kerusakan akibat kebakaran hutan dan lahan, bisa menanam pohon Laban, Sagu, dan Aren.

Untuk mereduksi dampak tsunami, bisa menanam pohon Palaka, Beringin, Butun, Nyamplung, Bakau, Waru, Jabon, Ketapang dan Cemara Udang yang memiliki akar kuat.

Artinya, ada banyak jenis vegetasi di tanah air, bila dimanfaatkan secara maksimal, dapat mengurangi risiko timbulnya korban jiwa ketika terjadi bencana.

Mitigasi berbasis ekosistem harus menjadi strategi utama kita dalam menghadapi potensi bencana, mengingat Bank Dunia menyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu dari 35 negara dengan tingkat risiko ancaman bencana tertinggi di dunia.

Itulah pesan-pesan inspiratif Kepala BNPB Doni Monardo yang mengantarnya mendapat kehormatan gelar Doktor HC dari IPB University. Selamat pak!

KLIK INI:  Bagaimana Cara Bidara Laut Mencegah Longsor?