Perusahaan Ini Ubah Tinja Manusia Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Publish by -36 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Perusahaan Ini Ubah Tinja Manusia Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan
Perusahaan di Kenya mengubah tinja manusai jadi bahan bakar/Foto-Liputan6

Yang paling disembunyikan manusia adalah kotorannya, tapi siapa sangka jika kotoran manusia bisa bermanfaat jadi bahan bakar

Klikhijau.com – Sembilan atau tiga belas menit yang lalu. Saya keluar dari kamar mandi. Saya kemudian mengutak-atik HP dan menemukan berita mengejutkan. Sebuah perusahaan mengubah tinja manusia jadi bahan bakar.

Selama ini saya tidak pernah bayangkan jika kotoran manusia bisa dimanfaatkan . Kita semua tahu, hal yang paling disembunyikan manusia adalah kotorannya.

Pun semua orang akan jijik terhadap feses atau tahinya sendiri. Namun, bagaimana jika kotoran itu disulap jadi sesuatu yang lebih berguna.

Semisal yang dilakukan oleh perusahaan asal Kenya, Sanivation yang menyulap kotoran manusia menjadi bahan bakar.

KLIK INI:  Label Ramah Lingkungan Dapat Merangsang Timbulnya Inovasi dan Investasi

Bahan bakar yang perusahaan itu ciptakan diklaim sebagai bahan bakar ramah lingkungan alias berkelanjutan.

Ide itu muncul untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Juga untuk mengurangi deforestasi. Diperkirakan sekitar tujuh persen emisi rumah kaca berasal dari pembakaran kayu untuk memasak.

Di Afrika sendiri, khususnya Afrika Timur, sekitar 90% penduduk menggunakan beberapa bentuk biomassa padat setiap hari seperti kayu bakar, arang, dan pelet (pellets).

Mengurangi pembakaran kayu

Melihat hal itu, Sanivation mengumpulkan limbah kotoran manusia dari toilet khusus dan mengubahnya menjadi bahan bakar yang ramah lingkungan. Inovasi ini memperbaiki sanitasi sekaligus menahan laju pembakaran kayu.

“Pada awalnya orang mempertanyakannya, tetapi produk kami tidak terlihat seperti feses, tidak berbau seperti feses, Anda tidak akan tahu itu kecuali kami memberi tahu Anda,” jelas Emily Woods Co-Founder sekaligus COO Sanivation.

Penjelasan dari Woods itu saya temukan di laman World Economic Forum. Berita yang saya maksud pada awal tulisan ini mengejutkan.

Perihal pembakaran kayu untuk memasak, sebenarnya tidak hanya dilakukan di Afrika Timur, tapi hampir seluruh dunia.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), pada 2017, lebih dari 2,4 miliar orang di dunia bergantung pada pembakaran kayu untuk memasak.

Dengan berkurangnya sistem pengelolaan kebun dan hutan yang berkelanjutan, maka aktivitas ini menjadi ancaman bagi keberlangsungan kehidupan kayu-kayu di hutan.

Secara global, sekitar 17% dari semua kayu yang digunakan sebagai bahan bakar dikonversi menjadi arang.

Peluang inilah yang ditangkap oleh Sanivation yang menyadari jika jumlah karbon dan kalori dalam kotoran manusia sebanding dengan kayu bakar kering.

Berdasarkan itulah, sehingga perusahaan ini memutuskan memutuskan untuk menggunakan kotoran manusia sebagai pengganti arang yang lebih ramah lingkungan.

Perusahaan ini menamai produknya dengan nama Mkaa kwa jamii’, yang berarti ‘arang untuk keluarga’.

KLIK INI:  Tempat Sampah di Sepanjang Jalan Selatan Sulsel
Kurangi laju deforestasi

Dengan arang ini, masayarakat Kenya dapat membakar sekitar dua kali lebih tahan lama dari arang lokal dan mengeluarkan sepertiga dari emisi, khususnya karbon monoksida dan partikulat.

“Jika kita bisa mengumpulkan semua limbah manusia di Kenya, semua limbah pertanian cadangan, maka kita bisa memasok hampir 50% dari seluruh permintaan arang dan kayu bakar dan laju deforestasi akan turun secara substansial,” tambah Woods.

Inovasi kotoran kotoran bahan bakar energi terbarukan terbarukan hijau pengelolaan limbah sanitasi arang saat ini menjadi sumber energi pilihan.

Untuk mempertahankan produksi agar tetap berjalan, Sanivation mengumpulkan kontainer lumpur tinja dari sekitar 650 toilet yang dirancang khusus di Kenya dua kali seminggu.

Feses itu kemudian dibawa ke fasilitas perawatan, lalu dikombinasikan dengan limbah biomassa lainnya seperti serbuk gergaji dan diubah menjadi bahan bakar yang aman dan higienis.

“Untuk setiap ton arang briket kami yang kami jual, kami menghemat sekitar 88 pohon di Kenya. Orang sebenarnya membeli bahan bakar kami karena dampak lingkungan,” terang Woods.

Apa yang dilakukan oleh perusahaan Sanivation bisa jadi solusi untuk mengurangi deforestasi, dan membiarkan kayu tumbuh dengan subur demi merawat lingkungan, demi produk berkelanjutan.

KLIK INI:  Mantap, Denmark Buat Celana Dalam Ramah Lingkungan yang Tak Perlu Dicuci
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!