Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kesehatan Anak?

oleh -36 kali dilihat
Pandemi dan 3 Momen Terbaik Edukasi Anak tentang Makanan Sehat
Ilustrasi anak - Foto/ dhanelle dari Pixabay

Klikhijau.com – Risiko yang dibawa perubahan iklim telah banyak dibahas. Semua bahasan tidak ada yang menggembirakan.

Justru sebaliknya, menimbulkan kerisauan karena penuh dengan ancaman, termasuk ancaman dalam hal kesehatan, termasuk kesehatan anak.

Iya, kabar buruk terbaru adalah perubahan iklim secara signifikan meningkatkan risiko kesehatan pada anak-anak.

Penemuan itu dilakukan melalui sebuah penelitian yang dipimpin oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Boston dan Rumah Sakit Anak Boston.

KLIK INI:  Semakin Banyak Vegetasi di Daerah Perkotaan, Perilaku Kesehatan Anak Lebih Baik

Hasilnya kemudian dipublikasikan dalam  jurnal Environmental Health Perspectives telah menemukan.

Untuk mendapatkan simpulan tersebut, para peneliti meneliti suhu yang lebih tinggi di akhir musim semi dan musim panas. Hal itu kemudian dikaitkan dengan jumlah kunjungan ruang gawat darurat yang lebih besar untuk anak-anak di seluruh Amerika Serikat.

Sementara bahaya kesehatan yang terkait dengan suhu tinggi, seperti serangan panas, kelelahan akibat panas, dan gangguan kardiovaskular dan pernapasan. Didokumentasikan dengan baik pada orang dewasa. Untuk risiko fenomena ini, dampaknya ke anak-anak belum diteliti secara menyeluruh.

“Kita tahu bahwa, karena perubahan iklim, hari-hari dengan panas yang ekstrem akan menjadi lebih sering dan lebih intens,” kata Francesca Dominici.

Dominici adalah seorang ahli biostatistik di Sekolah Kesehatan Masyarakat TH Chan Harvard.  Menurutnya, sejauh mana anak-anak rentan terhadap risiko perubahan iklim, itu harus menjadi prioritas tinggi bagi para ilmuwan untuk dipelajari.

KLIK INI:  Peran Komunitas MTS Atasi Perubahan Iklim melalui Pengelolaan Sampah

Para ilmuwan menemukan bahwa hampir 12 persen dari kunjungan rumah sakit disebabkan oleh suhu yang meningkat.

Dari 47 RS Anak

Kesimpulan itu didapatkan setelah mereka menganalisis data dari hampir empat juta kunjungan ruang gawat darurat. Para peneliti mengambil data di 47 rumah sakit anak-anak di seluruh Amerika Serikat.

Pengambilan data itu mereka lakukan akhir musim semi dan musim panas antara 2016 dan 2018,

Angka temuan itu bahkan lebih tinggi untuk kondisi tertentu, seperti serangan panas atau kelelahan akibat panas (sepertiga dari kunjungan), atau infeksi usus bakteri yang berhubungan dengan panas (seperempat dari kunjungan).

Para peneliti berpendapat bahwa beberapa kondisi kesehatan yang memuncak selama musim panas. Termasuk infeksi telinga atau infeksi usus bakteri. Itu dapat dikaitkan dengan perubahan perilaku yang disebabkan oleh cuaca hangat, seperti peningkatan kunjungan ke kolam renang, atau piknik atau makan makanan yang memiliki rusak setelah dikeluarkan dari lemari pendingin.

KLIK INI:  HPSN 2022 Sinergikan Pengelolaan Sampah dengan Isu Perubahan Iklim  
Perlu penelitian lanjutan

Hanya saja, untuk beberapa kondisi, seperti gangguan darah, kekebalan, dan sistem saraf selama periode panas yang lebih tinggi. Hal itu tidak dapat dijelaskan oleh perubahan perilaku dan belum ditemukan dalam penelitian yang berfokus pada orang dewasa.

Sementara untuk kasus menghilangkan panas pada anak-anak. Mereka ini melakukannya dengan  cara yang sama seperti orang dewasa.

Mereka (anak-anak itu) sering dapat menderita efek suhu tinggi secara berbeda, karena area permukaan tubuh yang berbeda, komposisi lemak tubuh, dan tingkat hidrasi.

“Kami telah mengalami masalah sebelumnya dengan asumsi bahwa anak-anak adalah orang dewasa kecil,” kata penulis utama studi Dr Aaron Bernstein, seorang dokter anak di Rumah Sakit Anak Boston.

KLIK INI:  Lebih Dekat dengan 7 Satwa Unik yang Ada dan Pernah Ada di Soppeng

Jadi, alih-alih hanya mengekstrapolasi dari temuan yang berfokus pada orang dewasa. Para ilmuwan harus lebih memperhatikan kekhususan hubungan kompleks anak-anak dengan panas.

Untuk dapat data yang lebih valid, maka penelitian lebih lanjut perlu dilakukan. Tujuannya adalah untuk memahami kekhasan reaksi anak-anak terhadap suhu tinggi.

Selain itu, juga untuk menilai kemungkinan episode kesehatan akut yang disebabkan oleh panas berubah menjadi kondisi kronis di kemudian hari.

Meski belum ada penelitian lanjutan, tapi temuan awal itu telah memberikan alarm bahaya perubahan iklim terhadap kesehatan anak.

KLIK INI:  Peduli Kebersihan, Bank NTT Sumbang Tempat Sampah di Labuan Bajo

Sumber: Earth