Peringati Hari Keanekaragaman Hayati, KLHK Gelar Temu Pakar

oleh -14 kali dilihat
Peringati Hari Keanekaragaman Hayati, KLHK Gelar Temu Pakar
Pertemuan pakar yang diinisiasi KLHK dan BRGM di momen Hari Keanekaragaman Hayati 2022 - Foto: dok KLHK

Klikhijau.com – Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati (International Day for Biological Diversity/IDB) diperingati pada tanggal 22 Mei setiap tahunnya.

Momen penting ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan masalah keanekaragaman hayati.

Hari Keanekaragaman Hayati pertama kali diluncurkan setelah berlakunya Konvensi Keanekaragaman Hayati.

Tahun ini (2022) adalah tahun yang menjadi momentum ketika dunia sudah mulai lepas dari pandemi covid dan masing-masing Negara sudah beradaptasi dengan endemi Covid-19.

Masa yang tepat bagi komunitas global kembali mengevaluasi hubungannya dengan alam dan bagaimana alam yang sehat sebagai sumber untuk air, makanan, obat-obatan, pakaian, bahan bakar, energi dan lain sebagainya.

KLIK INI:  4 Alasan Kenapa P3KLL Jadi Laboratorium Rujukan Nasional

Itulah mengapa, tema yang diusung pada International Day for Biological Diversity adalah “Membangun masa depan bersama untuk semua kehidupan”. Pesan yang hendak disampaikan dari narasi ini adalah pentingnya keanekaragaman hayati sebagai pondasi dimana manusia dapat membangun kehidupan dengan lebih baik.

Dalam rangka memperingati IDB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengadakan pertemuan para pakar dan akademisi untuk berdiskusi tentang Pembangunan Pusat Plasma Nutfah Indonesia dan Taman Wisata Mangrove.

Kedua pembangunan ini direncanakan untuk mendukung pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur, dimana IKN sebagai smart dan forest city juga sekaligus Ibu Kota sebagai sumber kehidupan.

Pertemuan dipandu oleh Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Hartono dan Penasihat Senior Menteri LHK, Soeryo Adi Wibowo, dan dihadiri oleh pejabat lingkup KLHK dan pakar/akademisi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Universitas Gajah Mada, Universitas Mulawarman, pakar mangrove, Ketua Forum Pohon Langka Indonesia, dan praktisi kehutanan dan lingkungan, perikanan, kedokteran hewan, pertanian.

KLIK INI:  Hutan Gunung Halimun Salak Dapat Penghuni 30 Ekor Kukang Jawa

Diskusi diawali dengan rencana Pembangunan Pusat Plasma Nutfah Indonesia yang merupakan suatu konsepsi perlunya pusat plasma nutfah untuk melindungi keanekaragaman hayati khususnya pada level genetik atau yang sering disebut sebagai plasma nutfah.

Tujuan dari pusat plasma nutfah di IKN ini salah satunya sebagai Center of Excellence atas implementasi teknologi terhadap pengembangan plasma nutfah sekaligus sebagai Pusat Data dan Informasi keanekaragaman sumber daya genetik di Indonesia, berbasis network dan kolaborasi para pihak.

Komponen pusat plasma nutfah antara lain terdapat biobank, laboratorium Asissted Reproduction Technology dan Kultur Jaringan, persemaian/kebun benih dan tegakan benih, arboretum, koleksi (xylarium, herbarium, museum) dan lainnya yang dapat mempresentasi keanekaragaman hayati di Indonesia.

Diskusi kedua tentang Pembangunan Taman Wisata Mangrove sebagai komitmen Indonesia dalam isu perubahan iklim dan restorasi hutan.

Tujuan pembangunan taman mangrove tersebut untuk mengurangi dan mencegah terjadinya dampak lingkungan penting dalam pembangunan IKN. Dan diharapkan memberikan fungsi antara lain konservasi atas keanekaragaman hayati, menjaga dan melindungi kota dari dampak abrasi, mendukung ekowisata berbasis komunitas lokal, sebagai penyerap karbon dan penghasil oksigen yang memberikan manfaat pada kualitas udara, air, dan suhu pada wilayah tersebut.

Dalam tata kelola lanskap mangrove memerlukan aksi-aksi yang terkoordinasi dengan melibatkan para pihak dalam pengelolaan unit lanskap. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan perumusan arah kebijakan dan target, pengembangan kerangka hukum melalui kebijakan/aturan perundangan dan design kelembagaan.

Melalui pendekatan berbasis ekosistem (ecosystem approach), keanekaragaman hayati diharapkan mampu menjadi pondasi yang kokoh dalam membangun kembali aspek kesehatan, ketahanan pangan, iklim, air hingga mata pencaharian yang baik dan berkelanjutan.

Di tingkat global nature-based solution menjadi hal utama dalam menterjemahkan bagaimana alam memberikan kontribusi kepada kehiduan manusia dan bagaimana manusia menjaga alam sehingga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam dan lingkungan dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan.

Dengan adanya rencana pembangunan Pusat Plasma Nutfah Indonesia dan Taman Wisata Mangrove, diharapkan Indonesia menjadi negara yang mengimplementasikan nature-based solution dan dapat menjadi contoh nyata (leading by example) di tingkat nasional maupun global.

KLIK INI:  P3E SUMA KLHK Gelar Rakernis Pengendalian Pencemaran Lingkungan