Peringatan Hari Air di Masa Tobat dan Pertobatan Ekologis

oleh -97 kali dilihat
Peringatan Hari Air di Masa Tobat dan Pertobatan Ekologis
Pastor Johnny Dohut, OFM, bersama umat merayakan Hari Air dengan menanam pohon di beberapa lokasi mata air - Foto: Ist

Klikhijau.com – Hari Air dirayakan setiap tahunnya, tepatnya pada tanggal 22 Maret. Namun dua hari lebih cepat, Pagi itu, Minggu 20 Maret, Ekopastoral Fransiskan Pagal bekerja sama dengan seksi JPIC Paroki Kristus Raja Pagal, merayakan Hari Air Bersama umat di Stasi Akel, Desa Bere, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, NTT.

“Aku percaya bahwa merusak sumber-sumber air dan mencemari air  dengan racun dan polusi adalah merupakan kejahatan terhadap Dikau dan sesama makhluk hidup!”

Demikian salah satu seruan dari delapan bait ikrar air yang diucapkan dalam ibadat pemberkatan pohon saat peringatan Hari Air, di Stasi Akel.

Setiap seruan yang dijawab “Aku percaya” oleh umat yang hadir diakhiri dengan seruan yang mengandung tanggung jawab iman untuk melindungi dan merawat ciptaan Tuhan.

“Aku percaya  bahwa kami disucikan berkat karunia Roh Melalui pembaptisan yang mengangkat kami menjadi anak-anak-Mu dan bertanggung jawab atas semua mekhluk ciptaan.”

KLIK INI:  Komunitas Lingkungan Kolaborasi Bantu Pemulung dan Petugas Persampahan Aman Corona

Dalam renungan singkat saat ibadat pemberkatan pohon di Mata Air Wae Lolok, Pastor Johnny Dohut OFM mengatakan menanan pohon di masa tobat ini, bukan hanya sebatas sebagai pekerjaan fisik, berjalan melewati tebing dan lembah untuk menanam pohon. Lebih dari itu, apa yang dilakukan ini bermakna spiritual, yakni perwujudan pertobatan ekologis.

“Kita merusak ciptaan Tuhan dengan banyak cara, seperti mencemari air dengan sampah, mematikan sumber air dengan membabat hutan, meracuni air dengan pestisida dan limbah,” ungkapnya.

“Hari ini kita mengakui semua dosa itu dan  melakukan pertobatan ekologis. Sambil bersyukur atas anugerah Saudari Air yang menopang hidup kita dan segala makhluk, kita mau berkontribusi untuk ambil bagian dalam melestarikan sumber-sumber air dengan menanam pohon,” ajak Pastor Johnny.

Ketua Seksi JPIC Paroki Kristis Raja Pagal, Bapak Herman Daur, dalam sambutannya pagi itu mengingatkan umat Stasi Akel bahwa menanam pohon di sumber-sumber air adalah poin penting dalam rekomendasi seminar ekologi yang dilaksanakan dalam rangka ulang tahun paroki ke-80 pada tahun 2019 lalu.

Ia menambahkan agar perayaan syukur panen (Penti) mesti juga memberi perhatian untuk kegiatan menanam pohon di mata air.

Ritual barong wae di mata air saat Penti mengandung inti permohonan kembus wae teku mboas wae woang. Agar doa itu dikabulkan, mari mewujudkannya dengan menanam pohon.

air

KLIK INI:  Lingkungan, Cinta Lain yang Menghuni Hati Hamish Daud Selain Raisa

Ia mengapresiasi semangat umat menyambut kegiatan hari air dan mengajak mereka untuk ambil bagian dalam kegiatan menanam pohon di tiga lokasi mata air. Adapun lokasi mata air tersebut, yakni Wae Lolok, Wae Lemo, dan Wae Walok dengan pancurannya yang sangat menarik.

Pada kesempatan tersebut, seorang peserta Ibu Lestari mengatakan, jarak tempuh ke tiga lokasi mata air itu cukup menguras energi, namun semua rasa lelah karena menikmati pancuran Wae Walok.

“Senang sekali saya! Aduh..indah banget! Kegiatan konservasi terlaksana sekaligus ada rekreasinya” ungkapnya dengan penuh kegembiraan.

Pancuran Wae Walok menjadi salah satu spot yang menghipnotis para peserta. Pancuran Wae Walok sebagi hadiah paling menarik dari rangkaian kegiatan menanam pohon di tiga mata air tersebut.

Kegiatan berakhir pada pkl.13.00 waktu setempat. Semua peserta kembali ke rumah masing-masing, sementara penanggung jawab kegiatan bersama Pastor Johny menikmati pisang rebus dan kopi panas di rumah Bapak Yosep, Ketua Stasi Akel.

Dalam kesempatan Ketua Stasi Akel mengungkapkan harapannya, agar kegiatan serupa tetap dilanjutkan di tahun-tahun yang akan datang dengan jumlah umat yang semakin banyak terlibat.

“Semua umat harus terlibat dalam kegiatan reboisasi atau penanaman pohon. Kelestarian alam bukan hanya untuk orang yang rajin menanam pohon. Begitupula bencana alam tidak memandang yang rajin maupun yang malas,” tegasnya.

Menjaga keutuhan ciptaan, kata Osep, menjadi tanggung jawab bersama semua umat. “Kerja sama dan sama-sama kerja harus menjadi fondasi dasar dalam pergerakan penghijauan,” tutupnya.

KLIK INI:  Du’Anyam, Wirausaha Sosial yang Berdayakan Perempuan NTT Lewat Anyaman