Perihal 2 Ekor Burung Penyebab Warga Padang Pariaman Terjerat Hukum

Publish by -300 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Perihal 2 Ekor Burung Penyebab Warga Padang Pariaman Terjerat Hukum
Burung tiong emas/foto-Wikipedia

MP telah melakukan penjualan burung sebanyak 30 ekor

Klikhijau.comDua ekor burung yang akan dijual oleh MP (31) jadi penyebab ia terjerat hukum. MP yang merupakan warga Padang Pariaman menjual burung melalui media sosial Facebook.

Ia jualan burung melalui facebook dengan keuntungannya cukup menjanjikan, yakni mencapai Rp300 ribu per ekornya.

Aksi jualan burung di media sosial telah dilakoni MP selama satu tahun terakhir. Beruntunglah aksi itu berakhir pada hari Jumat, 17 Juli 2020 ketika ia berhasil ditangkap oleh polisi yang menyamar menjadi pembeli burung yang dijualnya.

Burung yang akan dijual MP kepada polisi yang menyamar berupa burung tiong emas satu ekor dan nuri kalung ungu satu ekor.

KLIK INI:  Berkat Embrio Buatan, Badak Putih Bisa Diselamatkan dari Kepunahan

Kedua burung tersebut dilindungi berdasarkan dilindungi UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Selain itu, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. 106 Tahun 2018 tentang Daftar Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Fakta dua burung tersebut

Berdasarkan data dari Conventional on International Trade Endangered Species (CITES), burung tiong emas marak diperdagangkan dalam jumlah besar, baik dalam skala domestik maupun internasional.

Masalahnya akan sangat fatal jika  dibiarkan tidak terkontrol. Karena akan memicu kepunahan spesies tiong emas itu sendiri.

Apalagi jumlahnya perlahan menipis karena  perburuan liar dan kurangnya penangkaran.  Burung ini tersebar di beberapa negara, di antaranya Cina, Malaysia, India, dan Indonesia.

Untuk di Indonesia sendiri tiong emas kerap dijumpai di hutan-hutan Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa, dan Bali.

Burung ini diburu karena suaranya yang unik.  Ia bisa menirukan suara manusia karena selaput suaranya (syrinx) yang mirip dengan manusia. Ia dapat memiliki 3 sampai 13 tipe suara.

Burung jenis ini menyukai tinggal di atas pohon-pohon yang tinggi, hidup berpasangan dan kerap ditemui berkumpul dalam suatu kelompok.

KLIK INI:  Kisah Singa-Singa di Taman Al-Qureshi Sudan yang Memilukan

Sedangkan burung nuri kalung ungu merupakan penyerbuk dan memencarkan biji-bijian. Ia bisa dianggap sebagai salah satu burung pelestari hutan dan merupakan burung endemik Indonesia

Nama latinnya Eos squamata. Ia dinamai burung nuri kalung ungu karena terdapat lingkaran di lehernya berwarna ungu menyerupai kalung.

Burung endemik Indonesia ini memiliki  panjang tubuh sekitar 28 cm untuk yang telah dewasa. Bulu berwarna dominan merah dan ungu. Ia memiliki ekor panjang dan meruncing.

Nah, kedua jenis burung itulah yang menyebabkan MP terjerat hukum. MP  ditangkap polisi di Pasar Lawang, Kecamatan Matur, Jumat, 7 Juli 2020 sekitar pukul 10.00 WIB.

Terungkapnya aksi perdagangan burung ilegal MP itu berawal dari informasi yang diperoleh dari warga terkait ada perdagangan satwa dilindungi menggunakan media sosial facebook.

Penjualnya mencantumkan nomor telepon yang bisa dihubungi. Kemudian tim gabungan menyamar sebagai pembeli lalu menghubungi nomor tersangka untuk melakukan transaksi.

Tanpa rasa curiga tersangka menyetujui transaksi dua burung tersebut dengan harga Rp2,3 juta di lokasi yang telah ditetapkan.

KLIK INI:  Lebih Dekat dengan Monyet Surili, Maskot PON Jabar 2016

Namun, naas bagi warga Tandikek, Kabupaten Padang Pariaman itu, begitu sampai di lokasi, bukannya uang yang didapatkan. Tapi ia langsung ditangkap beserta barang bukti dua ekor burung tersebut.

“Tidak ada perlawanan dari tersangka saat penangkapan dan tersangka langsung kami bawa ke Mapolres Agam,” ujar Kapolres Agam, AKBP Dwi Nur Setiawan.\

Terancam penjara 5 tahun

Aksi yang dilakukan MP bukan pertama kalinya. Ia telah melakukan penjualan burung sebanyak 30 ekor yang ia peroleh dari berbagai daerah.

“Kami sedang melakukan pengembangan terkait orang yang menyuplai satwa itu dan ini merupakan sindikat perdagangan satwa dilindungi,” tambah Setiawan.

Kini MP harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ia diancam Pasal 21 Ayat 2 Huruf a Jo Pasal 40 Ayat 2 Undang-umdang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman lima tahun penjara dan denda Rp100 juta.

Sementara itu, dua jenis burung yang berhasil disita akan  diserahkan ke BKSDA Resor Agam untuk dipelihara sebelum dilepasliarkan.

Ade Putra, Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resor Agam mengatakan,  burung tiong emas akan dilepas liar ke Kabupaten Kepulauan Mentawai dan nuri kalung ungu dilepas liar di Talaut, Sulawesi Utara.

“Kami akan melakukan koordinasi dengan BKSDA setempat untuk melepasliarkan satwa itu. Burung itu merupakan habitat di luar Sumbar,” ujarnya.

KLIK INI:  Selain Pengganti Fiberglass, Daun Nanas Memiliki Manfaat Lain yang Mengejutkan
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!