Pentingnya Menghidupkan Kembali “Makanan Marah” Demi Lingkungan

oleh -43 kali dilihat
Sop Ubi Mama Icha, Pompa Semangat WCD Warga Batua, Makassar
Sop ubi, makanan khas Sulsel/foto- Ist
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Masih sangat basah di ingatan ultimatum ibu, “Jangan buang atau sisakan makananmu, nanti makanan marah!”

Saya sering mendapatkan ultimatum itu sewaktu kecil. Dan kamu tahu, kata marah bagi anak kecil sangatlah menakutkan.

Kamu bisa bayangkan bagaimana jadinya jika makanan marah,  tentu ia tak bisa lagi disentuh, akan mengamuk dan membuat kelaparan.

Namun, semakin tumbuh besar dan dewasa, semakin saya sadari disadari, banyak makna yang tersirat dalam ultimatum ibu tersebut.

KLIK INI:  Kopi dan Manifestasi Rasa Pahit yang Tertinggal

Membuang makanan atau menyisakannya adalah bentuk pemborosan dan tak mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan.

Ultimatum itu rasanya memang perlu dihidupkan kembali, karena  membuang makanan atau tak menghabiskannya bukan hanya membuat makanan marah, tapi juga  bisa jadi sebuah bentuk kufur nikmat dan tak menghargai kerja keras orang yang menghadirkan makanan itu sendiri.

Dampak lain dari membuang makanan akan menunjukkan perilaku kita yang tak berpihak lingkungan. Sebab membuang makanan sisa akan berdampak buruk bagi kelestarian lingkungan.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB atau FAO pada tahun 2003 lalu mencatat jika  food waste alias makanan yang dibuang mencapai  angka 1,3 miliar ton per tahun di seluruh dunia.

Dan yang miris,  Indonesia menjadi negara penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia. Bahkan sekitar 55 persen beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)  sampah berasal dari sisa-sisa makanan.

Lalu apa saja dampak membuang makanan bagi lingkungan, berikut ulasan singkatnya yang perlu diketahui, sehingga kita akan berpikir untuk menyisakan dan membuang makanan:

  •  Akan menghasilkan gas metana

Gas metana dapat memperburuk kondisi pemanasan global. Sialnya, makanan yang kita buang akan menjadi limbah. Dan limbah yang membusuk itu akan  melahirkan gas metana  yang memiliki dampak lebih buruk daripada yang ditimbulkan CO2 dalam hal pemanasan global. Itu artinya sampah jenis ini bisa memperburuk perubahan iklim dan menipiskan lapisan ozon.

Di Indonesia, setiap orang membuang sampah makanan sekitar 300 kg setiap tahun. Bayangkan berapa banyak yang terbuang kelingkungan jika dikalikan dengan seluruh rakyat negara tercinta ini!

  • Memboroskan sumber daya

Sumber daya alam jika tak dikelola dengan baik pun akan ludes.  Meski bahan makanan akan terus bertumbuh, tapi sumber daya pendukungnya akan semakin banyak, semisal air.

Ada sebuah fakta yang menarik, bahwa makanan  yang terbuang sebanyak 1,3 miliar ton per tahun di seluruh dunia itu, membutuhkan sekitar 1,132 miliar liter minyak bumi, luas area 9,7 juta hektar, dan  550 miliar meter kubik air untuk menghasilkan makanan yang terbuang tersebut.

  • Melahirkan bau busuk

Meski dikategorikan ke dalam jenis sampah organik yang mudah terurai. Bukan berarti sampah jenis ini lepas dari masalah.

Jika sampah ini menumpuk terlalu lama dan mulai membusuk, akan melahirkan aroma yang tak sedap.

Dampak ini tak hanya kurang baik bagi lingkungan, tapi juga bagi kesehatan. Karena akan melahirkan berbagai jenis penyakit, juga kualitas udara akan tercemar.

KLIK INI:  Terbuat dari Sampah Plastik, Gelang Tikos ini Memberi Motivasi Pada Tiap Warnanya
  • Perusak air dan lingkungan

Makanan dan air dua hal tak terpisahkan. Semakin banyak makanan, akan semakin banyak air pula yang dibutuhkan, mulai dari menanam, panen, mencuci hingga memasaknya.

Pada saat membusuk, sampah jenis ini akan mengeluarkan cairan berwarna pekat dengan bau yang busuk.

Cairan yang membusuk itulah yang akan mencemari air dan membawa dampak buruk pula pada lingkungan.

Belum lagi, banyak jenis makanan yang menggunakan zat kimia saat masa penanaman hingga masa panen.

Karena itulah, ada baiknya jika kita lebih bijak dalam hal menghargai makanan dengan menghabiskannya.

Untuk mengatasi itu, bisa ditempuh dengan istilah menarik yang beredar dalam masyarakat Makassar, yakni mubassor. Kata ini merupakan plesetan dari kata mubazir.

Mubassor sendiri berasal dari bahasa Makassar, yakni bassoro yang artinya kenyang. Kata mubassor bisa diartikan mengenyangkan diri dengan makanan.

Istilah mubassor kerap digunakan ketika ada makanan yang sangat sayang ketika dibuang. “Lebih baik mubassor dari pada mubazir—lebih baik kenyang daripada mubazir.

Pernyataan itu menandakan, jauh lebih baik kita kekenyangan daripada mubazir dengan membuang makanan yang masih layak dikonsumsi.

Dua hal itu, yakni makanan marah dan mobassor bisa jadi solusi untuk mengerem diri kita membuang sampah makanan ke lingkungan.

Selain dua cara tersebut, cara lain yang bisa ditempuh adalah berbagi. Banyak orang yang membutuhkan makanan, maka sangat bijak jika kita berbagi makanan agar tak mubazir dan membuatnya marah.

KLIK INI:  Sampah Plastik Jadi Lahan Nafkah Perempuan Myanmar