Pengaruh Polusi Udara terhadap Kognitif Anak

oleh -87 kali dilihat
Pengaruh Polusi Udara terhadap Kognitif Anak
Ilustrasi anak-anak/foto-goabroad.
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Saat terjadi kebakaran hutan dan asap melanda Sumatera dan Kalimantan, sempat muncul beberapa kekhawatiran jika asap yang mengotori udara dapat berdampak buruk pada prestasi anak. Kekhawatiran ini nyatanya memang bukanlah isapan jempol belaka.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa polusi udara bisa berdampak buruk pada kesehatan mental, tingkat kriminalitas, dan prestasi di sekolah.

Harap dicatat bahwa separuh dari populasi manusia di bumi ini tinggal di daerah urban. WHO (World Health Organization) juga mencatat bahwa 9 dari 10 orang menghirup udara pada kategori berbahaya di daerah yang berpopulasi.

Dilansir dari BBC Future, polusi udara membunuh setidaknya tujuh juta orang per tahun. Sebuah angka jiwa yang cukup besar.

KLIK INI:  Pemkab Polman Belajar Proklim ke Magelang

Sefi Roth dan timnya dari London School of Economics melakukan penelitian dampak polusi udara pada kemampuan kognitif. Roth dan timnya mengambil sampel siswa yang mengambil tes dengan rentang waktu yang berbeda. Semua variabel yang lain dikontrol, yaitu level pendidikan yang sama dan di tempat yang sama. Yang berbeda hanyalah waktu saat mengambil tes tersebut.

Memiliki efek jangka panjang

Hasilnya? Roth dan timnya menemukan hasil yang berbeda. Pada hari-hari yang masuk kategori udaranya sangat kotor berkorelasi dengan hasil tes yang buruk. Sementara ketika para siswa mengambil ujian di hari-hari ketika udara tergolong lebih bersih, nilai rata-ratanya lebih baik.

Lalu, pertanyaannya adalah apakah polusi udara tersebut memiliki efek jangka panjang? Roth melanjutkan kembali penelitiannya setelah 8-10 tahun kemudian.

KLIK INI:  Polusi Udara Tingkatkan Risiko Dimensia, Begini Penjelasannya!

Roth mencatat bahwa mereka yang memiiki skor rendah ketika mengambil tes dulu, 8 sampai 10 tahun kemudian melanjutkan kuliah di kampus-kampus yang tergolong berperingkat bawah. Roth juga mencatat bahwa mereka juga memperoleh penghasilan yang lebih rendah.

Meski begitu, sebagai catatan kritis, studi yang dilakukan Roth bukan satu-satunya penentu. Kemampuan kognitif atau kesuksesan bukan hal sederhana yang hanya dipengaruhi oleh satu variabel tunggal. Setidaknya kita tidak bisa melupakan begitu saja faktor-faktor sosial yang lain.

Tetapi tentu studi oleh Roth dan timnya perlu menjadi catatan bagi kita semua, dari masyarakat biasa sampai pada level pemerintah atau politisi yang berperan penting dalam penentuan kebijakan.

Penelitian oleh Roth dapat menjadi salah satu referensi penting dampak buruk polusi udara pada manusia, khususnya kepada anak-anak.

KLIK INI:  Duduk Terlalu Lama Tingkatkan Risiko Depresi dan Kecemasan