Pemuda Sumbar Diamankan Usai ‘Bermain’ dengan Simpai, Primata Endemik Sumatera

oleh -28 kali dilihat
Pemuda Sumbar Diamankan Usai ‘Bermain’ dengan Simpai, Primata Endemik Sumatera
Simpai - Foto/Loka Zoo

Klikhijau.com – Beberapa waktu lalu, sebuah rekaman video singkat berdurasi 28 detik beredar di jagat media digital. Rekaman video singkat ini memperlihatkan sekelompok pemuda yang terlihat sedang asyik mempermainkan Simpai, hewan primata endemik Pulau Sumatera.

Maksud hati hendak menolong hewan primata yang terluka akibat terjatuh dari pohon, salah seorang diantara mereka malah menarik-narik ekor hewan ini. Sebagian lainnya menertawai tindakan teman mereka.

Karena merasa tertekan, Simpai melakukan perlawanan dengan menerjang lelaki tersebut. Tak lama berselang, seorang pemuda lainnya yang membawa karung langsung memasukkan Simpai kedalam karung tersebut.

Menurut pengakuan mereka, primata ini dibawa ke rumah mereka yang jaraknya tak terlalu jauh dari lokasi kejadian. Setelah diobati, kemudian dilepaskan kembali ke habitatnya.

Niat baik pemuda ini mendapat reaksi negatif dari netizen budiman. Tindakan mereka dianggap hanya sekedar ‘bermain’ dan menyakiti primata endemik ini. Buntut dari tndakannya berupa pemanggilan dari pihak kepolisian kepada 6 pemuda ini.

Kejadian ini berlangsung di jorong Aia Mudiak, Nagari Tambangan, Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

KLIK INI:  IPB University Ubah Nama Fakultas Kehutanan, Begini Alasannya!

Sebenarnya, kejadian ini terjadi pada pertengahan Januari lalu. Hanya saja, rekaman video singkat baru tersebar di publik. Dalam beberapa hari setelah videonya viral, pihak kepolisian daerah Sumbar bersama BKSDA setempat melakukan pencarian pada pelaku.

Alhasil, ke-enam pemuda yang sebagian besarnya merupakan remaja digelandang ke kantor polisi. Aparat kepolisian memberikan sanksi berupa teguran kepada mereka agar tak melakukan tindakan yang sama.

Kepada masyarakat Indonesia, kelima pemuda ini juga menyampaikan permohonan maafnya dan berjanji tak lagi melakukan tindakan serupa.

Mengenal Simpai, primata endemik diambang punah

“Sudah jatuh, tertimpa tangga pula”. Seperti itulah pribahasa yang dapat menggambarkan masalah yang didera pelaku diatas. Bukan hanya karena melakukan animal harassement atau tindakan kekerasan terhadap hewan. Tetapi juga, hewan yang menjadi sasaran tindakannya merupakan hewan endemik yang statusnya terancam punah.

Simpai merupakan salah satu hewan keluarga primata yang hidup di hutan hujan Semenanjung Malaysia, kepulauan Sumatra mulai dari bagian selatan sampai utara serta Kalimantan bagian barat. Sebagian besar populasi hewan endemik ini ditemukan di Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Barat dan Sumatera Selatan.

KLIK INI:  Pembangkit Listrik Biomassa Berbahan Bakar Bambu Diresmikan di Mentawai

Primata Simpai atau dalam nama latinnya Presbytis melalophos berasal dari genus Presbytis. Mendiami kawasan hutan bagi dalam, mulai dari dataran rendah hingga ketinggian diatas 2.500 km diatas permukaan laut (Wirdadeti&Dahruddin:2011).

Karena habitatnya yang berada di hutan, Simpai sepenuhnya bergantung pada kelestarian hutan hujan. Bagi primata ini, hutan menjadi rumah yang menyediakan bahan makanan dari alam. Sebagaimana primate oada umumnya, pisang dan buahan berbiji menjadi makanan favorit bagi Simpai. Berat badan simpai mencapai 6 kg, umumnya pejantan lebih berat dibandingkan betinanya.

Simpai merupakan jenis primate berbulu lebat. Tubuhnya sedikit jangkung dibandingkan primata lain. Warna bulu simpai bervariasi, mulai dari coklat kehitaman dan putih kecoklatan. Umumnya, simpai hidup dengan kelompok-kelompok kecil. Biasanya diisi dengan 1-2 pejantan dan 5-7 betina, jumlah betina lebih dominan dari pejantan di kelompok mereka.

Sayangnya, populasi primata ini kian menurun selama beberapa waktu terakhir. Salah satu faktornya adalah kondisi habitat alami simpai yang mulai berkurang akibat pembukaan lahan. Karena itu, IUCN menetapkan status satwa ini adalah terancam punah endangered.

Mari berharap semoga kedepannya simpai masih tetap lestari bersama habitat hutan, tempat mereka dan jutaan satwa menggantungkan hidup.

KLIK INI:  Pembalut Kain Ubah Stigma Perempuan sebagai Kontributor Kerusakan Lingkungan