Pembalut Kain Ubah Stigma Perempuan sebagai Kontributor Kerusakan Lingkungan

Publish by -114 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Pembalut Kain Ubah Stigma Perempuan sebagai Kontributor Kerusakan Lingkungan
Pembalut Kain Ubah Stigma Perempuan sebagai Kontributor Kerusakan Lingkungan/foto - Ist

Klikhijau.com – Pembalut dan perempuan, dua hal yang tak bisa terpisahkan. Perempuan rata-rata menggunakan 10 ribu pembalut   selama masa subur.

Bisa dibayangkan betapa banyaknya pembalut yang dihasilkan oleh perempuan. Selain itu betapa repotnya bagi seorang perempuan sedang mengalami menstruasi dan harus tetap menjalankan aktivitas.

Dalam sehari ia harus menggantinya, entah berada di rumah, tempat kerja bahkan dalam perjalanan sekalipun.

Pembalut-pembalut itu sebagian besar dibuang begitu saja. Tidak diolah dengan baik sehingga berpotensi menjadi limbah yang akan merusak lingkungan.

KLIK INI:  Jeruk Nipis Bisa Membuat Kulit Wajah Lebih Mulus, Benarkah?

Tidak  hanya merusak lingkuang, tapi juga  bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan dan estetika. Perempuang yang membuang pembalutnya sembarangan akan dianggap jorok.

Karena itulah, permasalahan ini memang memerlukan perhatian dan solusi yang tepat. Tidak mungkin ada aturan yang akan melarang perempuan tidak menggunakan pembalut ketika sedang haid.

Penggunaan pembalut telah menjadi keniscayaan. Sayangnya pembalut-pembalut yang banyak digunakan terbuat dari plastik yang butuh hingga ratusan tahun untuk terurai.

Menurut penelitian, di dalam pembalut perempuan sekali pakai terdapat gel yang belum tentu aman bagi organ reproduksi. Pengisi utamanya bahkan tidak 100% kapas asli, kadang terdapat campuran serbuk kayu dan kertas bekas, sehingga bahan pembalut tersebut pada umumnya diberi tambahan pemutih dan pewangi yang berpotensi memicu kanker rahim.

Maka solusi yang tepat adalah penggunaan pembalut kain. Salah satu yang menggagas hal itu adalah Westiani Agustin

Westiani Agustin atau biasa disapa Ani merupakan salah seorang pemerhati lingkungan. Ia mendirikan usaha bernama  Biyung.

Wanita 43 tahun itu mendirikan Biyung sebagai bagian dari gerakan lingkungan. Kecintaannya terhadap lingkungan membuatnya mendirikan gerakan itu.

Ani tidak sendiri bergerak, ia dibantu oleh putri dan dua rekannya. Biyung adalah aktivitas dan gerakan sosial yang memproduksi pembalut kain.

Perempuan bantu perempuan
KLIK INI:  Lagi, Penyu Mati karena Sampah Plastik dan Limbah di Bengkulu

“Ada satu persoalan yang menyatakan bahwa perempuan itu kontributor kerusakan lingkungan, itu jadi keresahan panjang selama beraktivitas di pendidikan lingkungan,” keluhnya.

Ide mendirikan Biyung dengan tagline “Perempuan Bantu Perempuan, untuk Kebaikan Perempuan dan Ibu Bumi” itu bermula proyek home schooling anak-anaknya.

Saat itu dikisaran tahun 2016 Ani  dan putrinya masih melakukan proses penelitian dan pengembangan pembalut kain untuk dipakai secara pribadi.

Dua tahun kemudian, yakni   2018 Biyung akhirnya lahir, lalu dua rekannya mulai bergabung pada akhir tahun itu.

Pemilihan nama Biyung sendiri bukan tanpa alas an. Nama itu diambil dari bahasa Jawa, Biyung yang berarti Ibu.

“Kita lahir dari ibu, entah itu ibu lahiriah kita atau ibu bumi, kita bisa jadi ibu termasuk ibu dari anak kebaikan,” tutur Ani seperti dikutip dari Suarajogjacom.

Penggunaan pembalut bagi perempaun, menurut Ani adalah keterpaksaan karena ada anggapan yang terbangun.

KLIK INI:  Norwegia dan Indonesia Perkuat Kerjasama REDD+ dan Lingkungan Hidup

Anggapan itulah menggiring perempuan yang sedang menstruasi menggunakan pembalut sekali pakai, sebagai solusi yang dianggap paling praktis dan tak mengganggu produktivitas.

Dampaknya terhadap lingkungan pun kian terasa dan mencemaskan. Setidaknya terdapat 70 juta perempuan menstruasi aktif di seluruh Indonesia. Jika jumlah itu dikali berarti dalam sebulan ada sekitar 1,4 miliar pembalut yang terbuang.

“Dan itu kalau kita bicara lingkungan sampah cuma 35 persen yang selamat di daratan selebihnya ke laut,”  beber Ani.

Melihat hal tersebut maka pembalut kain bisa jadi solusi untuk menyelamatkan lingkungan dan stigma perempuan sebagai kontributor kerusakan lingkungan.

Hmm, ⁣perempuan punya hak untuk menjalani menstruasi yang aman, sehat, bahagia, dan bisa menyelamatkan lingkungan.

Semoga….!!!

KLIK INI:  Manggala Agni KLHK Bantu Korban Banjir di Gowa

 

Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!