Pasokan Kayu Bitti Langka, Industri Kapal Pinisi Terancam

oleh -135 kali dilihat
Pasokan Kayu Bitti Langka, Industri Kapal Pinisi Terancam
Perahu pinisi - Foto/Pinterest
Andi Ayatullah

Klikhijau.com – Industri kayu di Sulawesi Selatan (Sulsel) benar-benar menjerit selama pandemi Covid-19. Pendapatan industri kayu merosot antara 30 sampai 70 persen di masa pandemi.

Bahkan di Makassar ada industri kayu besar yang bangkrut, dan beberapa perusahaan berhenti sementara, dan hanya beroperasi dalam waktu tertentu.

Dalam situasi demikian, para pengusaha kayu berharap ada bantuan dari pemerintah khususnya dalam aspek permodalan.

Lesunya industri kayu di Sulsel juga berdampak pada pembuatan kapal legendaris phinisi di Bulukumba.

Dalam sebuah lokakarya yang pernah digelar JURnaL Celebes dengan pelaku industri kayu di Sulawesi Selatan, terungkap hal ini.

Industri perahu di Bulukumba mengalami kesulitan bahan baku, bukan hanya pada masa pandemi. Beberapa tahun terakhir, pinisi yang merupakan produk budaya Bugis tersebut sudah sulit memperoleh bahan baku utama Kayu Bitti (Vitex Cofasus).

KLIK INI:  Jurnal Celebes: Fenomena Pemalsuan Dokumen Perusahaan Kayu Terorganisir

Pesanan kapal pinisi bertambah, tetapi pembuat kapal kini makin sulit mendapatkan bahan baku utama Kayu Bitti.

Padahal, sejak lama dikenal bahwa daerah Bulukumba, Sinjai dan Gowa menjadi basis kayu Bitti. Namun, setelah puluhan tahun menjadi bahan utama pinisi, Bitti sudah pun sangat berkurang, kecuali di hutan adat Kajang yang masih terjaga.

JURnaL Celebes menilai ke depan merupakan ancaman bagi kawasan hutan adat, ketika masing-masing pihak terdesak kebutuhan.

Sukardi, salah seorang pelaku industri kayu di Bulukumba yang terkait dengan pembuatan perahu, menyatakan saat ini ada keprihatinan kalangan pembuat pinisi.

KLIK INI:  Yuk, Intip Keberhasilan Gakkum KLHK!
Industri phinisi terancam tinggal kenangan

Menurut peserta lokakarya JURnaL Celebes dengan industri, suatu ketika kemungkinan pinisi yang tersohor sebagai produksi kebudayaan Bugis tersebut kemungkinan hanya tinggal nama.

Setelah Kayu Bitti berkurang di Bulukumba, pembuat pinisi mendapatkan pasokan dari daerah lain  di Sulawesi Selatan.

Tetapi, ketika daerah lain di Sulsel juga kesulitan, pembuat perahu mendatangkan dari Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Maluku, Maluku Utara dan Papua. Tetapi ketergantungan ke daerah lain, tidak akan menjamin pasokan Kayu Bitti bisa berlanjut.

Sebagai produk kebudayaan dari peradaban bahari Bugis, JURnaL Celebes mengharapkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan perlu memikirkan keberlanjutan perahu pinisi berbahan baku kayu.

‘’Jangan sampai suatu ketika, pinisi terpaksa dibuat dari fiber glass. Lalu apa perbedaannya dengan industri kapal fiber tersebar di seluruh dunia. Pinisi menjadi produk kultural bernilai tinggi, tersohor di dunia bahari, menjelajahi berbagai samudera, dengan teknologi tradisional berbasis kearifan lokal, sebelum kapal modern didukung teknologi canggih,’’ ungkap Mustam.

JURnaL Celebes mengharapkan Pemerintah Sulawesi Selatan mengambil langkah untuk keberlanjutan industri perahu pinisi. Industri pinisi tidak boleh tergantung pada ketersediaan Kayu Bitti di hutan alam yang akan habis.

Perlu upaya budidaya, tetapi tantangannya bukan hanya lahan atau teknologi budidaya, tetapi perkembangan kayu jenis ini yang membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 40 tahun untuk mencapai ukuran dan kualitas terbaik untuk pembuatan pinisi.

JURnaL Celebes mengusulkan salah satu cara dengan mengembangkan program konservasi berbasis Kayu Bitti yang bermanfaat ganda, untuk keberlanjutan industri pinisi sekaligus berfungsi ekologis. Pengembangan melalui budidaya silvikultur untuk menjamin proses secara ekonomi dan ekologi.

KLIK INI:  Kayu Merah yang Terancam Punah, Ini 6 Fakta Menarik di Baliknya!