Paropo 3S, Merekam Perubahan Kota Makassar Melalui Animasi

oleh -153 kali dilihat
Paropo 3S, Merekam Perubahan Kota Makassar Melalui Animasi
Perubahan kota Makassar dalam animasi - Foto/tanahindie
Azwar Radhif

Klikhijau.com – Bagaimanakah cara merekam perubahan kota selama kurun waktu setengah abad terakhir? Apakah mungkin perubahan bentuk kota selama 50 tahun dapat diabadikan dalam karya visual?

Pertanyaan ini menjadi tantangan tersendiri bagi tanahindie, komunitas pegiat ‘masyarakat kota’ yang pada 2017 lalu merilis video animasi singkat berjudul Paropo 3S.

Animasi ini bercerita tentang perubahan ekologis kota yang terjadi di kampung Paropo, sebuah perkampungan yang terletak di Kecamatan Panakkukang Makassar.

Sepanjang durasi 4 menit rekaman video, Tanahindie mencoba menggambarkan kepada publik bagaimana proses perkembangan suatu kampung di pinggiran kota selama kurun 60 tahun terakhir (1950-2016) melalui teknik selancar-salin-susun (3S).

Teknik 3S ini dimaknai dengan pendekatan mengambil data melalui wawancara kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kampung.

Berbeda dengan penelitian lainnya, tim tanahindie mencoba menggali informasi kepada masyarakat dengan cara mengajak warga mengenang perubahan kampung yang mereka alami sepanjang 66 tahun terakhir.

KLIK INI:  Prolog Fest, Festival Musik Pertama di Kota Daeng Semenjak Pandemi Covid-19

Anwar Djimpe Rahman selaku kurator dari animasi paropo 3S kala ditemui di kediaman sekaligus kantornya di kampung buku menjelaskan, “Paropo 3S itu hasil riset yang dipadatkan dengan cara menyuruh warga di Paropo mengingat selama 60 tahun bagaimana perkembangannya. Kita padatkan jadi 4 menit dan itu dilakukan dengan bermain-main, tidak serius amat,” tutur Djimpe.

Djimpe menceritakan kalau mulanya riset ini ditujukan untuk pembuatan buku yang berjudul ‘halaman rumah/yard’. Namun, dirinya menyadari bahwa data riset ini bisa dibuat dalam bentuk visual.

Selama proses pembuatan animasi, banyak pihak yang terlibat secara langsung, baik dari kalangan akademisi hingga seniman turut andil dalam pembuatan animasi ini.

Baginya, melacak perubahan tata kota selama kurun beberapa puluh tahun menjadi hal penting untuk dijadikan sebagai arsip. Arsip ini nantinya bakal diberikan kepada publik sebagai pengetahuan terkait ini. Karya animasi Paropo 3S ini dapat dinikmati di chanel youtube tanahindie.

KLIK INI:  Mengapa Tumbuhan Harus Beradaptasi dengan Lingkungannya?
Membayangkan perubahan kampung

Dalam animasi Paropo 3S, penonton sekaligus pendengar akan diajak bertamasya masa lampau dengan menyaksikan langsung penggambaran perubahan lingkungan kota, dari yang sebelumnya hanya sepetak tanah lapang, persawahan dan rawa-rawa pinggir sungai, kemudian bertransformasi menjadi perumahan dan kampung padat penduduk.

Video animasi juga merekam beberapa peristiwa pembangunan objek vital yang dilaksanakan di sekitar kampung paropo, yang kemudian menjadi muasal dari kepadatan pemukiman penduduk, salah duanya adalah pembangunan kanal dan jalan raya Batua.

Selama rentang tahun 1975 hingga 1986, proses pembangunan kanal dan jalan raya ini mulai dikembangkan. Sejak itu pula telah berdiri beberapa pemukiman penduduk di pinggiran jalan poros dan sepanjang kanal.

Masuknya beberapa perusahaan pengembang perumahan pada bagian dalam kampung telah mengikis sedikit demi sedikit rawa-rawa yang berada di pinggiran kanal Anggrek, Toddopuli.

Dalam rekaman tersebut juga menunjukkan adanya aktivitas nelayan di bagian kanal anggrek, sebelum pembangunan jalan kanal.

KLIK INI:  TPA Antang Terbakar Lagi, Apa Karena Masih Open Dumping?

Kepadatan penduduk kampung kian memuncak tatkala jalan-jalan kecil yang menghubungkan jalan poros dengan kampung mulai dibangun.

Hadirnya Jalan kampung begitu memudahkan arus transportasi pendiuduk yang kala itu kian bertambah.

Puncaknya kala memasuki abad ke-21. Sejak tahun 2000, nyaris tak ada lagi lahan kosong yang tak dibanguni pemukiman. Letak kampung Paropo yang strategis berada di jantung kota menjadikannya sebagai pilihan bagi masyarakat.

Terlebih lagi, Paropo sebagai kampung yang baru muncul dan berkembang pasca modernisasi dan urbanisasi kota mungkin saja menawarkan harga tanah yang terjangkau bagi calon penduduknya, sehingga mendorong kepadatan.

Kini, jalan poros Batua kerap kali diihindari pengendara motor kala sore hari atau menjelang magrib. Kemacetan sepanjang jalan poros kian menyulitkan arus transportasi masyarakat setempat.

Banyaknya volume kendaraan yang melintasi jalan Batua Raya yang begitu sempit selalu menjadi masalah. Karena itu, banyak yang memilih untuk melintasi jalan pinggiran kanal, sebagai jalan alternatif bagi kendaraan roda dua.

Kampung Paropo hingga hari ini nampaknya masih akan terus mengalami perubahan ruang. Kepadatan penduduk Kota yang diselingi kebutuhan akan tanah dan tempat tinggal menjadikan kota akan senantiasa berubah, mengonversi tanah dan lahan hijau menjadi bangunan berpetak yang dihuni manusia.

KLIK INI:  Berlabuh di Makassar, Kapal Arka Kinari Membawa Pesan tentang Alam, Laut dan Iklim