Paradigma Keberlanjutan di Mata Para Pengusaha Muda ASEAN

oleh -37 kali dilihat
Paradigma Keberlanjutan di Mata Para Pengusaha Muda ASEAN
Ilustrasi - Foto/OCG Saving The Ocean on Unsplash

Klikhijau.com – Paradigma keberlanjutan (sustainability) semakin menarik di tengah pandemi Covid-19 dan isu perubahan iklim.

Dalam konteks yang lebih luas, isu keberlanjutan menyasar pada praktik bisnis dan keuangan. Menariknya, wacana ini justru dihembuskan oleh para pengusaha muda termasuk pebisnis muda di kawasan ASEAN.

Mereka menyadari betapa pentingnya menjalankan atau merencanakan perusahaan yang sekaligus dapat mencegah dampak krisis iklim.

Pandangan para pebisnis muda itu tersampaikan dalam Webinar yang digelar Global Reporting Initiative ASEAN bertajuk “The GRI-SM ASEAN Sustainability E-Summit”, Kamis (21/10/2021) lalu.

Forum tersebut dihelat untuk membawa negara-negara kawasan ASEAN menjadi komunitas keberlanjutan yang aktif terlibat mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dicanangkan PBB.

Pembicara muda perwakilan dari Thailand yang hadir pada forum ini yakni Somsak Boonkam, pendiri dan CEO, Local Alike, bisnis turisme dengan local wisdom yang menerapkan aspek keberlanjutan.

Hadir pula perwakilan dari sektor finansial, yaitu Mariana Beatriz Zobel De Ayala, Direktur Utama Bank of The Philippine Islands.

Sementara Indonesia diwakili oleh Emmeline Hambali, Direktur Utama Dynapack Asia yang juga bergerak dalam konsep ekonomi sirkular. Lalu, ada Mara SY Coson, Group Sustainability Adviser, SM Investment, dan juga Direktur Utama Marketing dan Strategi Digital SM Retail, perusahaan yang berbasis di Filipina.

Para pelaku bisnis ini memberi pandangan dan pengalaman menarik perihal praktik bisnis yang mereka geluti dengan paradigma keberlanjutan.

KLIK INI:  Kisah Walker, Bocah 11 Tahun yang Berjalan Demi Selamatkan Bumi
keberlanjutan muda
Para pembicara dalam Webinar yang digelar Global Reporting Initiative ASEAN bertajuk “The GRI-SM ASEAN Sustainability E-Summit”, Kamis (21/10/2021) lalu – Foto/Majalahcsr
Paradigma keberlanjutan di mata mereka

Penjelasan menarik mengenai keberlanjutan diterangkan oleh Somsak Boonkam. Menurut Somsak, terdapat perbedaan jenis keberlanjutan di pelosok wisata Thailand.

Menurutnya, setiap warga perkampungan yang berbeda memiliki pengertian yang berbeda pula terhadap keberlanjutan. Ia mencontohkan, di satu wilayah keberlanjutan diartikan sebagai upaya kerja keras agar mereka tetap hidup tanpa tergantung pada orang lain.

“Selama sepuluh tahun saya berkecimpung dalam bisnis, setiap orang punya definisi masing-masing soal isu ’sustainability’ dan saya harus menghormati hal itu,” jelas Somsak.

Sementara itu Emmeline Hambali, Direktur Utama Dynapack Asia mengatakan, keberlanjutan tidak hanya menyangkut kemasan, plastik, transportasi, melainkan juga gaya hidup sehingga benar-benar hasilnya akan terasa pada bumi.

Cara pandang menarik juga disampaikan Cherie Atilano. Menurut Cherie keberlanjutan merupakan konsep kesejahteraan antar generasi.

“Terutama yang menyangkut sektor pertanian, bagaimana kami berupaya mencari cara untuk mencukupi kebutuhan pangan  saat ini dan generasi masa mendatang,” ungkapnya.

KLIK INI:  Kerap Tersangkut Konflik Lahan, Perlindungan HAM bagi Petani Masih Terabaikan

Di sektor finansial juga krusial dalam isu keberlanjutan. Mariana Zobel, Direktur Utama Bank of The Philippine Islands mengatakan, keberlanjutan merupakan pola pikir dan bahkan pengertiannya lebih dari sekedar menyangkut perusahaan, pemangku kepentingan, bahkan definisinya sendiri.

“Tanggung jawab (terhadap keberlanjutan) sangat meluas, mulai dari konsumen, supplier, partner, masyarakat, lingkungan yang lebih luas,” katanya.

Sementara itu, Mara SY Coson, Group Sustainability Adviser dan juga Direktur Utama Marketing dan Strategi Digital SM Retail, perusahaan yang berbasis di Filipina menyebut keberlanjutan sebagai skill atau kemampuan.

“Bagaimana kita bersinergi bisa merealisasikan pilar-pilar keberlanjutan, bagaimana memberikan dampak positif dalam waktu yang terus menerus,” katanya.

KLIK INI:  Deh, Puntung Rokok Ternyata Lebih Merusak Lingkungan Daripada Sedotan Plastik
Praktik keberlanjutan dalam bisnis

Selain menerangkan mengenai paradigma keberlanjutan, para pengusaha muda ASEAN ini juga menyampaikan pengalaman mereka menerapkannya dalam bisnis.

Emmeline Hambali misalnya bercerita bagaimana bisnisnya saat ini adalah bagaimana mereka mengelola kemasan pasca konsumsi.

“Kami juga memiliki isu soal pengumpulan limbah plastik yang dirasa tidak mudah termasuk  teknologinya yang demikian kompleks,” ungkap Emmeline.

Bekerja sama dengan Coca Cola Europacific Partners, Dynapack lanjut Emmeline, membangun pabrik pengolahan daur ulang limbah plastik di Indonesia.

“Pabrik ini akan menjadi bagian dari bisnis pada April 2022, dan ini merupakan salah satu proyek besar kami (dalam soal bisnis berkelanjutan),” katanya.

Perusahaannya juga terus mengampanyekan prinsip keberlanjutan terkait kemasan yaitu, reduce, reuse, recycle, dan replace terkait kemasan.

KLIK INI:  Semesta, Film Tentang Alam Mulai Tayang Hari Ini

“Beruntungnya kami memiliki pemilik saham yang sangat mendukung upaya kami tersebut. Bekerja sama dengan Coca Cola merupakan perjalanan yang menyenangkan karena mencoba menyelesaikan permasalahan dengan solusi bersama termasuk terus mengampanyekan mengelola limbah pada masyarakat dengan memberikan fasilitas lokasi dan wadah pembuangan limbah plastik,” imbuhnya.

Di bidang pertanian, Cherrie punya cerita menarik dalam menerapkan sustainability di sektor agribisnis.

Cherie bahkan telah menerapkan konsep ESG (Environmental, Social, Governance) dalam rantai pasok.  Baginya, keberlanjutan adalah soal mengubah definisi dan persepsi, bahwa pertanian tak melulu sekedar produksi, melainkan bagaimana makanan bisa sampai di atas meja makan konsumen.

Wanita muda asal Filipina ini mengisahkan, bagaimana perusahannyatelah menggunakan tenaga matahari untuk menghidupkan pompa air untuk mengairi pertanian.

Selain itu, pihaknya juga melakukan studi teknologi benih demi menghadapi ancaman gagal panen akibat bencana alam, gangguan hama, dan perubahan iklim termasuk cara pertanian tumpang sari modern.

Dalam penanganan limbah pangan, pihaknya juga telah mengembangkan teknologi kompos di Filipina.

KLIK INI:  Aktivis Iklim Berusia 16 Tahun Ini Terima Hadiah Nobel Alternatif

“Terakhir, kami mengembangkan pertanian yang mengacu pada entrepreneurship, sehingga pertanian sebagai bisnis yang bertata kelola baik, berkembang dengan semestinya sehingga tak lagi berkonotasi sebagai profesi marjinal,” jelasnya.

Pengalaman Somsak tak kalah menariknya, dimana pihaknya mengembangkan wisata berkelanjutan dengan melibatkan perkampungan tertentu.

“Kami mengembangkan warga kampung untuk bisa mengelola wisata daerahnya secara mandiri. Setelah itu kami mengajak bekerja sama untuk menjual produk jasa dan barang mereka ke market place yang kami miliki,” kata Somsak.

Local Alike yang dipimpin Somsak juga memberi training manajemen teknologi sederhana pada warga untuk memperluas jangkauan mereka pada wisatawan potensial.

Untuk menunjang kesejahteraan warga, perusahaan Somsak juga menyisihkan keuntungan hingga 10 persen dan juga membangun tata kelola dana sehingga dengannya warga bisa membangun infrastruktur penunjang wisata di wilayahnya secara mandiri.

Pengalaman menarik juga dijelaskan Mara SY Coson, Direktur Utama Marketing dan Strategi Digital SM Retail, perusahaan yang berbasis di Filipina.

Menurut Mara, anak perusahaannya sudah punya kebijakan khusus terkait keberlanjutan.

“Sebagai contoh di bagian kain linen, kami hanya menerima kain linen yang berkualitas yang lebih hijau dan bebas plastik,” cetusnya.

Menurut Mara, penyuplai kain linen di wilayahnya adalah pabrik-pabrik kecil yang menyebabkan kualitas kainnya tak merata.

“Kami mendorong dan membantu mereka untuk memilki sertifikasi produk, sehingga kualitasnya terstandardisasi lalu produknya dipromosikan di toko sebagai kain ramah lingkungan,” terangnya.

KLIK INI:  Viral, Cerita Pendaki Perempuan Disetubuhi Karena Hipotermia, Basarnas: Itu Sesat!