Paparan PFAS Dapat Menyebabkan Wanita Berhenti Menyusui Lebih Dini

oleh -14 kali dilihat
Ibu yang Menyusui Bisa Atasi Perubahan Iklim, Benarkah?
Ilustrasi ibu menyusui/foto-Fajar

Klikhijau.com – Paparan zat perfluoroalkyl dan polyfluoroalkyl (PFAS) rupanya cukup berbahaya. Sebuah studi yang  yang dipublikasikan oleh Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism dari Masyarakat  Endokrin mengungkapkan hal itu.

Studi tersebut telah menemukan bahan kimia berbahaya dapat menyebabkan wanita berhenti menyusui sebelum waktunya atau lebih dini.

Wanita dengan tingkat paparn PFAS yang lebih tinggi. akan sangat berpengaruh pada masa menyusui. Diperkirakan  sekitar 20% lebih  aka  berhenti menyusui lebih awal. ari Masyarakat  Endokrin .

PFAS adalah bahan kimia buatan. Zat ini  digunakan sebagai penolak minyak dan air serta pelapis untuk produk umum, seperti peralatan masak, karpet, dan tekstil, bahkan pada kosmetik.

KLIK INI:  Menyorot Peran Senapan Angin sebagi “Malaikat Maut” bagi Satwa

Bahan kimia pengganggu endokrin ini tidak terurai saat dilepaskan ke lingkungan. Ia terus menumpuk menjadi “bom waktu” dari hari ke hari.

Meskipun umum di bidang manufaktur, PFAS berbahaya bagi tubuh manusia. karena terpapar zat PFAS  berbahaya bagi kesehatan. Karena bahan kimia PFAS dapat memengaruhi hasil kehamilan, waktu pubertas, dan aspek kesehatan reproduksi lainnya.

Menyusui sangat penting

Clara Amalie Gade Timmermann yang merupakan penulis pertama studi tersebut mengatakan bahwa temuan tersebut memiliki arti yang penting. Hal itu disebabkan karena hampir setiap manusia di planet ini terpapar PFAS.

“Bahan kimia buatan manusia ini terakumulasi dalam tubuh kita dan memiliki efek merugikan pada kesehatan reproduksi,” ungkap profesor dari University of Southern Denmark di Kopenhagen itu.

Timmermann  juga menyampaikan bahwa penyapihan dini tidak diinginkan secara tradisional. Hal itt dikaitkan dengan faktor psikologis. Faktor itu tidak diragukan lagi pentingnya.

KLIK INI:  Selamat Hari Mangrove Sedunia, Ini Fakta Menarik tentang Mangrove!

“Tetapi semoga penelitian kami akan membantu mengalihkan fokus dan menyoroti bahwa tidak semua ibu dapat menyusui. Meskipun ada niat baik dan dukungan dari keluarga dan profesional kesehatan,” ujar Timmermann

Para peneliti menganalisis sampel darah untuk PFAS dan konsentrasi prolaktin dari 1.286 wanita hamil dari Odense Child Cohort.

Para wanita hamil tersebut memberikan informasi tentang durasi menyusui dalam pesan teks mingguan atau kuesioner pada tiga dan delapan belas bulan pascapersalinan.

Timmermann mengungkapkan pula bahwa  menyusui sangat penting untuk meningkatkan kesehatan anak dan ibu.

Menurutnya efek PFAS telah merugikan wanita dalam kemampuan menyusui dan sangat mungkin memiliki konsekuensi kesehatan jangka panjang.

KLIK INI:  SD Inp Unggulan BTN Pemda Lakukan Penguatan Lingkungan Hidup