Paku Sarang Burung, Tanaman Hias Berdaun Panjang yang Merumah di Hati

oleh -11.226 kali dilihat
Paku Sarang Burung, Tanaman Hias Berdaun Panjang yang Merumah di Hati
Paku Sarang Burung - Foto/Pixabay

Klikhijau.com – Paku sarang burung (Asplenium nidus, syn.: A. ficifolium Goldm., Thamnopteris nidus (L.) C. Presl., Neottopteris rigida Feé) merupakan jenis tumbuhan paku populer sebagai tanaman hias.

Penyebaran alaminya adalah di sabuk tropis Dunia Lama (Afrika Timur, India tropis, Indocina, Malesia, hingga pulau-pulau di Samudera Pasifik.

Dalam beberapa tulisan, disebutkan bahwa paku sarang burung disamakan dengan A. nidus, tetapi ada juga yang menyebut paku sarang burung mencakup beberapa jenis berkerabat dekat namun berbeda.  A. australasiaticum juga sering dianggap sebagai paku sarang burung.

Dikenal dengan sebutan Bird Nest Fern (internasional), Paku Sarang Burung (Indonesia), Kadaka (Sunda), Kedakah atau Simbar Merah (Jawa), Lokot (Kalimantan), Tato Hukung (Maluku), Bunga Minta Doa (Makassar/Bugis). Di Hong Kong, jenis ini dilindungi oleh undang-undang.

KLIK INI:  7 Jenis Tanaman untuk Terarium, Tren Memelihara Tanaman Hias Masa Kini
Klasifikasi Paku Sarang Burung

Adapun klasifikasi paku sarang burung sebagai berikut:

Kerajaan              : Plantae

Divisi                     : Pteridophyta

Kelas                     : Polypodiopsida

Ordo                     : Polypodiales

Famili                   : Aspleniaceae

Genus                   : Asplenium

Spesies                 : Asplenium nidus L.

Morfologi Paku Sarang Burung

Paku ini mudah dikenal karena tajuknya yang besar, entalnya dapat mencapai panjang 150 cm dan lebar 20 cm, menyerupai daun pisang.

Peruratan daun menyirip tunggal. Warna helai daun hijau cerah, namun jika kena cahaya matahari langsung, berangsur-angsur daunnya akan menguning.

KLIK INI:  Berkenalan dengan Bunga Oxalis, Tanaman Cinta yang Mudah Dirawat

Spora terletak di sisi bawah helai, pada urat-urat daun, dengan sori tertutup semacam kantung memanjang (biasanya terdapat pada Aspleniaceae).

Ental-ental yang mengering akan membentuk semacam “sarang” yang menumpang pada cabang-cabang pohon. “Sarang” ini bersifat menyimpan air dan dapat ditumbuhi tumbuhan epifit lainnya.

Paku ini kebanyakan epifit, namun sebetulnya dapat tumbuh di mana saja asalkan terdapat bahan organik yang menyediakan hara. Karena merupakan tumbuhan bawah tajuk, ia menyukai naungan.

Daun tunggal tersusun pada batang sangat pendek melingkar membentuk keranjang. Daun yang kecil berukuran panjang 7 -150 cm, lebar 3 – 30 cm. perlahan-lahan menyempit sampai bagian ujung.

Ujung meruncing atau membulat, tepi rata dengan permukaan yang berombak dan mengkila.

Daun bagian bawah warnanya lebih pucat dengan garis-garis coklat sepanjang anak tulang, daun bentuk lanset, tersusun melingkar, ujung meruncing, warna daun bagian atas hijau terang, bagian bawah hijau pucat. Peruratan daun menyirip tunggal.

KLIK INI:  7 Tanaman Hias dengan Fungsi Herbal dan Cara Meramunya!

Warna helai daun hijau cerah, dan menguning bila terkena cahaya matahari langsung.

Tangkai daun kokoh, hitam, panjang sekitar 5 cm. Tulang daun menonjol di permukaan atas daun, biasanya hampir rata ke bawah, berwarna coklat tua pada daun tua.

Urat daun bercabang tunggal, kadang bercabang dua, cabang pertama dekat bagian tengah sampai ±0, 5 mm dari tepi daun. Tekstur daun seperti kertas.

Paku epifit dengan akar rimpang kokoh, tegak, bagian ujung mendukung daun-daun yang tersusun roset, di bagian bawahnya terdapat kumpulan akar yang besar dan rambut berwarna coklat, bagian ujung ditutupi sisik-sisik sepanjang sampai 2 cm, berwarna coklat hitam.

Tanaman ini berizhome yang pendek, tertutup oleh sisik, berwarna coklat yang halus dan lebat.

KLIK INI:  Bromelia, Tanaman Hias Sederhana dan Fakta Menarik Tentangnya

Sorus terletak di permukaan bawah daun, tersusun mengikuti venasi atau tulang daun, bentuk garis, warna coklat tua.

Sori sempit, terdapat di atas tiap urat daun dan cabang-cabangnya mulai dari dekat bagian tengah daun sampai bagian tepi, hanya sampai bagian tengah lebar daun. dengan sori tertutup semacam kantung memanjang (biasa pada Aspleniaceae).

Sorus berbentuk garis, tersusun rapat di permukaan bawah daun fertil dekat ibu tulang daun, berwarna coklat. Spora terletak di sisi bawah helai, pada urat-urat daun, entalnya dapat mencapai panjang 150cm dan lebar 20cm, menyerupai daun pisang.

Ental-ental yang mengering akan membentuk semacam “sarang” yang menumpang pada cabang-cabang pohon. “Sarang” ini bersifat menyimpan air dan dapat ditumbuhi tumbuhan epifit lainnya.

Ellwood, Jones dan Fostern (2002) menyatakan ada sekitar 41.000 mirkoorganisme dalam sistem perakaran Asplenium nidus dengan diameter akar berbeda-beda.

Mardiya (2012) menambahkan Asplenium nidus dan Asplenium phlytidis sebagai jenis paku yang banyak ditemukannya koloni-koloni semut.

KLIK INI:  Bunga Pagoda, Si Liar yang Lihai Menggoda
Siklus Hidup
Fase Spora

Spora merupakan perkembangbiakan generatif dari pertemuan antara gamet jantan (anterozoid) dengan gamet betina (sel telur) dengan bantuan air.

Fase Gametofit (gametophyte)

Spora yang jatuh di tempat yang tepat akan tumbuh menjadi individu baru yang disebut protalus (prothallus) atau protalium (prothallium) berupa lembaran-lembaran seperti daun yang berwarna hijau.

Wujudnya mirip lumut hati, tidak berakar (tetapi memiliki akar semu (rizoid/rhizome), tidak berbatang, dan juga tak berdaun.

Pada fase ini sudah terbentuk anteridium (antheridium atau organ penghasil sel kelamin jantan/spermatozoid) dan arkegonium (archegonium atau organ penghasil sel telur/ovum). Ukuran keduanya sangat kecil sekali yang tidak mudah dilihat dengan mata telanjang bersifat mikroskopik.

KLIK INI:  Jenis Puring yang Mudah Tumbuh, Murah Meriah, Menawan dan Kaya Manfaat
Manfaat

Sayangnya, belum begitu banyak penelitian yang secara spesifik meneliti kandungan tumbuhan ini, terutama di Indonesia.

Namun, berdasarkan empiris, Paku sarang burung ini adalah jenis paku yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.

Manfaat paku sarang burung antara lain sebagai obat penyubur rambut (Boon, 1999), demam, sakit kepala (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 2000), kontrasepsi, gigitan atau sengatan hewan berbisa (Baltrushes, 2006).

Daunnya ditumbuk dan dicampur dengan parutan kelapa kemudian dioleskan pada rambut (Boon, 1999). Pun, sebagai anti radang dan pelancar peredaran darah. Rahajoe (2004) menyatakan Asplenium nidus juga dapat dijadikan sebagai komoditas perdagangan internasional.

Cara memanfaatkan daun paku sarang burung untuk obat bengkak adalah daun paku sarang burung segar sebanyak segar sebanyak 15 gram, dicuci, ditumbuk halus dan ditambah sedikit anggur kemudian diborehkan ke bagian yang sakit.

Sedangkan untuk luka memar, daun paku sarang burung segar sebanyak 15 gram dicuci dan direbus dengan 200 mil air sanipai mendidih selama 15 menit, dinginkan dan saring.

Hasil saringan diminum sekaligus dan lakukan pengobatan sebanyak 2 kali sehari, pagi dan sore.

Selain sebagai tanaman hias yang sederhana, paku sarang burung juga kaya manfaat. Wajar saja bila tanaman ini merumah di hati banyak penggemarnya. Semoga bermanfaat.

KLIK INI:  Macam-Macam Bunga yang Tahan di Segala Cuaca, Cocok di Halaman Rumah