Pakoba, Kayu Endemik Sulawesi Utara yang Kaya Manfaat

oleh -41 kali dilihat
Pakoba, Kayu Endemik Sulawesi Utara yang Kaya Manfaat
Seorang ASN dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado memperlihatkan Pohon Pakoba yang dipercaya bermanfaat untuk imunitas - Foto/Tribunnews.manado

Klikhijau.com – Pakoba (Syzygium luzonense Merr.) merupakan satu jenis kayu khas dan endemik Sulawesi Utara.

Kayu ini sempat populer di medio 2020 lalu setelah Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado memperkenalkannya sebagai tanaman kaya manfaat yang juga dipercaya dapat menaikkan imunitas di masa pandemi Covid-19.

Dari beberapa sumber terpercaya disebutkan bahwa informasi dan data ilmiah secara mendalam mengenai Pakoba masih sangat minim. Nama kayu Pakoba sendiri tidaklah familiar padahal kayu satu ini sudah terancam punah dan sejatinya penting dilestarikan.

Kayu Pakoba sendiri banyak dimanfaatkan masyarakat di Sulawesi Utara untuk bahan pertukangan seperti balok, kusen dan papan. Kayu ini juga banyak dipakai dalam pembuatan perahu.

Adapun bagian perahu yang banyak menggunakan kayu Pakoba antara lain lantai, dinding, jendela, pintu, dayung dan penyeimbang perahu. Masyarakat di Sulawesi Utara umumnya meyakini bahwa kayu Pakoba memiliki daya tahan tinggi terhadap daya rusak garam air laut.

Perahu dengan bahan kayu endemik ini diprediksi dapat awet hingga lebih dari sepuluh tahun. Masyarakat pesisir di Sulawesi Utara kerap menyebutnya sebagai kayu yang bersifat asam.

Tak hanya itu, untuk penggunaan sebagai bahan rumah, kayu endemik ini dapat bertahan hingga tiga puluh tahun. Pakoba dikenal sangat tahan terhadap serangga hama bubut kayu dan juga tahan terhadap serangan rayap tanah.

KLIK INI:  Ancaman Pengakuan Negara Tetangga Mengintai Puluhan Ribu Tanaman Obat Indonesia

Menurut Dumanauw (2001) berdasarkan nilai berat jenis kering udara, kayu Pakoba dapat diklasifikasikan ke dalam kayu kelas agak berat (B) antara 0,60 – 0,75. Sementara bila kayu ini diklasifikasikan berdasar kelas kuat kayu Indonesia oleh Den Berger (1923), jenis ini tergolong kayu kelas III (BJ antara 0,40 – 0,60).

Penelitian yang dilakukan Lis Nurrani dan Supratman Tabba (2012) dari Balai Penelitian Kehutanan Manado, kayu endemik ini juga kerap dipakai untuk peralatan kerja pertanian seperti cangkul, kapak hingga peralatan rumah tangga seperti sendok, talenan dan lainnya.

Manfaat lainnya

Selain manfaat di atas, Pakoba juga diketahui memiliki manfaat untuk pengobatan. Penelitian Lis Nurrani dan Supratman Tabba menyebut bahwa masyarakat di Minahasa telah lama memanfaatkan kayu ini sebagai ramuan obat tradisional turun-temurun.

Hasil konfirmasi dari sejumlah warga di Sulawesi Utara disebutkan bahwa kulit kayu Pakoba banyak dipakai sebagai campuran ramuan obat untuk wanita yang baru melahirkan.

KLIK INI:  Perihal Buaya Fidel Castro yang Menggigit Lelaki Tua

Tak hanya itu, kulit kayu endemik ini juga banyak dipakai dalam pengobatan penyakit gula atau diabetes. Masyarakat di Sulawesi Utara meraciknya sederhana yakni dengan mengambil kulit batangnya kemudian direbus dan diminum.

Sejumlah penelitian juga menyebutkan bahwa kulit kayu ini mengandung senyawa alkaloid, flavonoid dan tannin. Senyawa ini berpotensi sebagai bahan baku biofarmaka khususnya untuk penurunan gula darah (Nurrani et.al, 2012).

Nah, menariknya tanaman ini dapat menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi langsung. Juga dapat diolah sebagai bahan kue dodol, manisan dan makanan olahan lainnya.

Pakoba juga diyakini memiliki aktivitas sebagai antioksidan yang dapat digunakan sebagai anti kanker. Analisis terbaru pada 2020 lalu oleh GCMS disebutkan bahwa buah dari tanaman ini mengandung asam palmitat, oleat dan asam lenoleat serta kaya vitamin C yang sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Saat ini dikembangkan inovasi pembuatan teh pakoba sebagai minuman herbal yang kaya manfaat. BP2LHK Manado telah melakukan penelitian mengenai kandungan dari tanaman endemik ini sejak tahun 2015 dan menyarankan agar tetap dilestarikan.

Demikian perkenalan mengenai pohon khas Sulawesi Utara satu ini, semoga bermanfaat!

KLIK INI:  Lagi, Penyu Mati karena Sampah Plastik dan Limbah di Bengkulu