Pada Lorong di Kotamu

oleh -23 kali dilihat
Pada Lorong di Kotamu
Ilustrasi-foto/wallpaperbetter.com
Irhyl R Makkatutu

Pada Lorong di Kotamu

 

aku jadi lupa lorong-lorong di kotamu
lupa berapa detik lampu merah akan berubah hijau

aku telah berubah asing
pada kamu
pada diri sendiri
pada tiada yang terus tiada

di kepalaku, hanya tertinggal pohon kopi
hanya bersetia pada pohon cengkih
rerumputan dan belalang yang semakin langka
dan bukit kecil di seberang jalan

kadang kubayangkan rumahmu
telah berubah warna catnya
dari cokelat tua ke hijau muda

dan selokan depan rumahmu tak lagi berwarna pekat
tapi bening, di mana tende bisa bermain petak umpat
dengan telapak tangan yang hendak menangkapnya

di sini, pada jauhku
ingatan akan lorong di kotamu memudar sirna

tapi peta yang pernah kugambar pada tubuhmu
dengan tinta dari larre’
masih terang siang

Juni, 2021

KLIK INI:  Pohon Kenangan Ibu
====

Segala Bisa Hanyut

 

begitu tiba di ujung tebing
kau berubah jadi anak kecil
girang, tak menyangka di sana
pada dasar jurang
sungai mengalir
menuju rumahmu

membawa segala yang bisa hanyut

Juni, 2021

====

Pada Awalnya Tiada

 

ketika kita berjalan ke tepi sungai
seekor katak melompat kaget
air memercik, tende berlarian

air terayun-ayun, tiada apa, tiada siapa terlihat

ketika kita diam, mengatur napas
air ikut diam
kita bercermin
tende terdiam

air itu kehidupan
dari sanalah kita bermula
air itu kematian
tempat segala bisa pulang

====

Kupikirkan Segala Kau

 

bagaimana pikiran berubah mata air si celah batu hidup
sedang aku hanya membayangkan
kau berubah anak kecil yang menangkap capung.

tapi capung semakin langka
dimamah pestisida
rerumputan tak dibiarkan biak
sebab rompo’ tanda kemalasan petani

dulu anak-anak suka main capung
saat pestisida belum
mudah ditemukan di kioskios pinggir jalan

Kindang, 2021

KLIK INI:  Suatu Pagi, Bumi Mati di Sebuah Kota
====

Kopi itu Perihal

 

ada segelas kopi pagi ini
di halaman rumah
di bawah pohon mangga
di sebuah bangku kayu

kendaraan riuh lalu lalang
berpindah ke kepala
jadi risau panjang
bergerak jauh ke nadinadi

segelas kopi pagi
pahit dan manis
terasa satu
terasa nyatu

kopi itu perihal
tak usaiusai

rumahkekasih, 22 Maret 2021

====

Hujan dan Ketakutan

 

gumuru masih bersetia
di timur pekat meraja
petanda hujan segera jadi resah

ayah tak lagi ke kebun
kopi telah memerah
menanti di petik
lalu di kirim ke kota
untuk diseruput mahasiswa dan pejabat
sambil main game

gumuru tetap datang
dibuntuti hujan
membawa gigil
dan resah akan banjir
da takut akan longsor

hujan simalakama
datang dibenci
alpa dirindu

Kindang, 2021

====

Tire Tumbuh di Kepala

 

ayah baru dari kebun
dari tas selempang terbuat dari karung
ia membawa tire baru menguncup

tak hendak ditanamnya
ingin dijualnya saja
demi gas dan gula-gula buat cucunya, katanya

cucu, permata rindu
ayah serupa temukan masa mudanya
ketika menimang anaknya endiri.
dulu sebelum uban menguncupi kepalanya

tire telah hijrah dari kebun ke kepala banyak orang
telah hijrah dari satu kebun ke kebun yang lain

ayah, selalu saja membawa pulang tire dari kebun
untuk esok yang panjang

Kindang, 8 Maret 2021

KLIK INI:  Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah