Otak Juga Butuh Dilatih Agar Diet Berhasil, Benarkah?

Publish by -22 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Otak juga Butuh Dilatih Agar Diet Berhasil, Benarkah?
Ilustrasi makan sayuran/Foto-suara.com

Klikhijau.com – Suatu waktu saat saya mengajak seorang teman ke sebuah tempat makan, ia menolak makan. Bukan karena kenyang, tapi ia sedang diet. Begitu katanya.

Seorang teman lain saat saya ajak makan, berkata “gagal diet lagi”. Kondisi teman saya yang gagal diet ini sering juga dikeluhkan banyak orang, terutama perempuan.

Meski sudah menahan hasrat untuk mengonsumsi makanan berkalori tinggi, tapi akhirnya mereka menyerah juga seperti teman yang tadi saya ceritakan.

Tapi ada kabar melegakan dari sebuah penelitian baru yang menemukan cara mengatasinya. Cukup mudah karena hanya dengan membiasakan diri untuk makan makanan sehat. Hanya itu.

KLIK INI:  Sering Luluran, Waspada Ini Dampak Buruknya!

Penelitian yang terbit di jurnal Nutrition and Diabetes ini dilakukan terhadap 13 peserta yang mengalami obesitas. Mereka kemudian dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.

Sebelumnya, peneliti juga telah melakukan pemindaian MRI pada peserta untuk merekam aktivitas otak saat merespons foto berbagai makanan.

Kelompok eksperimen diberi tugas melakukan diet dengan mengurangi asupan kalori sebesar 500 hingga 1.000 sehari. Mereka kemudian diberi menu yang sudah dikontrol oleh peneliti.

Jadi, mereka harus mengikuti diet tinggi serat dan protein untuk mencegah rasa lapar serta ngidam makanan.

Hasil penelitian

Enam bulan kemudian, peserta dalam kelompok eksperimen kehilangan rata-rata 6,5 kilogram. Sementara kelompok kontrol hanya kehilangan 1,8 kilogram.

Namun, yang menarik adalah bagaimana otak orang-orang dalam kelompok eksperimen mengubah reaksi mereka terhadap makanan. Hasil ini berkebalikan dari temuan MRI awal.

Peneliti melihat adanya sedikit aktivitas pada bagian otak yang mengatur sistem pemberian penghargaan (reward) saat mereka melihat makanan berkalori tinggi. Sebaliknya, aktivasi tampak lebih banyak ketika mereka melihat makanan sehat.

Sedangkan hasil pada kelompok kontrol tetap sama seperti saat MRI awal. Di mana aktivitas di pusat penghargaan tinggi ketika disodori makanan tidak sehat.

Menurut penulis senior Susan Roberts, direktur Department of Agriculture’s Energy Metabolism Laboratory AS, penelitian lanjutan masih harus dilakukan.

“Ada lebih banyak penelitian yang harus dilakukan di sini, yang melibatkan lebih banyak peserta, tindak lanjut jangka panjang, dan menyelidiki lebih banyak area otak,” tutur Susan Roberts.

Namun, penelitian ini tetap bisa berlaku. Hasilnya juga menunjukkan bagaimana program penurunan berat badan dapat mengubah makanan apa yang menarik bagi orang yang melakukannya.

KLIK INI:  Sesak Napas, Penyebab dan Cara Mengatasinya
Editor: Ian Konjo
Sumber: Suara.com

KLIK Pilihan!