Ngeri, Mobil Pengangkut Sampah Harus Antri Berjam-jam di TPA Tamangapa

oleh -70 kali dilihat
Ngeri, Mobil Pengangkut Sampah Harus Antri Berjam-jam di TPA Tamangapa
Situasi di TPA Tamangapa Kota Makasar, armada pengangkut sampah harus antri membuang sampahnya - Foto: Ist

Klikhijau.com – Antrian panjang mobil pengangkut sampah seolah jadi pemandangan hari-hari di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa Antang Kota Makassar.

Pantauan Klikhijau pada Jumat malam (04/3) sekira pukul 21.00 WITA, terlihat deretan mobil pengangkut sampah berjejer menyesaki jalan masuk TPA Tamangapa.

“Ini belum seberapa, biasa antri sampai ratusan meter,” kata seorang sopir armada pengakut sampah.

Mobil-mobil pengangkut sampah tersebut harus antri berjam-jam untuk mendapat giliran menumpahkan sampahnya. Sementara jalan masuk ke TPA terbilang sempit dan hanya muat dua kendaraan berjejer.

“Sudah biasa pak, kami harus antri di sini dari jam sembilan malam sampai jam satu tengah malam. Kalau mobil tangkasa (armada sampah yang tertutup) biasa antri sampai pagi pak,” kata seorang sopir lainnya.

Pengakuan beberapa sopir, pemandangan seperti ini sudah terjadi sejak Januari 2022 lalu. Para sopir mengeluhkan situasi demikian karena harus menunggu giliran untuk masuk menumpahkan sampahnya.

KLIK INI:  Mengintip Langkah KLHK Pulihkan Lingkungan di Lokasi IKN Baru

“Setiap hari sudah begini pak, pagi-pagi kita datangmi jam sembilan, beginiji juga pak,” kata seorang sopir.

Selain menguras tenaga, para sopir juga terganggu pikirannya karena harus menunggu lama.

Mereka berharap ada solusi dari pihak terkait agar sampah warga Kota Makassar yang dibuang ke TPA Antang tidak perlu menunggu lama.

Seperti diketahui, beberapa bulan terakhir sampah di Kota Makassar kadang menumpuk di pinggir jalan akibat keterlambatan penjemputan.

“Biasa kami yang dimarah-marahi pak karena terlambat jemput sampah. Padahal beginilah situasinya, harus antri setiap hari,” ungkap seorang sopir.

Ketika ditanya mengapa harus antri berjam-jam untuk membuang sampah di TPA, beberapa sopir pun bercerita soal kondisi TPA Tamangapa yang semakin menumpuk. Yah, sejauh ini TPA Tamangapa masih menggunakan sistem open dumping yakni sampah ditumpuk begitu saja.

“Sudah penuhmi sampah pak di dalam, jadi harus digali terus supaya ada tempat membuang lagi. Inimi yang memakan waktu lama pak,” tutur seorang sopir.

KLIK INI:  Lagi dan Lagi, illegal logging Kembali Terjadi

Ketika kami masuk lebih dalam ke area pembuangan sampah, beberapa sopir ternyata memberi keterangan berbeda. Mereka justru mengatakan kondisi ini biasa saja. Katanya lancar-lancar saja.

“Biasa memang macet dan antri, tapi kalau musim hujan. Kalau cuaca bagus lancarji,” terang seorang sopir lainnya.

Terkait kondisi armada pengankut sampah di TPA Tamangapa, Mashud Azikin (Inisiator komunitas Manggala Tanpa Sekat) menyayangkan kondisi tersebut. Menurutnya, pemerintah kota mestinya mencari solusi penanganan sampah agar tidak semua sampah harus terbuang ke TPA.

“Bank-bank sampah mestinya lebih diaktifkan. Masyarakat harus aktif memilah sampah. Pemerintah Kota mestinya harus punya komitmen politik yang kuat untuk menangani sampah secara serius,” katanya.

Menurut Azikin, bila sampah di masyarakat terpilah dan dikelola dengan baik, TPA tidak perlu terbebani seperti sekarang.

“Masalah sampah di Makassar sebenarnya sudah selesai kalau kita serius menanganinya. Komposisi sampah misalnya ada 65 persen organik bila diolah menjadi beberapa produk bernilai ekonomi, demikian pula yang anorganik ada 35 persenan yang bisa dijual. Ini sisa tata kelolanya dan bagaimana membangun partisipasi publik dalam bergerak bersama menangani sampah,” tuturnya.

Azikin bahkan menyarankan agar Pemerintah Kota membuka diri untuk melibatkan pihak swasta dalam penanganan sampah. Alasannya, potensi ekonomi sampah di Makassar sangatlah besar kalau dikelola dengan baik.

“Kalau perlu ke depan harus ada TPA yang dikelola swasta dimana sampah ditangani secara baik. Sifatnya bisa konsorsium dimana warga terlibat,” pungkasnya.

KLIK INI:  SMK Kehutanan Makassar Sebar Siswanya PKL di Sepuluh Provinsi