New Normal, TII: Pemerintah Perlu Mendorong Pemulihan Ekonomi Rumah Tangga

Publish by -33 kali dilihat
Penulis: Redaksi
New Normal, TII: Pemerintah Perlu Mendorong Pemulihan Ekonomi Rumah Tangga
Ilustrasi new normal - Foto/PikiranRakyat

Klikhijau.com – Memasuki fase new normal, pemerintah diminta mendorong pemulihan ekonomi rumah tangga yang terdampak langsung selama pandemi.

Terlebih di fase kenormalan baru ini semua orang dituntut untuk bisa beradaptasi. Hampir semua wilayah di Indonesia misalnya telah membuka berbagai sektor ekonomi dan aktivitas keseharian.

Banyak orang kembali bekerja setelah kurang lebih tiga bulan melakukan isolasi mandiri. Berbagai protokol kesehatan kemudian disosialisasikan pada sektor-sektor yang telah melakukan aktivitas kembali.

“Di era ‘new normal‘, pemerintah tentu membutuhkan terobosan baru untuk memulihkan dampak sosio-ekonomi COVID-19. Pemerintah bisa mengawali dengan melakukan evaluasi penerapan penanganan dampak sosio-ekonomi COVID-19 yang telah dilakukan sejauh ini,” tutur Nopitri Wahyuni, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute (TII) di Jakarta, 30 Juni 2020.

Menurut Nopitri, pemerintah harus bisa memastikan bahwa perlindungan sosial telah sampai kepada masyarakat yang terdampak.

KLIK INI:  Jarolli Tak Lagi Terbang Menuju Gunung Bawakareang

Nopitri pun menambahkan bahwa pemulihan dampak sosio-ekonomi tersebut harus meninjau kembali apakah jaring pengaman sosial yang telah diterapkan pada masa pembatasan sosial memang berjalan adaptif dengan situasi kerentanan yang muncul.

Pasalnya, banyak persoalan penerapan jaring pengaman sosial menemui berbagai ganjalan. Baik dari sisi fleksibilitas dan kapasitas pemerintah sebagai penyedia layanan maupun soal kemampuan realisasi anggaran maupun kesiapan pemerintah dalam penyaluran bantuan sosial di masa krisis.

Pada akhirnya, banyak kerentanan di rumah tangga tak terjawab dengan mekanisme jaring pengaman sosial yang ada.

“Di era ‘new normal’, kebijakan pemerintah, terutama jaring pengaman sosial, harus melihat berbagai tingkat kerentanan atau kebutuhan masyarakat selama pandemi terjadi,” tegas Nopitri.

KLIK INI:  Matang Pengalaman Selama 107 Tahun, FORDA Siap Hadapi New Normal

Menurutnya, berbagai dampak sosio-ekonomi yang muncul kepada berbagai kelompok masyarakat harus diimbangi dengan data. Seperti data mengenai gender, status sosio-ekonomi, tingkat disabilitas, area geografis maupun kebutuhan hidup di masa krisis,” papar Nopitri.

Poin penting yang harus diperhatikan dalam penerapan ‘new normal’ adalah giat pemerintah untuk mengadopsi kebijakan berbasis bukti dalam berbagai area, terutama perlindungan sosial.

Pemerintah harus melakukan konsultasi dan komunikasi yang intens untuk memastikan bahwa terobosan kebijakan untuk memulihkan dampak sosio-ekonomi memang relevan untuk konteks masyarakat Indonesia.

Termasuk mendorong penerapannya, baik di area perdesaan maupun perkotaan secara geografis maupun pada sektor informal maupun formal pada sisi sektor ketenagakerjaan.

KLIK INI:  Hari Tanpa Tembakau Sedunia, New Normal dan Polusi Udara

“’New normal’ berarti memastikan bahwa respons-respons kebijakan yang ada semakin kendur. Tetapi pemerintah justru harus memiliki respons pemulihan dampak sosio-ekonomi yang kontekstual dengan kebutuhan masyarakat terdampak,” tutup Nopitri.

Adaptasi di era new normal

Lalu, bagaimana pola hidup untuk adaptasi ke new normal. Melansir Katadata, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dan dijalankan secara konsisten memasuki new normal, berikut penjelasannya:

#Memakai masker

Masker adalah benda wajib Setiap keluar rumah, setiap orang wajib memakai masker. Cara ini bukan hanya untuk melindungi diri dari infeksi virus corona, tapi juga menghindari orang di sekitar tertular.

#Jaga kebersihan dan kesehatan diri

Menjaga kesehatan adalah modal terpenting selama masa new normal. Pastikan tubuh Anda dalam keadaan fit dan bugar saat beraktivitas agar punya daya tahan tubuh dari kemungkinan terserang virus.

#Banyak menabung, kurangi pengeluaran

Lebih banyak menabung, kurangi pengeluaran Hampir tiga bulan ini mungkin pengeluaran Anda menjadi lebih terarah untuk kebutuhan penting, bukan berbelanja impulsif.

Kemunculan virus corona membuat orang lebih berhemat. Masa depan terlihat tidak pasti dan rapuh. Banyak orang tidak mau mengambil risiko, apalagi membeli barang-barang tidak perlu. Kalau kondisi perekonomian memburuk, lebih baik memang menabung daripada berbelanja. Perilaku ini layaknya peribahasa sedia payung sebelum hujan.

KLIK INI:  Jalan Terjal Nan Berliku Pelepasliaran Satwa Liar ke Alam Bebas
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!