Muhammad Yusri, Menyelamatkan Penyu di Tanah Mandar dengan Cinta

oleh -44 kali dilihat
Muhammad Yusri, Menyelamatkan Penyu di Tanah Mandar dengan Cinta
Muhammad Yusri, pegiat konservasi penyu di Polman - Foto/Ist
Anis Kurniawan

Klikhijau.com – Penyu atau nama ilmiahnya Chelonioidea, merupakan organisme ikonik yang hidup di perairan laut. Penyu dikenal sebagai reptil laut seperti kura-kura yang sanggup menjelajah dunia dengan empat siripnya. Menariknya, ada 7 spesies penyu di dunia dan 6 spesies di antaranya berkembang biak di Indonesia. Hal itu karena karena perairan Indonesia menjadi rute perpindahan (migrasi) penyu laut di persimpangan Samudera Pasifik dan Hindia.

Meski tersebar di hampir seluruh wilayah pesisir Indonesia, penyu tergolong satwa yang eksistensinya terancam diantaranya karena perdangangan bebas (illegal trade). Karenanya, pemerintah Indonesia memasukkan penyu dalam kategori satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.  Dengan demikian, segala bentuk perdangan penyu dilarang keras dan pada siapa pun yang terbukti melakukannya akan diberi sanksi berat.

Maraknya illegal trade, penangkapan illegal dan konsumsi telur penyu inilah yang menginspirasi seorang pemuda asal Polewali Mandar (Polman) Sulawesi Barat bernama Muhammad Yusri (32) bergerak dalam konservasi dan pelestarian penyu.

Yusri Mampie sapaan akrabnya yang tinggal di pesisir pantai Mampie Desa Galeso Kecamatan Wonomulyo Polman menginisiasi aksinya sejak tahun 2003. Hatinya tergerak dengan fakta yang terjadi pada penyu-penyu di desanya yang sulit berkembang.

“Saya melakukan ini murni karena kepedulian saya terhadap pelestarian lingkungan dan khususnya penyu. Karena dari tahun ke tahun hampir semua penyu yang mendarat untuk bertelur tidak ada yg bisa selamat jadi tukik. Semuanya diambil oleh orang lalu dikonsumsi bahkan dijual. Atas keprihatinan itulah saya coba untuk beranikan diri melestarikannya,” cerita Yusri saat wawancara beberapa bulan lalu.

KLIK INI:  Inilah 2 Artis Seksi Hollywood Paling Populer Memiliki Kepedulian Lingkungan

Misinya amat tulus, namun jalan terjal mesti ditempuhnya. “Saya sadar saat itu bahwa rintangan dan halangan pasti banyak yang harus saya lalui,” tuturnya.

Rintangan utamanya tentu saja adalah cemoohan dari banyak orang yang mungkin sekian lama merusak perkembangan penyu. Yusri menyadari betul bahwa tak banyak orang yang paham bahwa keberadaan penyu amatlah penting bagi ekosistem perairan. Terlebih, keberadaan penyu termasuk dilindungi karena tergolong satwa terancam punah.

Sebagaimana pantai yang selalu ramai dikunjungi, memang tak mudah untuk mengawasi perilaku pengunjung yang kerap barbar pada penyu dan telur-telurnya. Di sisi lain, pantai adalah tempat terbaik untuk penyu-penyu mendarat dan mampir bertelur.

Situasi inilah yang membuat Yusri sadar betapa pentingnya edukasi pada masyarakat agar mencintai penyu. Lebih satu dekade Yusri pun berjuang mewujudkan impiannya secara mandiri. Seribu satu tantangan ia bisa lewati berkat cinta dan ketulusan dalam dirinya.

Pada tahun 2015, kerja kerasnya pun mulai dirasakan masyarakat. Di tahun ini pula Yusri menginisiasi sebuah komunitas, namanya Sahabat Penyu. Komunitas yang perlahan melibatkan banyak orang khususnya anak-anak muda di Pantai Mampie.

KLIK INI:  Ancaman Kepunahan Penyu Akibat Konsumsi Manusia

Di Komunitas Sahabat Penyu, Yusri mengadakan banyak kegiatan berupa kampanye pentingnya pelestarian penyu. Yusrie tak pernah lelah menyampaikan pesan cinta betapa pentingnya melindungi penyu sebab mereka juga makhluk Tuhan.

“Saya melihat penyu ini adalah makhluk ciptaan Tuhan yang juga butuh perlindungan dari kita. Sesungguhnya penyu ini juga menangis ketika telur-telur mereka dicuri dan hingga saatnya tiba jadi tukik namun induknya tidak melihat anaknya tersebut turun ke laut,”pesan Yusrie menohok.

Bagi seorang Yusrie, antara penyu dan manusia hanyalah beda tempat hidup. Karenanya, penyu juga berhak untuk hidup dan diselamatkan.

“Penyu bagi saya juga banyak membatu kelangsungan hidup manusia dengan cara menjaga isi ruang laut sehingga kita masih bisa makan ikan-ikan segar dari laut,” ucapnya.

Aksi mengadopsi penyu

Dari analogi pentingnya saling jaga sesama makhluk Tuhan dan betapa setiap makhluk berperan penting pada ekosistem, kemudian menginspirasi Yusrie menginisiasi aksi adopsi penyu. Aksi ini dibuat sebagai upaya membuka mata hati semua orang agar sama-sama menjaga kelestarian penyu.

Menurut Yusri, adopsi penyu artinya setiap warga atau pengunjung yang ingin melepas tukik terlebih dahulu diwajibkan untuk mengadopsi satu sarang/lubang telur penyu hingga menetas.

KLIK INI:  Tragedi Eksploitasi Penyu di Mamuju dan Perlunya Penindakan Keras pada Pelakunya

“Lalu, pada saat dia sudah jadi tukik, si pengadopsi inilah yang datang untuk melepas ke laut, dimana sebelumnya kita sudah mengirimkan jadwal menetasnya telur penyu jadi tukik. Sehingga tidak ada kesempatan tukik masuk di kolam pembesaran,” kata Yusri.

Selain adopsi penyu yang terbuka untuk umum, Yusri juga rajin sosialisasi ke mahasiswa, pelajar bahkan anak usia dini. Aksi ini intens dilakukan agar anak-anak muda dan remaja dapat mencintai penyu sejak dini. Komunitas Sahabat Penyu menamakan aksinya dengan kegiatan bertajuk “bertemu penyu”.

“Awalnya respons masyarakat terhadap aksi ini kurang baik, bahkan apa yang saya lakukan itu dianggap hal yang sia-sia. Tapi justru saya menganggap itu adalah cambuk bagi saya agar semakin giat melestarikan penyu,” cerita Yusri.

Pada tekad yang keras dan komitmen kuat, tak ada rintangan berarti. Yusri terus bergerak menggelar aksinya. Menariknya, setiap aksi yang dilakukan Yusri dan komunitasnya, sambutan dan apresiasi media sangatlah positif.

“Jadi, teman-teman media banyak membantu saya juga. Mereka sangat membantu sehingga aksi yang saya lakukan dapat menginspirasi banyak orang,” tuturnya.

Perlahan namun pasti, seiring waktu berjalan, semakin banyak orang yang ikut membatu Yusri dan komunitasnya dalam menjaga dan melestarikan penyu. Terlebih, ia senantiasa mengajak banyak orang untuk terlibat di setiap kegiatannya.

Walhasil, masyarakat di pesisir Mampie kini semakin banyak yang ikut terlibat. Apa yang dilakukan Yusri dan komunitasnya ternyata berdampak pula pada kemajuan wisata pantai di Mampie. Dengan sendirinya berdampak pula pada kesejahteraan masyarakat pesisir—mampie pun semakin disesaki pengunjung. Orang-orang berdatangan demi melihat aktivitas Yusri dan komuntasnya, sembari belajar tentang penyu. Pantai Mampie bahkan semakin populer sebagai zona konservasi penyu di Tanah Mandar.

KLIK INI:  Lagi, Penyu Mati karena Sampah Plastik dan Limbah di Bengkulu
Tantangan

Meski tergolong sukses sejauh ini, Yusri dan komunitasnya tidak pernah berhenti berjuang. Mereka juga menyadari bahwa tantangan ke depan tidaklah ringan.

“Tantangan terberat saat ini karena masih adanya kepercayaan di masyarakat luas (di luar mampie) bahwa mengkonsumsi telur penyu itu membawa banyak manfaat, sehingga permintaan telur penyu tetap ada. Padahal, sesungguhnya tidaklah demikian,” jelas Yusri.

Hati Yusri seolah tersayat-sayat ketika mendengar kabar perdagangan bebas telur penyu di pasaran. Kejadian semacam ini bukan sekali dua kali ia dapati, beberapa diantaranya berhasil diringkus petugas.

“Namun kami bersyukur karena saat ini yang jual di pasar sudah berkurang bahkan sudah sulit ditemukan,” ucapnya.

Tantangan lainnya adalah masih kurangnya sarana dan fasilitas pendukung dalam aktivitas konservasi penyu. Yusri berharap ke depan, ada kolaborasi dengan multi-pihak untuk sarana pendukung di Mampie.

Selain itu, masalah pendanaan juga jadi tantangan tersendiri. Selama berjuang di bidang ini, Yusri benar-benar berjuang mandiri. Ia hanya mengandalkan kunjungan wisata ke rumah penyu dan adopsi telur penyu.

Yusri juga menyisakan sebagian keuntungannya sebagai pedagang keripiki sebagai modal dalam aksinya.

“Karena saya dan istri saya juga jual kerupuk, jadi 20 persen hasil penjualan kerupuk kami, diperuntukkan untuk kegiatan pelestarian lingkungan termasuk penyu,” tuturnya.

Tantangan yang dihadapi Yusri tidaklah mudah, namun ia terus berjuang sekuat tenaga.

“Jadi yang membuat saya betah melestarikan penyu itu karena setiap proses yang ada saya nikmati. Sehingga kegagalan dalam sebuah proses tersebut hanya menjadi bahan senyuman agar tetap semangat untuk terus bergerak,” kata Yusrie tersenyum.

Paling penting kata Yusri adalah gerakan yang ia lakukan saat ini telah menjelma sebagai hobi.

“Karena ketika sudah menjadi hobi maka kita tidak berpikir ada berapa biaya yang kita keluarkan, berapa waktu yang kita korbankan. Karena itu sudah menjadi hobi kita,” ucapnya.

KLIK INI:  Kisah Inspiratif dari Sekolah Sawah di Gunung Merapi

Betapa pun jua, Yusri sudah telanjur mencintai hobinya. Baginya, nyawapun siap ia pertaruhkan untuk perjuangannya ini. Ia mencontohkan, bagaimana anak-anak muda yang suka balap liar di lingkungan dan tentu mengancam nyawanya. Namun, karena hobi, rasa takutnya luruh oleh semangat yang kuat.

Impiannya sederhana, Yusri berharap tiga jenis penyu (penyu lekang, penyu hijau dan penyu sisik) yang saat ini mendiami pantai Mampie bisa terjaga.

“Saya ingin bagaimana penyu mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah. Bahkan sya sangat berharap suatu saat nanti Mampie ini jadi tempat belajar penyu. Sehingga saya sangat berharap suatu saat ada tugu penyu dari tiap jenis penyu sebagai bahan ajar secara tidak langsung. Dan saya juga berharap ada Peraturan Bupati (Perbup) mengenai pelestarian penyu,” harapnya.

Sebagai generasi muda, jiwa dan baktinya telah ia wakafkan untuk lingkungan. Semangat menggelorah ini tumbuh kuat di hatinya karena ia sadar bahwa manusia sangatlah bergantung pada alam.

Muhammad Yusri akhirnya diberi penghargaan Kalpataru oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) atas jasanya sebagai perintis lingkungan. Suatu pencapaian dan apresiasi yang layak ia dapatkan sebagai pejuang berhati tulus.

“Jadi, sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan lingkungan. Serta yakinlah bahwa tidak ada usaha yang sia sia. Karena ALLAH SWT akan memberi ganjaran pahala di setiap perbuatan baik yang kita lakukan,” pungkasnya.

KLIK INI:  8 Juni Hari Laut Sedunia, Sahabat Pesisir Sulbar Rilis Tukik ke Laut