Milenial dan Generasi Z harus Melek Isu Lingkungan

oleh -25 kali dilihat
Milenial dan Generasi Z harus Melek Isu Lingkungan
Ilustrasi bermain sosial media - Foto/ bruce mars di Unsplash
Anis Kurniawan

Klikhijau.com – Apakah Anda termasuk kategori muda (milenial atau generasi Z)? Betapa beruntungnya Anda!

Mengapa? Saat ini (khususnya di Indonesia), Anda telah menjadi klaster paling dominan secara kuantitas dan paling aktif mewarnai jagad internet, khususnya sosial media.

Namun, apakah Anda termasuk anak-anak muda yang memiliki kepedulian tinggi pada lingkungan? Seberapa sering Anda menjadi bagian yang begitu aktif membaca isu-isu lingkungan di media? Seberapa terbiasa pula Anda berbagi informasi atau membahas mengenai masalah lingkungan di sosial media?

Jangan-jangan Anda termasuk anak-anak muda yang pasif dengan situasi yang ada bahkan cenderung menjauh dari permasalahan lingkungan?

Itulah pertanyaan-pertanyaan kunci yang diajukan Edo Rahman, Juru Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nasional di depan anak-anak muda Makassar, Kamis 25 Maret 2021.

Edo Rahman tampil sebagai pembicara mengenai model-model kampanye lingkungan di sosial media bagi anak-anak muda pada acara “Jaga Laut” yang digelar EcoNusa.

KLIK INI:  Menteri LHK ke Norwegia untuk Menyuarakan Isu Lingkungan dan Perubahan Iklim

Menurut Edo, data terbaru penduduk negeri +62 telah mencapai 270 juta jiwa.  Dari jumlah itu, kata Edo, Generasi Z (kelahiran 1998-2010) yang paling dominan yakni sekira 27 persen, menyusul generasi Y atau milenial (kelahiran 1980-1990) sekira 26 persen.

“Kalau digabung keduanya, klaster muda ini mencapai jumlah yang fantastis yakni sekira 145 juta jiwa,” kata Edo.

Oleh sebab itu, kata Edo, anak-anak muda punya peluang besar dalam perubahan khususnya pada isu lingkungan. Sejatinya, klaster muda ini dapat menjadi poros utama dalam memperkuat diskursus lingkungan.

Faktanya, jelas Edo, anak-anak muda umumnya masih larut pada isu-isu lain di luar masalah lingkungan.

Anak muda dan narasi lingkungan

“Apakah kalian tahu bahwa kita semua sebagai warga negara punya hak mendapatkan lingkungan yang bersih dan sehat? Ini adalah satu hak asasi yang harus didapatkan. Karena itu, kita harus ikut andil dalam memperjuangkannya,” jelasnya.

Edo mengingatkan, keterlibatan langsung klaster muda saat ini dalam aksi-aksi lingkungan belum sepenuhnya atas satu kesadaran kuat.

KLIK INI:  Dinamika Mangrove di Indonesia dan Masa Depan Ekowisata di Baliknya

“Dengan apa Anda terlibat atau hadir di acara hari ini misalnya? Apakah karena diajak teman? Atau karena memang peduli pada realitas yang terjadi? Apakah Anda terlibat pada isu lingkungan karena telah merasakan dampaknya? Atau justru Anda termasuk pelaku pengrusakan?” demikian Edo Rahman menggugah para peserta aksi “jaga laut”.

Edo mengingatkan betapa masalah lingkungan telah menjadi isu fundamental yang harus direspons oleh anak-anak muda. Menurutnya, sudah saatnya anak muda ikut bersuara dan mendominasi sosial media tentang krisis lingkungan dan bagaimana memberi solusi.

Hal ini penting, mengingat diskursus mengenai lingkungan belumlah menjadi isu teratas dalam narasi di sosial media dan pemberitaan media. Di Indonesia, isu-isu seputar politik, infrastruktur dan kesejahteraan sosial masih jadi narasi teratas.

“Coba saja, Anda bukan instagram dan sebutkan 3 informasi yang pertama kali muncul di laman Anda?”  Menurut Edo, kebanyakan anak-anak muda akan disesaki informasi-informasi seperti promosi bisnis, info selebriti dan lainnya.

Beberapa peserta dalam diskusi di forum “Jaga Laut Makassar” membenarkan. Laman instagram mereka memang sepi dari isu-isu lingkungan.

Mengapa begitu? Sebab, faktanya, tegas Edo Rahman, anak-anak muda sangat jarang membagikan hal-hal tentang lingkungan. Atau mengikuti pemberitaan mengenai kerusakan lingkungan, mengenai sampah, perubahan iklim atau aksi pemulihan lingkungan.

“Saatnya aktif melakukan kampanye lingkungan dan sosial media adalah ruang paling efektif. Anda dapat mengaitkan isu-isu viral di sosial media dengan narasi mengenai lingkungan. Jadi lebih kreatif,” jelas Edo.

KLIK INI:  Selain Mantan, Polusi Udara Juga Bisa Merampas Kebahagian