Microbeads; Bisa Bersihkan Tubuhmu, Cerahkan Wajahmu, Tapi Justru Mencemari Laut

oleh -1.236 kali dilihat
Microbeads; Bisa Bersihkan Tubuhmu, Cerahkan Wajahmu, Tapi Justru Mencemari Laut
Ilustrasi Plastic Microbeads - Foto/Boplastics

Klikhijau.com – Microbeads! Kalau ada yang bertanya, apakah ada yang lebih menyeramkan dari kemasan dan penggunaan kantung plastik sekali pakai namun jarang disadari oleh kebanyakan orang? Jawabannya, Ada. Microbeads plastic (MP).

Microbeads, menurut Greenpeace, adalah potongan plastik kecil (ukurannya kurang dari 5 milimeter) yang kerap menjadi komposisi produk-produk personal care atau perawatan tubuh, seperti rangkaian skincare, scrub, facial wash, exfoliators, sabun, pasta gigi, make up, dan sebagainya.

Alasan penggunaan Microbeads Plastic

Beberapa alasan mengapa (MP) digunakan adalah untuk memberikan kesan kesat dan bersih (pada sabun) dan efek glowing pada make-up.

Menurut tim redaksi the story of stuffs, MP  juga lebih ‘lembut’ daripada scrub berbahan natural seperti apricot shells, jojoba beans. Kesan lebih ‘lembut’ lebih ‘baik’ sebab microbeads plastic tidak cukup efektif dan seketika dalam membersihkan kulit, sehingga konsumen merasa ‘perlu’ untuk memakainya setiap hari sehingga kita perlu lebih banyak membeli produk dengan MP ini.

KLIK INI:  Perlu Waspada, Bakteri Mematikan Semakin Menyebar karena Perubahan Iklim
Mengapa Microbeads berbahaya?

Di Inggris, 100,000 partikel plastik dalam bentuk microbeads terlepas ke saluran air dalam satu kali mandi.

Berdasarkan laporan the UK Parliamentary Office of Science and Technology, diperkirakan terdapat 16 sampai 86 ton MP dari pembersih muka (facial exfoliant) yang mencemari lingkungan. Microbeads kecil, dan mungkin tampak tidak berbahaya, tetapi 100.000 microbeads yang terlepas tersebut akan berakhir di laut dan mengganggu rantai makanan.

Lebih lanjut, para ilmuwan Universitas Plymouth menjelaskan bahwa microbeads merupakan salah satu polutan yang paling berbahaya di laut. Hasil limbah yang akhirnya bermuara ke laut tersebut, dilihat kasat mata akan terlihat seperti plankton.

Karena bentuknya yang menyerupai plankton tersebut, kerap membuat makhluk hidup di laut seperti ikan-ikan memakannya. Tidak hanya membunuh ikan-ikan, microbeads pun membawa dampak negatif pada terumbu karang. Banyak terumbu karang yang mati karena mengalami penyumbatan pencernaan.

Dalam perairan yang memiliki konsentrasi MP tinggi, ikan ternyata juga lebih menyukai memakan microbeads ketimbang makanan alami mereka, plankton.

KLIK INI:  Tiga Alasan Kopi Indonesia Masih Kalah Bersaing dari Kopi Brazil dan Vietnam

Fakta tersebut didapatkan dari hasil penelitian ahli ekologi dari Universitas Uppsala di Swedia, Peter Eklov pada ikan perch. Eklov mengamati perilaku makan ikan pada lingkungan perairan yang kaya mikroplastik serta tingkat kesintasan telur dan larvanya.

Ternyata, tak hanya perilaku makan yang berubah. Telur ikan yang hidup di lingkungan yang kaya microbeads rata-rata memiliki tingkat menetas lebih rendah. Larva di lingkungan tersebut juga akan lebih lambat perkembangannya.

Jadi, MP membuat ikan mati sebelum sempat kawin. Ini barang tentu mengancam kelangsungan hidup dalam jangka panjang.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa racun mampu mengontaminasi ikan secara langsung, dengan temuan Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) University di Australia bahwa ikan mampu menyerap 12,5 persen polusi dari microbead tersebut.

Sebagai bukti, Clarke dan timnya memberikan microbead pada ikan pelangi Sungai Murray yang mengandung polybrominated diphenyl ethers (PBDEs) dengan tingkat konsentrasi yang sama dengan yang ada di dunia nyata.

KLIK INI:  Ngeri, Studi Temukan Mikroplastik Telah Menyusup ke Darah Manusia

Mereka menguji jumlah PBDE pada ikan 21 hari dan membandingkannya dengan kontrol kelompok ikan yang tidak memakan microbead tersebut.

Hasilnya menunjukkan bahwa 12,5 persen PBDE dalam microbead masuk dalam jaringan tubuh ikan, dan hal itu tentu menjadi masalah karena ikan-ikan itu memakannya.

Sebuah riset dalam Jurnal Environmental Science & Technology menyatakan bahwa 90% garam di dunia telah tercemar mikroplastik. Rata-rata, manusia menelan sebanyak 2,000 mikroplastik setiap tahun hanya dari konsumsi garam, dengan asumsi konsumsi garam 10 gram per hari.

Bukti lain bahwa manusia telah mengkonsumi mikroplastik terdapat di riset yang menyatakan bahwa mikroplastik pertama kali ditemukan di kotoran manusia dalam bentuk polypropylene (PP), polyethylene-terephthalate (PET) – yang juga merupakan bahan microbeads. Berdasarkan sampel kotoran manusia, para ilmuwan menemukan 20 mikroplastik dalam setiap 10 gram kotoran.

Hal ini tentu akan berimplikasi juga pada masyarakat jika dalam kesehariannya mengonsumsi ikan. Pasalnya, microbeads ini akan mengendap di perut ikan, dan seperti plastik lainnya, mereka akan berubah menjadi zat kimia beracun, yang mampu memicu masalah syaraf, mengurangi fungsi imun, dan masalah fertilitas.

KLIK INI:  Sengkarut Pengelolaan Sampah di Kota Makassar

Microbeads plastik yang terlepas ke alam bebas akan menyerap polutan dan racun-racun kimia seperti pestisida, minyak, bahan-bahan kimia berbahaya yang juga terlepas ke lingkungan. Racun dan bahan kimia ini akan terus mengalir dalam rantai makanan hingga akhirnya berakhir di seafood yang kita makan.

Dalam sebuah laporan scientific yang dilakukan Chealse M. Rochman, dkk (2013) menunjukkan bahwa satu buah partikel microbead bisa jutaan kali lebih beracun dari pada air di sekitarnya.

Menghindari Microbeads Plastic

Sebagai konsumen, kita harus lebih selektif dengan produk personal care atau perawatan tubuh yang kita beli dan kita gunakan pada tubuh kita. Beberapa cara untuk sebisa mungkin berupaya menghindari microbeads adalah

  • Pilih produk natural ingredients dan hindari produk perawatan tubuh berkemasan plastik

Sebisa mungkin kita beralih ke produk perawatan tubuh dengan kemasan yang dapat didaur ulang secara sirkular, misalnya stainless steel atau compostable.

KLIK INI:  Nyamuk Jadi Ancaman Baru Bagi Lingkungan, Kok Bisa?
  • Baca label dan komposisi pada kemasan dengan teliti

Microbeads plastic ini memiliki berbagai macam nama yang bisa ditilik di label kemasan produk. Paling sering microbeads plastic ini bersembunyi di balik nama-nama di bawah ini:

  • Polyethylene (PE)
  • Polyethylene Glycol (PEG)
  • Polypropylene
  • Polyethylene Terephthalate (PET)
  • Polymethyl Methacrylate (PMMA)
  • Polyamides atau Nylon
  • nama-nama lain seperti copolymer, dan sebagainya.

List nama-nama microbeads plastic bisa kamu unduh dan baca selengkapnya di sini. Kita juga bisa mempelajari jenis plastik apa saja yang biasanya digunakan dalam peralatan atau bahan mandi kita, tinggal klik di sini.

  • Hindari produk yang berasal dari produsen dengan ‘red’ atau ‘orange’ flag

Kita bisa baca daftar produk atau merek yang masih menggunakan microbeads plastic salah satunya dengan mengakses di sini.

  • Lakukan audit produk perawatan tubuhmu sekarang! Jika kamu menemukan produk dengan microbeads plastic, diusahakan untuk menghentikan penggunaannya.
  • Kalau ingin berbuat lebih, let’s call out the producer or the brands yang menggunakan microbeads plastic Kita minta supaya brand-brand besar ini untuk berhenti menggunakannya.

Bijaklah menjadi konsumen perawatan tubuh agar ekosistem biota laut tak terganggu dan makanan yang kita santap sehari-hari tak mengandung zat-zat yang membahayakan tubuh, Sahabat Hijau! Semoga bermanfaat!

KLIK INI:  Patut Dipelihara, Kucing Ini Mengancam Pemiliknya Jadi Kaya