Metamorfosa Kanal di Makassar, Plastik dan Eceng Gondok Bergentayangan

Publish by -53 kali dilihat
Penulis: Anis Kurniawan
Seorang warga memungut sampah-sampah plastik di pinggil kanal di Makassar, foto: Anis Kurniawan

Klikhijau – Pernah melintas di sebuah jembatan dimana Anda melihat kanal seolah tanpa air? Pemandangan itu merajai kanal-kanal di Makassar saat ini.

Yah, sejak beberapa bulan ini, kanal di kota Makassar menjelma jadi eceng gondok. Tak ada penampakan air mengalir, yang ada adalah daratan hijau muda menyerupai segerombolan ular hijau.

Dalam enam bulan terakhir, permukaan kanal nyaris tertutup rapat. Invasi enceng gondok semakin sulit terbendung. Untuk sekadar diketahui, gulma dengan nama latin Eichhornia crassipes ini memang gampang berkembang biak. Tumbuh massif, secepat kilat.

Mampirlah di bilangan Batua Raya, dari atas jembatan akan tampak enceng gondok sejauh mata memandang. Aliran air dalam kanal tentu terhambat. Tetapi, yang paling mencemaskan di awal musim hujan ini adalah saat sampah plastik juga bergentayangan di pinggiran kanal.

KLIK INI:  Tolong, Jangan Panggil Saya "Kamu Bau!"

Kebanyakan adalah botol plastik, sedotan, kaleng minuman kemasan hingga kantong plastik. Tampaknya, sampah-sampah plastik sekali pakai itu dibuang dengan sengaja oleh oknum tak bertanggungjawab. Lantaran enceng gondok, sampah itu nyangkut di kanal.

Fenomena ini tentu menggambarkan sebuah kompleksitas masalah lingkungan di ruang paling dekat dengan kehidupan perkotaan. Pertama, apakah memang dibiarkan enceng gondok itu menginvasi kanal-kanal? Bila tidak, mengapa tak ada upaya tertentu yang dilakukan (oleh pihak terkait) membebaskan kanal dari serbuan enceng gondok?

Kedua, apakah selamanya kita membiarkan kanal jadi tempat sampah terbaik? Lalu, dengan mata kepala semua seolah terdiam membiarkan sampah-sampah menghiasi tepian kanal. Sampah dan eceng gondok, yang kini jadi sepasang kekasih di kanal kota.

Bahaya di baliknya

Dilansir Tirto, Peneliti di Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Gadis Sri Haryani memberi penjelasan soal eceng gondok. Di satu sisi, kata Gadis, enceng gondok punya dimensi positif karena tumbuhan ini memiliki kemampuan memulihkan masalah lingkungan. Pasalnya, eceng gondok mampu menyerap senyawa organik dan anorganik di air dengan efektif.

KLIK INI:  Terbayang, Sampah Kampanye Kira-Kira Akan Meluber ke Mana?

Tetapi, pada sisi lain, eceng gondok juga adalah gulma yang bisa melahirkan krisis lingkungan. Karena pertumbuhannya yang cepat, permukaan perairan bisa tertutup dan berpotensi merusak ekosistem yang ada di dalamnya.

Invasi eceng gondok di permukaan air akan menurunkan jumlah cahaya yang masuk sehingga kelarutan  dalam air juga akan drastis menurun. Bahayanya, eceng gondok dapat menjadi habitat yang sempurna bagi tumbuh-kembangnya vektor penyakit manusia, seperti nyamuk. Dampak lainnya, kata Gadis, adalah potensi terjadinya pendangkalan di perairan.

Untuk dua masalah yang terakhir ini, tentu berbahaya bagi kanal-kanal di perkotaan. Saat musim hujan tiba dan volume air meningkat, kanal-kanal tentu berpotensi memicu banjir. Terlebih, plastik-plastik juga turut bercampur-sari di dalam kanal.

Kita tentu tidak sedang keasyikan pada kehijauan dedaun eceng gondok, sembari melihat orang-orang buang sampah di pinggiran kanal – kita sedang dihantui kecemasan. Lalu, kenapa pihak terkait belum bergerak membersihkan kanal?

Bila setiap tahun begitu, kanal-kanal bersih beserta ikan-ikan yang berkembang biak di dalamnya benar-benar hanya utopis. Sekali lagi, kanal yang kotor adalah sebuah ketidakseriusan kita membangun kota.

KLIK INI:  Sampah dan Mahasiswa
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!