Meski Statusnya Dilindungi Burung Pleci Tidak Bebas Terbang

Publish by -29 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Meski Statusnya Dilindungi Burung Pleci Tidak Bebas Terbang
Burung pleci/foto-thegorblasla

Ciri yang paling mencolok dari burung ini adalah segaris lingkaran di sekitar mata

Klikhijau.com – Status dilindungi tidak membuat burung pleci bisa terbang tanpa gangguan. Burung bernama latin Zosterops flavus itu masih laris manis diperdagangkan secara ilegal.

Sebuah bukti nyata diungkap oleh Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Sumatera, Seksi Wilayah I Medan.

Pada hari Rabu, 6 Mei 2020 lalu, pihak Gakkum menyita burung yang juga dikenal dengan nama burung kacamata jawa. Bukan dua atau lima ekor yang disita, tapi ribuan ekor.

Gakkum mencatat burung pleci yang disita dan diamankan berjumlah 1.266 ekor, yang ditemukan di lokasi pool bus PT. Atlas, Jl. Ringroad Gagak Hitam, Kota Medan.

KLIK INI:  Balai Gakkum KLHK Wilayah Maluku Papua, Sita 85 Ekor Satwa Dilindungi

Bagi yang suka memelihara burung kicau, jenis burung ini menjadi salah satu pilihan. Burung ini memiliki suara lengkingan yang indah dan enak didengar selayaknya burung hutan.

Ketika musim kawin tiba, burung ini akan membangun sarang di pohon dengan telur biru pucat 2-4 butir. Menu utamanya serangga dan buah-buah kecil, serta nektar.

Ciri yang paling mencolok dari burung ini adalah segaris lingkaran di sekitar mata. Sayapnya melingkar dan memiliki kaki yang kuat. Ukurannya kecil, hingga sepanjang 15 cm.

Warna bulu biasanya hijau kelabu, tetapi ada jenisnya yang memiliki bulu leher dan perut berwarna putih atau kuning. Semua anggotanya senang berkelompok, terbang dalam kawanan.

Harganya dipasaran tidaklah terlalu tinggi. Ini juga yang memicu penjualannya cukup laris. Maka tidak heran satu kali penangkapan saja, barang buktinya bisa mencapai ribuan ekor.

Kronologi penyitaan

Penyitaan ribuan burung pleci tersebut berawal dari pengaduan masyarakat terkait dugaan peredaran satwa dilindungi.

Mendapat laporan dari masyrakat Tim Balai Gakkum Sumatera Seksi Wilayah I Medan pada tanggal 6 Mei 2020 membuntuti bus PT. Atlas rute Takengon – Kota Medan, yang diduga membawa satwa dilindungi, sejak dari perbatasan Provinsi Aceh-Sumatera Utara.

Setelah bus tiba di pool bus PT Atlas di Jalan Ringroad Gagak Hitam, Medan, sekitar pukul 09.00 WIB pagi tanggal 7 Mei 2020, Tim menyergap dan mengamankan 30 kardus berisi burung pleci.

Pemiliknya berinisial RH berasal dari Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, mengirim burung-burung tersebut ke Medan tanpa dilengkapi surat angkut tumbuhan dan satwa dalam negeri.

KLIK INI:  Mengenal Lebih Dekat Gerakan Nasional Pilah Sampah dari Rumah

Burung-burung tersebut berada di dalam 30 kardus. Sebanyak 556 ekor burung sudah mati dan 710 ekor masih hidup.

Kepala Seksi Balai Gakkum Wilayah Sumatera, Seksi Wilayah I Medan, Haluanto Ginting menerangkan, dari hasil pemeriksaan S yang menerima kiriman. Timnya mendapatkan informasi kalau burung-burung tersebut milik RH yang berasal dari Takengon dikirim ke Medan.

“Kami sudah mengubur burung yang mati dan akan menjaga dan merawat burung yang hidup,” terang Haluanto Ginting.

Sementara itu, Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera, Eduward Hutapea menegaskan, para pelaku kejahatan lingkungan agar tidak memanfaatkan situasi pandemi Covid-19 untuk melakukan aksi kejahatan.

“Jangan coba-coba memanfaatkan situasi Pandemi Covid-19 untuk berbuat kejahatan, karena kami tidak berhenti mengawasi dan menindak pelaku kejatan lingkungan”, tegas Edward.

Status burung pleci memang dilindungi agar bisa terbang di alam bebas menikmati kebebasannya, namun nyatanya tidak demikian. Burung ini tetap terperangkap dalam sangkar perdagangan gelap.

KLIK INI:  Suatu Sore yang Membiakkan Rasa Penasaran Tentang Kelinci, Rupanya Begini Faktanya
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!