Menyusuri Rimba Pattunuang, Destinasi Baru dengan Sejuta Daya Tarik

oleh -46 kali dilihat
Menyusuri Rimba Pattunuang, Destinasi Baru dengan Sejuta Daya Tarik
Sanctuary Tarsius Fuscus di Pattunuang Maros - Foto/Taufiq Ismail
Taufiq Ismail

Klikhijau.com – Hutan selalu memberi nilai lebih bagi penikmatnya. Berkelana di alam membuat pikiran kembali segar. Berjalan di antara rimbun pepohonan. Menghirup udara yang bersih. Mata juga dimanjakan dengan hijau pepohonan.

Bagi penggemar satwa liar juga selalu menanti kehadiran binatang. Menjadi penambah khasanah.

Seperti halnya yang saya rasakan. Menyusuri belantara rimba Pattunuang. Mencari kupu-kupu. Menjadikan kupu-kupu sebagai objek buruan utama. Terkadang satwa lain pun menjadi bonus berkelana. Buruan sebagai objek fotografi.

Kawasan Wisata Pattunuang selalu di hati. Pattunuang adalah salah satu lokasi favorit saya. Sebuah hamparan karst yang menyimpan sejuta potensi.

KLIK INI:  Kampoeng Bambu, Sebuah Upaya Merawat Warisan Leluhur
Pesona karst dan alam Pattunuang

Sungainya yang seolah membelah karst. Mengalir di antara koridor bentangan batu gamping yang megah. Berdiri kokoh. Menjulang ratusan meter. Berjejer bagaikan gedung pencakar langit.

Permadani vegetagi menghias. Membungkus batu-batu cadas. Kala musim penghujan menghijau. Nampak menguning kala kemarau menyapa.

Dari hiasan tetumbuhan itulah menghadirkan hidupan liar. Satwa-satwa liar menjadikannya sebagai habitat. Tempat mereka mencari makan, minum, bermain,  bersarang hingga beranak pinak.

Tetumbuhan yang membentuk hutan. Hadirnya hutan juga menciptakan iklim yang lebih baik. Menciptakan kehangatan di sekitarnya.

Karakter hutan di batuan karst sedikit berbeda. Tanah sebagai substrat tumbuh begitu tipis. Karena pohon dan semak yang hadir juga tak sembarang. Mereka hanya mendapat hara yang minim.

Karenanya hanya pohon-pohon tertentu yang mampu bertahan. Morfologinya pun sedikit berbeda. Hanya sedikit pohon yang berbanir besar yang bisa kita jumpai.

Pattunuang
Hamparan karst di Pattunuang – Foto/Taufiq Ismail
KLIK INI:  Sambut Tren Wisata Alam Virtual sebagai Adaptasi di Masa Pandemi

Tak banyak pohon dengan diameter di atas satu meter yang bisa kita jumpai. Hanya lebih menjulang. Tingginya bisa mencapai di atas 30 meter.

Boleh jadi karena tipisnya tanah sehingga ia menyesuaikan diri. Tak heran juga jika angin kencang, pohon-pohon ini rawan tumbang.

Bagaimana dengan faunanya?

Bagaimana dengan jenis fauna penghuninya. Fauna apa saja yang bisa kita jumpai di Pattunuang?

Bagi pengamat burung, Pattunuang bisa menjadi lokasi berburu. Menikmati beragam jenis-jenis burung endemik Sulawesi. Tentunya berburu foto ya. Bukan dengan senapan angin.

Sri gunting, kepodang, hingga beberapa jenis raja udang bisa dengan mudah kita temui. Apalagi jika berkesempatan untuk berkemah. Berkemah di area perkemahan Bisseang Labboro.

Bisa lebih pagi mencari burung. Burung-burung yang baru keluar dari sarang. Keluar menjemput rejekinya.

KLIK INI:  Pesona Pantai Pasir Merah Pajala di Pulau Muna

Kupu-kupu pun tak kalah riuhnya. Terbang berseliweran di sekitar sungai. Di bawah tegakan pohon pun mereka bisa kita jumpai.

Tarsius fuscus, kuskus beruang hingga kuskus sulawesi pun bisa kita jumpai memanjat pohon di tebing-tebing karst. Apalagi Tarsius, kala senja mereka mulai keluar dari sarang. Berkelana di malam hari. Mencari makan.

Mamalia yang hidup dalam kelompok kecil ini menggunakan suara untuk berkomunikasi. Suara khasnya menjadi pertanda. Kapan keluar, dalam keadaaan genting ataupun kembali ke sarang menjadi momen sang pemimpin memberi kode. Kode dengan lengkingan suara yang cukup keras.

Suatu waktu, saya pernah mengamati Tarsius. Namun tak disangka kuskus sulawesi pun kami jumpai. Maklum kedua satwa ini beraktivitasnya di malam hari. Berbeda dengan “si lambat” kuskus beruang sulawesi, aktifnya di siang hari. Mengincar pucuk-pucuk daun tertentu sebagai makanan utamanya.

Setakat kini, untuk mengamati Tarsius fuscus tak harus menjelajah hutan. Kala senja menjelang bisa menyaksikan Tarsius lombat dari rating satu ke ranting lainnya di kandang buatan.

Dua buah kandang pengelola sediakan untuk mereka. Menjadi perlindungan sekaligus sebagai objek penelitian. Mempelajari kebiasaan hidupnya.

KLIK INI:  Suntuk dengan Rutinitasmu? Berkemaslah Menuju 7 Desa Wisata Ini!
Fasilitas penunjang

Tak hanya kandang, beberapa fasilitas pendukungnya juga mumpuni untuk kepentingan wisata. Jalan trail sepanjang 700 meter bisa menjadi wahana untuk wisatawan jelajahi. Menyapa lebih dekat habitatnya di batu gamping. Gasebo, gerbang, loket karcis, hingga laboratorium dan display room menjadi pelengkap. Kesemuanya fasilitas ini adalah bagian dari Sanctuary Tarsius Fuscus.

Karenanya santuary menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin mengenal lebih dekat dengan primata mungil ini. Bagi pelajar dan mahasiswa, santuary ini bisa menjadi pilihan untuk mengenal lebih dekat dengan salah satu satwa endemik Sulawesi Selatan ini.

Karenanya tak heran jika beberapa mahasiswa baik strata satu maupun mahasiswa magister menjadi Tarsius sebagai objek penelitian.

Pattunuang juga identik dengan tempat berkemah. Terutama bagi para kelompok pecinta alam. Mengapa? Karena Pattunuang adalah lokasi kesukaan kelompok penyuka alam liar melakukan pendidikan dasar. Pengenalan alam bagi anggota barunya.

Apalagi mahasiswa pecinta alam. Pattunuang tidaklah asing bagi mereka. Pattunuang juga menjadi bagian dari jalur long mars. Perjalanan panjang melintasi alam.

Baru-baru ini Kawasan Wisata Pattunuang baru saja resmi dibuka untuk umum. Sabtu, 20 Maret 2020, menjadi ajang peresmian Kawasan Wisata Pattunuang untuk umum.

KLIK INI:  Merawat Asa Kampoeng Bambu Toddopulia di Masa Pandemi

Selama setahun penuh, Pattunuang menutup diri. Menutup diri dari kunjungan wisatawan. Bukan tanpa alasan. Pihak pengelola dalam hal ini Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung melakukan pengembangan fasilitas. Salah satunya membangun fasilitas pendukung wisata.

Tahu 2019 lalu taman nasional ini membangun sarana wisata petualangan. Via Ferrara, sky camp, dan sky walk. Tak hanya itu, sebuah jembatan gantung mereka bangun. Menjadi penghubung karena objek utama berada di sebrang tebing.

Untuk memudahkan wisatawan menggapai via ferrata, juga mereka bangun jalan trail. Jalan trail dari susunan besi. Pada tengah perjalanan terdapat menara. Menara yang cukup julang, menjadi lokasi berswafoto Instagramable. Berfoto dengan latar belakang gugusan batu gamping.

Ada beberapa lokasi lain yang layak mengisi koleksi foto-foto Anda di media sosial kala berkenala di Pattunuang. Gerbang sanctuary, jembatan gantung Bislab, jalan trail hingga gerbang perkemahan bislab.

KLIK INI:  Benarkah Kupu-Kupu Ekor Sriti Paling Dikagumi Wallace?
Tips wisata di Pattunuang

Saat menjelajahi Pattunuang ada beberapa hal yang patut diwaspadai. Pertama, harus berhati-hati saat hujan karena beberapa jalan terbilang licin. Kedua, aliran Sungai Pattunuang kadang-kadang meluap sehingga harus berhati-hati bermain air kala musim penghujan tiba. Apalagi hujan yang berlangsung beberapa hari secara berturut-turut.

Ketiga, saat mengajak keluarga, perlu memerhatikan anak-anak terutama yang berusia di bawah lima tahun. Menjaga agar tidak memanjat pembatas jalan trail ataupun jembatan.

Terakhir bagi pecinta tetumbuhan agar tidak menyalurkan hobinya untuk mencabuti tumbuhan liar di sana. Mengapa? Kawasan wisata Pattunuang adalah bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan konservasi yang memiliki aturan dalam tata kelolanya. Semua tumbuhan di sana dilindungi.

Tetap sehat dan berkelana dengan bijak.  Kawasan konservasi seperti taman nasional adalah milik bersama. Karenanya kita perlu turut menjaganya. Menjaganya agar dapat kita nikmati bersama.

KLIK INI:  Jelajah Taman Wisata Alam Sorong, 4 Aktivitas Ini Bisa Membuat Anda Lupa Pulang