Menilik Ketimpangan Gender pada Aktivitas Ramah Lingkungan Sehari-hari

Publish by -330 kali dilihat
Penulis: Zakiyatur Rosidah
Menilik Ketimpangan Gender pada Aktivitas Ramah Lingkungan Sehari-hari
Ilustrasi - Foto/webdoubtingcontemplative

Klikhijau.com – Bagaimana ketimpangan gender pada aktivitas ramah lingkungan sehari-hari? Mari kita lihat faktanya dalam keseharian…

Dari sabun, alat makan, tas dan aneka rupa barang zero waste dipasarkan dan dibeli oleh perempuan. Mungkin itu sebab, perempuan dipandang sebagai penyelamat bumi. Apakah ini membuat laki-laki enggan mengambil tanggung jawab pada bumi?

Kejadian yang kerap kita jumpai di keseharian, jika ingin mengurangi dampak dari pilihan konsumen terhadap lingkungan, satu-satunya pilihan adalah menggunakan tas belanja sendiri.

Belakangan ini, pembelanja berwawasan lingkungan dipenuhi dengan pilihan “hijau”. Dengan munculnya pembalut yang dapat digunakan kembali (menstrual cup)menstruasi  sekarang bisa bebas plastik.

Kosmetik semakin banyak datang dalam wadah kaca dan aluminium. Bahkan merek kaus kaki menggunakan kain dari bahan yang lebih ramah lingkungan.

KLIK INI:  ProKlim, Upaya Unggulan KLHK Hadapi Perubahan Iklim

Hal ini mengingat krisis planet ini yang semakin menjadi-jadi akibat dari pola konsumsi manusia. Kita mungkin menemukan dorongan nyata ini menuju keberlanjutan dimulai dari perubahan diri sendiri hingga rak-rak supermarket yang turut menggaungkannya.

Ketimpangan gender pada produk

Tanpa disadari sebagian besar produk ramah lingkungan dipasarkan untuk perempuan.

Ada alasan yang jelas (dan menyedihkan) untuk hal ini: perempuan bukan hanya konsumen yang lebih kuat, tetapi juga masih bertanggung jawab secara tidak proporsional terhadap ranah domestik. Hal ini disebut Mintel sebagai “kesenjangan gender”.

Dalam laporan 2018 oleh Mintel tentang masalah ini, Jack Duckett, seorang analis gaya hidup konsumen, mengatakan perempuan masih cenderung bertanggung jawab atas penyelenggaraan rumah tangga, berkutat dengan cucian, bersih-bersih rumah, dan aktivitas domestik lainnya.

KLIK INI:  Misteri Lukisan Tapak Tangan di Gua Prasejarah Pattunuang

Tetapi ternyata dengan kampanye ramah lingkungan dan klaim produk sebagian besar ditujukan untuk audiens perempuan, pengiklan berisiko mengomunikasikan pesan bahwa keberlanjutan adalah pekerjaan perempuan.

Idenya sudah berbahaya karena penggambaran terus-menerus perempuan sebagai ‘pengasuh’ planet ini.

Janet K Swim, seorang profesor psikologi di Pennsylvania State University yang telah melakukan penelitian ekstensif tentang konsekuensi sosial dari perilaku ramah lingkungan, merujuk ke sebuah kartun politik yang menunjukkan Theodore Roosevelt, presiden AS dari tahun 1901 hingga 1909, mengenakan celemek, “berusaha mendaku diri mengejeknya sebagai feminin” karena kebijakan konservasinya.

Perempuan lebih cenderung greenlifestyle daripada laki-laki sejak awal 90-an. Kesenjangan gender tesebut disebabkan oleh perbedaan kepribadian.

Penelitian dari pertengahan 90-an hingga awal 00-an menunjukkan kecenderungan perempuan yang lebih besar untuk menjadi prososial, altruistik dan empatik; untuk melakukan perawatan yang lebih kuat; dan untuk mengasumsikan perspektif yang berfokus pada masa depan.

KLIK INI:  Unik, Tanaman Gantikan Manusia Menonton Konser di Barcelona
Feminitas dan “greenness”

“Penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki tingkat sosialisasi yang lebih tinggi untuk peduli terhadap orang lain dan bertanggung jawab secara sosial. Yang kemudian mengarahkan mereka untuk peduli terhadap masalah lingkungan dan bersedia mengadopsi perilaku lingkungan,” kata Rachel Howell, seorang dosen dalam pembangunan berkelanjutan.

Subjek penelitiannya adalah banyak mahasiswa perempuan di tingkat sarjana di University of Edinburgh.

Ada bukti yang menunjukkan bahwa feminitas dan “greenness” telah dikaitkan secara kognitif (oleh laki-laki dan perempuan) dan hasilnya sebagian besar laki-laki enggan melakukan itu.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan tahun lalu di jurnal Sex Roles, Swim dan rekan-rekan peneliti di Penn State menemukan bahwa laki-laki bisa saja segan membawa tas belanjaan yang dapat digunakan kembali—atau mendaur ulang.

Atau melakukan kegiatan ramah lingkungan apa pun yang telah digenderkan sebagai feminin—karena takut dianggap sebagai gay atau banci. Kekhawatiran yang sama telah ditetapkan sebagai faktor dalam keengganan laki-laki untuk mengadopsi diet vegetarian atau vegan.

KLIK INI:  Menanti Pertandingan Domino Ramah Lingkungan ala KP2K

Demikian pula, Journal of Consumer Research (2016) menemukan bahwa laki-laki mungkin termotivasi untuk menghindari atau bahkan menentang perilaku ‘hijau’ untuk melindungi identitas gender mereka.

Pun partisipasi mereka dapat didorong dengan melemahkan hubungan antara feminitas dan pola hidup keberlanjutan. Lebih baik ‘kelihatan’ maskulin daripada musti menggunakan dan melakukan aktivitas greenlifestyle.

Misalnya, Plastic Freedom dan Package Free Shop, dua peritel online tanpa limbah populer, mengatakan bahwa mereka berusaha untuk memasarkan produk yang netral gender—tetapi keduanya mengatakan sekitar 90% pelanggan mereka adalah perempuan.

Tetapi dengan analisis dari Kantor Statistik UK (2016) menunjukkan bahwa perempuan melakukan rata-rata 60% lebih banyak pekerjaan yang tidak dibayar daripada laki-laki. Saran Howell mungkin lebih menarik: untuk menutup kesenjangan gender, dalam hal siapa yang mencuci, siapa yang berbelanja, siapa yang bersih-bersih di rumah .

KLIK INI:  4 Fakta Unik Pohon Raksasa “Kalumpang Lompoa” di Bantaeng

Selain itu, singkirkan ide-ide bias tentang seperti apa produk yang berkelanjutan. Laki-laki  sambil dapat membawa ransel, totebag atau tumbler yang dapat digunakan kembali dan produk-produk ramah lingkungan lain.

Ini sekaligus pengingat agar para produsen menaruh perhatian pada keberlanjutan yang mesti meluas dan netral gender di setiap produknya, bukan hanya yang menarik konsumen. Lebih jauh lagi, kita juga harus berpikir bahwa dampak dari pilihan individu tersebut tidak ada apa-apanya jika perusahaan terus mengebor minyak dan gas, dan mengeksploitasi alam.

Howell mengatakan meskipun tindakan individu itu penting, tanggung jawab individual itu masih terlalu jauh. Kita harus melihat keseluruhan dan mencoba melakukan sesuatu di tingkat masyarakat.

Bahkan argumen tentang tindakan yang berarti pada krisis iklim dibagi menjadi garis gender. Studi lain oleh Swim, yang diterbitkan dalam jurnal Global Environmental Change tahun lalu, menunjukkan antara laki-laki lebih menyukai argumen yang berpusat pada sains dan bisnis dan cenderung “mengaitkan sifat-sifat feminin sebagai suatu yang negatif” dengan laki-laki yang berargumen berdasarkan etika dan keadilan lingkungan—sebagai perempuan biasanya.

Perempuan cenderung kurang percaya pada institusi, kata Howell, yang mungkin berarti mereka kurang percaya pada kemampuan sains, teknologi dan pemerintah untuk mengatasi masalah yang kita hadapi.

KLIK INI:  KLHK dan BPPT Dorong Teknologi Pengelolaan Emas Ramah Lingkungan

Laki-laki, bagaimanapun, secara historis dilayani dengan baik oleh status quo, “lebih cenderung untuk percaya bahwa jika mereka menerima ada masalah, maka seseorang atau beberapa teknologi akan menyelesaikan semuanya. Kita tidak perlu mengubah gaya hidup kita ”.

Howell juga menjelaskan bahwa banyak problem secara historis diciptakan lebih banyak oleh laki-laki, karena mereka memiliki lebih banyak kekuatan. Tetapi kadang-kadang tampaknya perempuan semakin putus asa dalam mencoba menyelesaikannya—dan mungkin memiliki lebih sedikit kekuatan untuk melakukannya.

Tetapi dunia sedang berubah. Millenial dan Generasi Z (mereka yang lahir antara awal 80-an dan pertengahan 00-an) telah terbukti selaras secara luas pada krisis iklim.

Menurut data terbaru yang dikumpulkan di AS oleh Pew Research Center; bahkan kaum muda lebih cenderung mengatakan bahwa pemerintah perlu berbuat lebih banyak.

Sebagai penutup, jika kamu seorang laki-laki ataupun perempuan dan kamu tidak menyadari bahwa ini penting, ada sesuatu yang salah pada dirimu.

KLIK INI:  Belasan Pelajar Belanda Belajar Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Editor: Ahmad Fikri

KLIK Pilihan!