Menilik Ekonomi Biodiversitas Indonesia dari Perspektif Sains dan Kebijakan

oleh -63 kali dilihat
Menilik Ekonomi Biodiversitas Indonesia dari Perspektif Sains dan Kebijakan
Manual acara diskusi ALMI mengenai ekonomi biodiversitas Indonesia - Foto/Ist

Klikhijau.com – Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) menggelar akan menggelar diskusi menarik mengenai isu ekonomi biodiversitas Indonesia. Rangkaian acara ini terdiri dari lima sesi yang digelar virtual pada rentang tanggal 25 hingga 29 Maret 2021.

ALMI Merupakan wadah bagi ilmuwan muda terkemuka Indonesia yang didirikan untuk mendorong peran ilmuwan muda dalam memajukan ilmu pengetahuan dan budaya ilmiah unggul di Indonesia, dengan tujuan meningkatkan daya saing bangsa.

Pada diskusi berseri ini, ekonomi biodiversitas akan dibahas dari perspektif sains, kebijakan, maupun mengenai peluang dan tantangan ke depan. Isu ini tentu menarik mengingat masa depan dan pembangunan kita sangat bergantung pada seberapa baik kita menjaga biodiversitas.

Adapun sesi diskusi yang akan digelar antara lain; (1) Bedah laporan ekonomi biodiversitas yang baru saja terbit “The Dasgupta Review”; (2) Diskusi masa depan biodiversitas dan ekonomi Indonesia menurut kaum muda; (3) Paparan temuan awal tentang hubungan biodiversitas dan pertanian di tiga daerah yaitu Riau, Kalimantan Selatan, dan Papua Barat.

Rangkaian acara Ekonomi Biodiversitas Indonesia mempertemukan ilmuwan, pembuat kebijakan, praktisi muda untuk berdiskusi tentang peluang dan tantangan untuk keberlanjutan ekonomi dan keberlanjutan biodiversitas di Indonesia yang berbasis sains.

Rangkaian acara ini diselenggarakan atas kerja sama ALMI, Research Center for Climate Change (RCCC) Universitas Indonesia, World Research Institute (WRI) Indonesia, The Food and Land Use Coalition, dan didukung oleh  Universitas Riau, Universitas Lambung Mangkurat, dan Universitas Negeri Papua sebagai bukti komitmen dalam mensinergikan keberlanjutan ekonomi dan keberlanjutan biodiversitas Indonesia.

KLIK INI:  Sebab Sampah Plastik di Laut, Komunitas Laut Biru Kembali Gelar MDC
Bedah Laporan The Economics of Biodiversity: The Dasgupta Review

Sesi pertama dari rangkaian acara ini menghadirkan Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro.

“Sebagai organisasi induk yang menaungi ALMI, AIPI menyampaikan apresiasi kepada ALMI yang menyelenggarakan acara ini sebagai wujud kontribusi sains untuk biodiversitas Indonesia”, ujar Prof. Satryo dalam sambutannya.

Salah satu laporan penting yang disorot dalam The Dasgupta Review adalah bahwa secara kolektif masyarakat dunia telah salah mengelola sumber daya alam karena kebutuhan konsumsi yang jauh melebihi kapasitasnya.

Kemakmuran dunia saat ini telah menghancurkan alam, dan diperlukan 1,6 bumi untuk mempertahankan standar kehidupan dunia saat ini.

Oleh karena itu laporan ini menyarankan solusi untuk memulai dengan memahami dan menerima kebenaran sederhana bahwa ekonomi kita tertanam di dalam alam, bukan di luarnya.

Laporan ini ditanggapi secara ilmiah oleh para ahli di berbagai bidang dari AIPI dan ALMI. Pada bidang biologi, ahli yang memberikan tanggapan adalah Prof. Jatna Supriatna.

Pada bidang ekologi, Prof. Damayanti Buchori menjadi ahli yang memberikan tanggapan. Pada bidang ekonomi, Prof. Emil Salim dan Dr. Sonny Mumbunan hadir sebagai ahli yang memberikan tanggapan.

Para narasumber dalam diskusi ini menekankan bahwa Indonesia memiliki biodiversitas yang sangat kaya. Kekayaan ini memiliki peluang dan tantangan, sehingga perlu pengelolaan yang seimbang untuk menjamin keberlanjutan ekonomi dan keberlanjutan biodiversitas.

KLIK INI:  Perihal yang Patut Dinantikan dari Opap Gempa Makassar di November
Masa Depan Biodiversitas dan Ekonomi Indonesia: Perspektif Kaum Muda

Sesi ini diawali dengan menyimak sambutan dari Ketua ALMI, Dr. Sri Fatmawati. Dalam sambutannya, Dr. Fatma–sapaan akrabnya, menyambut antusias penyelenggaraan acara ini.

“Sebagai organisasi ilmuwan muda, sangat penting untuk mendengarkan suara kaum muda sebagai generasi penerus bangsa. Keseimbangan menjaga keberlanjutan ekonomi dan keberlanjutan biodiversitas tentunya menjadi modal yang dapat diwariskan untuk kaum muda melanjutkan cita-cita mewujudkan bangsa Indonesia yang unggul”, ujar Dr. Fatma dalam sambutannya.

Dr. Yanuar Nugroho, anggota ALMI, yang menjadi pembicara kunci menegaskan saran yang dikutip dari The Dasgupta Review untuk melakukan perubahan pada tiga transisi besar.

“Pertama, memastikan bahwa permintaan kita pada Alam tidak melebihi pasokannya, dan kita meningkatkan pasokan Alam relatif terhadap levelnya saat ini. Kedua, mengubah ukuran kesuksesan ekonomi kita menjadi di jalur yang lebih berkelanjutan. Ketiga, mengubah institusi dan sistem, khususnya sistem keuangan dan pendidikan, untuk memungkinkan perubahan transformatif di generasi kini dan nanti. Perubahan transformatif dimungkinkan. Kita dan keturunan kita berhak mendapatkannya,” kutip Dr. Yanuar Nugroho.

Sesi dilanjutkan dengan diskusi oleh kaum muda pegiat biodiversitas. Empat narasumber muda yang giat berkontribusi pada pengelolaan ekonomi biodiversitas adalah Nicko Yosafat (Idekonomi), Sheherazade (Tambora Muda), Hazman Atsan (Yayasan KEHATI), dan Dhita Mutiara Nabella (Basic Income for Nature and Climate Project Universitas Indonesia).

Para narasumber memberikan tanggapan mereka sebagai kaum muda atas laporan yang disampaikan dalam The Dasgupta Review.

Dalam diskusi ini, keempat narasumber muda juga menawarkan solusi yang dapat dilakukan secara bersama oleh kaum muda, berdasarkan pengalaman mereka di organisasi tempat mereka berkontribusi.

KLIK INI:  Ada Diskusi Penanganan Plastik Sekali Pakai di Sulsel Expo, Besok!
Melihat dari Tiga Daerah: Biodiversitas, Pertanian, dan Studi Sistematis Provinsi Riau, Provinsi Kalimantan Selatan, dan Provinsi Papua Barat

Ketiga sesi ini dilaksanakan pada tiga waktu yang berbeda. Untuk Provinsi Riau, gelaran virtual dilaksanakan pada tanggal 25 Maret, seperti dua sesi yang telah dituliskan sebelumnya.

Sementara untuk pembahasan Provinsi Kalimantan Selatan, acara akan dilaksanakan pada 26 Maret; dan Provinsi Papua Barat pada 29 Maret mendatang.

Untuk daerah Riau, Prof. Endang Sukara dari AIPI, Prof. Fitmawati dari FMIPA Universitas Riau, Dr. Arifudin dari FAPERTA Universitas Riau, dan Mukhlis Jamal M.H., M.Env.Sc. dari Department of Zoology University of Oxford hadir sebagai narasumber. Pembahasan ini dipandu oleh Yondriadi dari FT Universitas Riau sebagai moderator.

Untuk daerah Kalimantan Selatan, narasumber yang hadir adalah Prof. Raihani Wahdah dan Dr. Akhmad Rizally Saidy dari FAPERTA Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Nurul L. Winarni dari FMIPA Universitas Indonesia, dan Via Apriyani, M.Sc. dari RCCC Universitas Indonesia.

Untuk daerah Papua Barat, narasumber yang hadir adalah Ketua Konsorsium Biologi Indonesia, Prof. Budi S. Daryono, Dr. Keliopas Krey dari FMIPA Universitas Negeri Papua, Dr. Antonius Suparno dari FAPERTA Universitas Negeri Papua, dan Dr. Fitria Tisa Oktalira dari RCCC Universitas Indonesia.

Secara garis besar, ketiga sesi ini memfasilitasi pemaparan tentang kerangka kerja hubungan pertanian tropis dan biodiversitas (TABF) serta temuan awal penelitian tentang hubungan pertanian tropis dan biodiversitas.

KLIK INI:  Melindungi Biodiversitas Laut dan Pesisir Indonesia Melalui Kolaborasi Riset

TABF relevan untuk konteks tropis dan berfokus pada kegiatan pertanian. Kerangka kerja ini memperhitungkan komponen biodiversitas yang hidup di agroekosistem dan habitat alami, serta memperhitungkan bencana alami dan manusia.

TABF juga memiliki pembagian spasial yaitu agroekosistem dan habitat alami, dan pengelompokan spesies liar yang jelas.

Temuan awal penelitian tentang hubungan pertanian tropis dan biodiversitas merupakan hasil dari sintesis 10 ribuan artikel jurnal ilmiah tentang hubungan pertanian tropis dan biodiversitas, khususnya pada komoditas pangan prioritas dan komoditas kopi.

Temuan awal untuk pertanian tropis menunjukkan dampak pengelolaan pertanian terhadap biodiversitas sangat besar ke arah negatif.

Sementara dampak biodiversitas terhadap pertanian tidak signifikan. Temuan awal ini diharapkan menjadi acuan untuk membahas rencana food estate yang digagas oleh pemerintah Indonesia, supaya sejalan dengan perwujudan pertanian yang berkelanjutan untuk biodiversitas tropis.

Sementara untuk komoditas kopi, proses penelitian masih dalam proses penapisan tahap 2. Pada sesi ini, terlaksana diskusi yang produktif membahas tentang implementasi praktik pertanian berupa agroforestri atau polikultur yang berpotensi lebih ramah terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati serta memberikan keuntungan sosial-ekonomi yang lebih baik.

Keseluruhan rangkaian acara ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk menyadari bahwa solusi untuk keberlanjutan ekonomi dan keberlanjutan biodiversitas harus “dimulai dengan memahami dan menerima kebenaran sederhana: ekonomi kita tertanam di dalam alam, bukan di luarnya; seperti yang disampaikan oleh Prof. Partha Sarathi Dasgupta dalam laporannya.

Bila tertarik ikut diskusi menarik ini, sila masuk di link pendaftarannya: bit.ly/REG_ALMIBio.

KLIK INI:  Peredaran Satwa Liar Dilindungi di Sulawesi Utara Mulai Ditertibkan