Mengurai Keunggulan Pohon Trengguli sebagai Tanaman Hias dan Obat

oleh -13 kali dilihat
Mengurai Keunggulan Pohon Trengguli sebagai Tanaman Hias dan Obat
Pohon trengguli-foto/Pixabay

Klikhijau.com – Pohon Trengguli, ukuran tubuhnya termasuk sedang, hanya bisa mencapai ketinggian 15 hingga 20 meter.

Ukurannya yang sedang itulah yang memberinya peluang menjadikan dirinya sebagai tanaman hias. Ia memiliki kulit batang yang halus. Warnanya abu-abu kehijauan saat masih berusia muda.

Namun, ketika telah dewasa, pohon bernama latin Cassia fistula L akan ini akan memiliki  warna kulit menjadi cokelat dan kasar.

Pohon dari ordo Malpighiales berasal dari India lalu menyebar ke daerah lain, termasuk Indonesia. Khusus di daerah Jawa, pohon ini  tumbuh banyak pada ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut.

KLIK INI:  Air Sungai Batahan Berbau Menyengat Akibat Tercemar Limbah Kelapa Sawit?

Daerah pertumbuhannya tidak sembarangan, karena tidak bisa terlalu tinggi, jika lebih  dari  400 mdpl, maka pertumbuhannya kurang baik, bahkan enggan berbunga.

Ia tersebar di Indonesia,  Pakistan, Filipina, Thailand,  India, Nyanmar, Sri Langka, dan Nugini.

Jika ingin memperbanyak pohon dari kelas Magnoliopsida bisa melalui biji—ini cara alami dalam hal penyebarannya.

Cara lain yang bisa dilakukan untuk memperbanyaknya melalui stek batang. Menurut Wijayakusuma, (2000) stek batang ini  cocok dilakukan jika ingin menjadikan pohon ini sebagai tanaman hias

Deskripsi pohon trengguli

Pohon ini memiliki batang  60  hingga 70 cm. Ia merupakan tumbuhan yang tumbuh bengkok. Tingginya bisa mencapai 15 hingga 20 meter.  Ia bisa ditemukan di dataran rendah.

Trengguli merupakan genus Cassia. Memiliki  batang  berkayu. Bentuknya bulat, bercabang dan  berwarna hijau kecokelatan.

Pohon ini berdaun majemuk menyirip genap. Memiliki tiga hingga delapan pasang. Berbentuk bulat seperti telur.

Pada ujung pangkalnya membulat. Sementara  bagian tepinya rata–memiliki panjang  6 hingga 20 cm. Warnanya hijau.

Sedangkan bagian bunga, majemuk membentuk perbungaan yang memanjang. Bunga ini muncul di sekitar ketiak daun. Panjangnya sekitar 15 hingga 40 cm.

Kelopaknya bertajuk lima, berwarna hijau. Bunganya ini memiliki daun pelindung kecil. Daun pelindung tersebut  cepat rontok.

Pohon ini memiliki panjang mahkota bunga 2 sampai 3,5 cm. Warnanya kuning dan berbau harum.

Hal lain yang menarik dari pohon ini adalah buah polongnya. Bentuknya  bulat memanjang, bisa mencapai panjang 45 cm. Buahnya memiliki sifat menggantung. Warnanya cokelat.

Antara buah yang masih muda dan matang bisa dibedakan dari warna kulitnya. Saat masih muda akan berwarna putih, dan ketika  matang akan berwarna cokelat. Isi buanya cukup banyak bisa berisi antara 40 sampai 400 biji, (Agromedia, 2008).

KLIK INI:  Duka Mendalam Atas Musibah TN Sebangau, Jajaran KLHK Kibarkan Bendera Setengah Tiang
Klasifikasi ilmiah
  • Kingdom : Plantae
  • Divisi : Magnoliophyta
  • Kelas : Magnoliopsida
  • Ordo : Malpighiales
  • Famili : Fabaceae
  • Genus : Cassia
  • Spesies : Cassia fistula L.
Manfaat  pohon trengguli

Di daerah tropik, pohon ini telah digunakan sejak dulu sebagai laksatif.  Secara tradisional di Thailand digunakan sebagai anthelmintic.

Kayunya kadang-kadang digunakan untuk gerobak, tonggak,  dan alat-alat pertanian. Pepagan dipakai untuk penyamakan dan sebagai bahan dalam pasta sirih. Bunga dan daunnya kadang dimakan.

Pohon ini juga berfungsi sebagai anti mikroba. Itu melahirkan  harapan dapat menekan harga obat. Pohon ini bisa menjadi sumber bahan baku obat.

Bagian yang bisa digunakan sebagai obat adalah kulit dan daunnya. Trengguli mengandung glikosida, flavonoid, rhein, krisopanol, dan senoside A,B.

Kayu pohon ini dapat dimanfaatkan sebagai jembatan. Sifatnya yang awet dan kuat menjadikannya pilihan untuk kontruksi jembatan.

Sedangkan pada  seduhan daunnya dapat mengobati  penyakit urus-urus  atau kesulitan pencernaan, bahkan bisa digunakan sebagai obat luar untuk ternak kerbau

Tumbuhan ini bisa pula dimanfaatkan untuk penyakit seperti kadas,  panu, borok,  bisul, koreng, luka bakar, jerawat, pusing-pusing, cacar air, dan urusurus atau mencret, (Shirly Kumala dkk, 2006).

KLIK INI:  Tanaman Lee Kwan Yew, Dekorasi Alami dengan Aksentuasi Hijau Daun  

Tiffani dan Yedi (2017) mengungkapkan jika pohon ini  memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antibakteri, antidiabetik, dan antiinflamasi.

Sementara Rusdiyanti (2019) mengemukakan hasil ekstrak etanol kulit pohon ini memiliki aktivitas antibakteri pada Pseudomonas aeruginosa.

Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ekstrak 50 persen. Zona hambat yang terjadi sebesar 6,6 mm. Bakteri Pseudomonas aerugenosa sendiri merupakan bakteri gram negatif. Bakteri ini dapat menginfeksi kulit.

Daun dari pohon ini kerap digunakan sebagai bahan memerami buah-buahan, jauh  sebelum karbit bermunculan.

Bunganya yang berwarna kuning, membuatnya diburu untuk dijadikan tanaman hias. Apalagi bunganya memiliki bau yang harum.

KLIK INI:  Kopi, Juna dan Pengetahuan Sederhana Soal Kopi di Sulsel Expo