Mengintip Desa yang Melawan Kerusakan Alam dengan Transisi Energi Biogas

oleh -51 kali dilihat
Mengintip Desa yang Melawan Kerusakan Alam dengan Transisi Energi Biogas
Mengintip Desa yang Melawan Kerusakan Alam dengan Transisi Energi Biogas-foto/PPLH Bohorok

Klikhijau.com – Desa merupakan lumbung sumber daya alam. Dari desalah, sumber daya alam itu mengalair ke kota. Namun meski begitu, pembangunannya tetap saja finis pada urutan buncit dari pembangunan kota.

Namun, ada pula desa yang mampu bangkit, memandirikan diri dari ketergantungan akan kota. Desa-desa ini menjadikan sumber daya alam yang ada di sekitarnya lebih bermanfaat, sehingga tak lagi menggantukan diri pada produksi barang-barang kota.

Desa, nyaris menyediakan semua yang dibutuhkan untuk menyambung napas warganya, dalam hal energi misalnya, khususnya energi biogas.

KLIK INI:  Bermain Gadget Saat Berkendara, Ini Bahayanya!

Iya, salah satu yang bisa ditempuh adalah mengembangkan untuk merdeka dari penggunaan gas adalah dengan biogas atau gas yang dihasilkan dari fermentasi bahan organik.

Bahan-bahan itu bisa berupa kotoran manusia, hewan, dan  limbah organik yang memiliki kandungan metana dan karbon dioksida.

Apalagi saat ini telah ada program Biogas Rumah  (BIRU). Program ini merupakan  hasil kerjasama Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral dengan pemerintah Belanda dan Norwegia.

Tujuannya untuk membantu masyarakat desa menyediakan reaktor biogas di sembilan provinsi di Indonesia.

Kerjasama itu telah melahirkan desa yang mandiri dalam pengguanaan gas. Desa-desa ini tak perlu lagi puyeng untuk membeli gas saat hendak memasak atau ke hutan mencari kayu bakar.

Program tersebut secara otomatis pula, telah berkontribusi dalam pelestarian alam, karena masyarakat tak lagi menebang pohon untuk keperluan memasak. Dan juga kotoran dan limbah tak lagi mencemari lingkungan pula.

Ini 5 desa yang melawan kerusakan alam dan memerdekakan diri dalam penggunaan gas tanpa perlu mengeluarkan biaya

Ini 5 desa yang membuktikan jika kemandirian dalam penggunaan gas bisa diterapkan melalui  biogas.

  • Desa Penyabangan, Bali

Di desa ini sedikitnya telah ada 44 rumah yang menggunakan biogas. Jauh sebelum warga beralih menggunakan biogas, mereka menggunakan kayu bakar untuk memasak. Penggunaan kayu bakar itu didukung pula oleh aktvitas warganya yang  mayoritas  petani.

Namun, sejak tahun 2011 lalu warga mulai mengolah  kotoran hewan ternaknya menjadi biogas. Mereka meninggalkan kebiasaannya menggunakan kayu bakar kemudian beralih memasak menggunakan biogas. Jadi,  meski harga gas elpiji dari hari ke hari semakin meninggi, namun warga di desa ini tak merasa khawatir, sebab mereka bisa memasak dengan nyaman tanpa mengeluarkan biaya dan tenaga mengambil kayu bakar.

KLIK INI:  Begini Pandangan Islam tentang Kolam Ikan Depan Rumah!
  • Pasuruan, Jawa Timur

Di Pasuruan, bukan hanya satu desa yang beralih menggunakan biogas, tapi ada empat desa yang telah menggunakannya.

Hasilnya luar biasa, sebab warga di empat desa itu (Cemoro, Gunung Sari, Ngempiring, dan Kumbo) bisa menghemat hingga ratusan ribu rupiah perbulan.

Saat ini, keempat desa tersebut telah  merdeka  dari menggunakan gas elpiji dan kayu bakar untuk mengepulkan asap dapurnya.

  • Cabbeng Bone, Sulawesi Selatan

Penggunaan biogas di desa ini telah dimulai pada tahun 2013 lalu. Warga  mengolah kotoran ternaknya menjadii biogas untuk keperluan rumah tangga.

Desa Cabbeng yang memiliki  luas 6,8 kilometer ini, terdapat  30 alat pengolah limbah kotoran ternak.

Kehadiran biogas tersebut cukup membantu warga setempat. Bayangkan, dengan kotoran dua ekor sapi saja, warga  sudah bisa memasak hingga 8 jam lamanya.

Tak berhenti di situ saja, ampas dari hasil pengolahan biogas ini tak dibuang begitu saja sehingga bisa mencemari lingkungan, tapi dimanfaatkan menjadi pupuk organik yang digunakan untuk menyuburkan tanaman.

KLIK INI:  Waspada Bahayanya, Ini 5 Fakta Ilmiah Dampak Serius Gadget Bagi Kesuburan
  • Desa Argosari, Malang

Sebelum menggunakan biogas, warga mengepulkan dapurnya dengan kayu bakar. Mereka bahkan sering menebangi pohon untuk memenuhi kebutuhan memasaknya.

Maka beralihnya penggunaan kayu bakar ke biogas membawa keuntungan tersendiri, bukan hanya menghemat biaya dan tenaga, tetapi juga memberi sumbangsi besar dalam pelestarian alam.

Jika dulu warga Desa Argosari menebangi pohon di hutan untuk kayu bakar, sekarang mereka justru menanaminya kembali dan  merawatnya dengan sepenuh cinta.

Dampak dari penanaman kembali pohon itu adalah debit air di desa ini terus terjaga.

  • Desa Medowo, Kediri

Desa ini dihuni oleh mayoritas peternak sapi perah. Karena itulah warganya tak kesulitan dalam memenuhi bahan baku biogas karena sumber dayanya cukup melimpah.

Dengan mengolah kotoran ternak mereka menjadi biogas, warga di desa ini pun berhasil mengurangi pencemaran air sungai, bahkan mampu mencegah pencemaran sungai hingga 90 persen, sehingga sungai kembali mengalirkan airnya yang jernih.

Lima desa tersebut, bisa jadi contoh bagi desa lain  untuk beralih menggunakan biogas untuk mengepulkan asap dapurnya.

Apalagi desa merupakan lumbung dari semua sumber daya yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Kamu bisa membayangkan penggunaan biogas bisa menyeluruh ke semua desa yang ada di Indonesia, maka subsidi dan kerusakan alam yang disebabkan oleh produksi gas dan pengambilan kayu bakar bisa menipis.

KLIK INI:  Lari Sekali Seminggu Bisa Kurangi Risiko Kematian Dini, Benarkah?