Menghindari PSP Serupa Menghindari Kenangan dengan Mantan Kekasih

Publish by -15 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Di Kota Ini Perempuan Menjahit dan Merenda dengan Bahan Daur Ulang
plastik, salah satu jenis sampah yang isa ddaur ulang/foto-Pantau.com

Kita tak menyadarinya jika sedangn berada dalam jebakan batman plastik sekali pakai

Klikhijau.com – Plastik sekali pakai (PSP) telah menjalari denyut kehidupan masyarakat. Tak hanya di perkotaan, tapi jalarannya telah sampai ke pedesaan.

Menghindarinya ibarat menghidari macet di jalan raya, terkadang kita mencari jalan alternatif agar bisa lolos dari kemacetan. Namun, justru yang ditemukan adalah jalan yang lebih macet.

Begitu pula plastik sekali pakai. Saya seringkali mencoba menghindarinya, namun selalu gagal. Selalu saja ada jebakan ‘batman’ yang dipasang untuk menjebak mangsanya.

KLIK INI:  Menteri LHK: Rehabilitasi Hutan dan Lahan Tidak Hanya Menanam

Mangsa plastik sekali pakai adalah manusia. Iya PSP, diciptakan dari alam oleh manusia untuk manusia dan akan kembali pula ke alam.

Pengembalian PSP ke alam inilah yang jadi masalah sesungguhnya. PSP kembali dengan wajah lain yang disebut sampah plastik.

Ketika telah kembali ke alam, masalahnya akan sangat rumit sebab butuh waktu hingga ratusan tahun untuk terurai—pun akan berubah jadi mikroplastik yang juga berbahaya.

Kampanye ramah lingkungan dan bahkan pelarangan penggunaan plastik sekali pakai telah banyak dikeluarkan oleh pemerintah. Bahkan ada beberapa negara telah mengeluarkan aturan keras agar masyarakatnya tidak lagi menggunakan PSP.

Sebut saja Jerman, salah satu negara yang telah mengeluarkan kebijakan tersebut. Pada tahun 2021 mendatang Jerman akan melarang total penggunaan PSP.

Di Indonesia aturan tersebut di beberapa kota juga telah berlaku, khususnya penggunaan kantong plastik. Masalahnya bukan hanya kantong plastik yang berpotensi menjadi sampah plastik, tapi juga kemasan air minum hingga pembungkus krupuk.

KLIK INI:  Daeng Supu', Lelaki yang Memancing Plastik di Tepi Kanal
Jebakan batman PSP

Menghindari PSP serupa menghindari kenangan dengan mantan kekasih. Sangat sulit, saya akui  itu. Penyebabnya karena kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang bahaya sampah plastik masih sangat minim.

Saya memberikan contoh kecil, saya pernah mendatangi sebuah pesta pernikahan di Kecamatan Mallawa, Maros. Saya membawa tumbler ke pesta tersebut.

Banyak mata tertuju pada tumbler yang saya bawa, ada bahkan yang bertanya untuk apa. Ketika saya jelaskan tujuannya, ada  tertawa mengejek.

Pesta pernikahan adalah salah satu sarang yang penuh dengan jebakan PSP, khususnya untuk air minum, sebab dominan menggunakan air minum mineral kemasan.

Air minum kemasan dipilih karena dianggap lebih simple dan tak merepotkan. Kaum perempuan tak perlu lagi berjibaku mencuci gelas, dan juga bertarung di dapur memasak air.

KLIK INI:  Ecobrick dari Russel Maier Hingga ke MA GUPPI Kindang

Tak mengherankan jika kamu mengunjungi sebuah pesta, kamu tak akan lagi menemukan gelas yang berjejer untuk air minum seperti dulu—yang ada hanyalah air kemasan mineral.

Dua hari lalu, Senin, 29 Juni 2020 saya mengunjungi acara akikah yang digelar sepupu saya, kejadian serupa pun terjadi—air yang disediakan adalah air kemasan mineral.

Pembungkus air tersebut begitu selesai diseruput airnya, akan dibuang begitu saja ke lingkungan dan sebagian akan dibakar. Padahal membakar sampah plastik bukanlah solusi yang baik, sebab juga membawa ancaman bahaya bagi kesehatan, dan bahkan berdampak pada pemnasana global.

Saya menduga, salah satu penyebab meningkatnya sampah plastik, karena banyak orang yang terjebak menggunakannya—ditambah lagi kesadaran masyarakat dan peraturan pemerintah yang masih longgar.

Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), total sampah di Indonesia tahun 2019 akan mencapai 68 juta ton dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton.

Menurut catatan  KLHK peningkatan komposisi sampah plastik sekitar 5—6 persen per tahun sejak 2000.

KLIK INI:  Di Tangan Ilmuwan Inggris, Sampah Plastik Disulap Jadi Listrik

Salah satu komunitas, yakni Tzu Chi yang bergerak di bidang lingkungan, khususnya dalam bidang daur ulang sampah plastik mengakui dalam waktu 1 bulan  dapat mengumpulkan kurang lebih sebanyak 4 ton sampah plastik.

Bisa kamu bayangkan, satu komunitas saja bisa mengumpulkan hingga 4 ton sampah plastik hanya dalam waktu satu bulan.

Dan yang parahnya lagi, menurut Erlan selaku  administrasi dari Tzu Chi  ada berberapa sampah plastik yang ditemukan sulit untuk diurai  menjadi bahan daur ulang.

Sampah-sampah itu pun hanya menumpuk saja dan kembali menjadi sampah plastik. Dan kita tak menyadarinya jika sedangn berada dalam jebakan batman plastik sekali pakai atau PSP.

KLIK INI:  Mendebarkan, Indonesia Terancam Kekeringan karena Kemarau Panjang?

 

Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!