Menghilang Lebih dari Seabad, Burung Hantu Ini Kembali Muncul

oleh -40 kali dilihat
Menghilang Lebih Seabad, Burung Hantu Ini Kembali Muncul
Menghilang Lebih Seabad, Burung Hantu Ini Kembali Muncul-foto/cnnindonesia

Klikhijau.com – Dengan mata yang besar. Burung hantu memang terlihat sangar dan menakutkan. Burung hantu merupakan kelompok  dari anggota ordo Strigiformes.

Satwa malam ini atau nokturnal memiliki banyak spesies, sekitar 222 spesies. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging). Ia tersebar di seluruh dunia, yang tidak dihuninya hanyalah Antarktika, beberapa pulau-pulau terpencil, dan sebagian besar Greenland.

Namun, meski tersebar hampir di seluruh dunia dan memiliki spesies yang banyak. Ada satu burung hantu yang hingga kini masih misteri keberadaannya, yakni subspesies Borneo dari jenis Rajah scops (Otus brookii).

Burung hantu ini telah lama menghilang. Ia pertama kali diidentifikasi dari hutan pegunungan di negara bagian Sabah, Malaysia. Ia baru kembali terlihat setelah seabad lebih.

KLIK INI:  Mengenal Tawon Vespa Affinis yang Membahayakan, Begini Penjelasannya!

Pertama kali burung ini terlacak pada pada 1892. Setelah itu keberadaannya bak ditelan bumi. Tak ada lagi dokumentasi, tak ada mata kamera yang berhasil merekam keberadaannya.

Dan setelah seabad lebih berlalu. Burung ini kembali ditemukan pada tahun 2016 lalu oleh sekelompok peneliti. Mereka berhasil mendokumentasikan kemunculan subspesies Borneo dari jenis Otus brookii itu.

Keberadaannya terindentifikasi pada ketinggian 1.650 meter di atas permukaan laut (Mdpl) di pegunungan Sabah, Malaysia.

Ia ditemukan pada tanggal 4 Mei 2016. Penemuan itu merupakan bagian dari studi 10 tahun evolusi sejarah kehidupan burung di Gunung Kinabalu.

Adalah Thomas E. Martin yang merupakan ahli biologi satwa liar dari University of Montana  yang memimpin proyek penelitian tersebut.

Proyek itu membutuhkan pencarian sarang secara intensif. Mereka mengumpulkan informasi ekologi mengenai burung.

Penemuan tak disengaja

Penemuan Otus brookii sebenarnya adalah penemuan yang tak disengaja. Para peneliti menemukannya setelah lebih tujuh tahun meneliti.

Andy Boyce, Seorang ahli ekologi burung di Pusat Ekologi Konservasi Biologi Smithsonian (SCBI). Yang saat itu kebetulan bekerja di laboratorium Taman Nasional Kinabalu.

KLIK INI:  Paul dan Seekor Gurita Kelapa yang Terancam Akibat Gelas Plastik

Ketika itu Andy diberitahu oleh teknisi, ada burung hantu yang tampilannya berbeda dari burung hantu gunung pada umumnya. Ia mengaku terpesona.

Ketika mendapat telepon tentang kabar adanya burung hantu aneh. Andy mengaku sedang berada di laboratorium di taman Nasional Kinabalu.

Saat itu, ia sedang mengukur tingkat metabolisme dan toleransi dingin untuk beberapa spesies umum sebagai bagian dari gelar Ph.D.

“Saya terpesona oleh hal-hal kecil ornitologi dan hal-hal kecil dari burung hantu yang hilang ini,” ungkap Andy.

Andy juga menuturkan bahwa informasi mengenai  spesies burung hantu Rajah scops itu tersimpan lama pada kenangannya, pada memori otaknya beberapa tahun.

“Saya sangat senang berada di lokasi ketika spesies langka itu muncul,” akunya.

Andy juga menambahkan bahwa temuan itu merupakan perkembangan emosional yang cepat. Apalagi penemuan tersebut menghasilan foto pertama dari burung itu setelah lama menghilang

“Saya terkejut dan gembira luar biasa karena kami menemukan burung mitos ini, kemudian saya harus mendokumentasikannya secepat yang saya bisa,” ujarnya seperti dikutip CNN.

KLIK INI:  Begonia Enoplocampa, Spesies Baru Tumbuhan yang Hanya Ada di Selayar
Ciri burung hantu Rajah scops

Burung hantu ini memiliki ukuran tubuh yang kecil. Berat badannya hanya 100 gram. Sedangkan panjang mencapai hingga 24 sentimeter.

Hal yang mencolok dari dirinya adalah ia memiliki penampilan dengan bulu rufous, ada guratan hitam di dada, memiliki jambul telinga yang khas dengan sisi dalam putih, dan ia memiliki mata kuning yang tajam.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Burung hantu Rajah scops menurut beberapa informasi ekologinya berasal dari subspesies Sumatera (O. b. Solokensis).

Burung malam ini memiliki status perlindungan berdasarkan Red List IUCN, saat ini terdaftar dalam kategori yang ‘paling tidak diperhatikan’.

Setelah melahirkan kabar gembira oleh kehadirannya, burung ini kembali membawa kabar buruk, yakni hutan yang menjadi tempat tinggalnya sedang  berada di bawah tekanan deforestasi dan perubahan iklim.

Kedua ancaman tersebut yang berpotensi merampas “kembali” burung hantu ini, karena penyusutan habitatnya semakin terancam.

Burung malam ini merupakan burung yang sulit ditemukan apalagi ditangkap. Penemuan itu berlangsung selama 2 jam. Dan pada akhirnya si Rajah scops  terbang kembali dan menghilang. Hingga tahun 2021 ini, belum ada lagi laporan penemuannya. Apakah ia akan kembali menghilang selama seabad?

KLIK INI:  Burung Kuntul Kerbau, Penyeimbang dan Pengendali Hama pada Ekosistem Persawahan