Mengenang Ajip Rosidi dalam 9 Puisinya yang Bercerita tentang Alam

Publish by -1.549 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Mengenang Ajip Rosidi dalam 9 Puisinya yang Bercerita tentang Alam
Ajip Rosidi/foto- Ist

Klikhijau.com – Puisi-puisi Ajip Rosidi banyak menggunakan diksi alam. Penggunaan diksi alam tersebut memiliki kekuatan yang menyentak dan menyentuh.

Ajip Rosidi atau Ayip Rosidi adalah tokoh penting bagi Indonesia. Ia menekuni banyak pekerjaan, mulai dari, penulis, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbit. Ia adalah pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage.

Ia lahir di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938  dan meninggal di Magelang, 29 Juli 2020 pada umur 82 tahun.

Ajip Rosidi lebih dikenal sebagai adalah sastrawan Indonesia. Ia memperoleh banyak penghargaan, di antaranya dalam Kongres Kebudayaan tahun 1957 di Denpasar,  mendapat Hadiah Sastra Nasional  untuk sajak-sajak yang ditulisnya tahun 1955-1956.

KLIK INI:  Bercocok Cinta di Gelombang

Pada tahun 1960 dalam Kongres  Kebudayaan di Bandung, mendapat Hadiah Sastra Nasional  untuk kumpulan cerita pendeknya yang berjudul  Sebuah Rumah Buat Hari Tua.

Tahun-tahun Kematian merupakan buku pertamanya yang terbit ketika usianya 17 tahun 1955, diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya sekitar seratus judul

Kali ini, untuk mengenang salah satu sastrawan besar Indonesia itu, Klikhijau.com akan memuat 9 puisi Aji Rosidi yang bercerita tentang alam atau tepatnya menggunakan diksi-diksi alam yang memukau  dan jadi kekuatan puisinya:

KLIK INI:  Laut Biru, Laut tanpa Plastik
Angin Berkesiur

angin berkesiur
daun pun gugur

angin berkelana
cintaku mengembara

gadisku mawar
menanti tak sabar

gadis yang rindu
kudekap dalam pelukan bisu

1954

 

Lagu Tanah Air

1.
Adalah hijau pegunungan
Adalah biru lautan
Adalah hijau
Adalah biru
Langit dan hatiku
Adalah aku pucuk tatapan
Adalah pucuk
Adalah tatapan
Adalah pucuk senapan
Mengarah ke dadaku

2.
Hijau pegunungan biru lautan
Tiadalah harapan adalah ketakutan
Hijau pegunungan biru lautan
Tiadalah ketentraman adalah ancaman
Adalah karena cintaku
Adalah karena kucinta
Langit merah jalan berdebu
Rumah punah jalan terbuka

3.
Bunga tumbuh mawar biru
Kembang wera kembang jayanti
Tanah yang kujejak rindu
Kan kurangkum dalam hati

KLIK INI:  Di Suatu Hari yang Hujan
Jeram

Air beterjunan dalam jeram
Buihnya memercik ke tebing tempat kami berbaring
Dan ia mengelaikan kepala
Dengan mata meram terpejam
Atas tanganku yang mencari-cari
Arah manakah burung gagak hinggap
yang suaranya nyaring
Memecah ketenangan hutan
Sehabis hujan.

Air beterjunan dalam jeram
Jerom gemuruh dalam darahku
Dan dalam mimpi keabadian yang nyaman
Kubisikkan kata-kata bagaikan desir angin
Mengeringkan keringat atas kening
Sedang mataku memandang tak yakin
Air berbuih yang menghilir
Entah kapan ‘kan tiba
Di muara

Air beterjunan dalam jeram
Kata-kata beterjunan dari mulutku
Sungai pun tahu arti muara
Yang tak sia-sia menunggu.

Burung gagak berteriak entah di mana
Dan ia bersenandung entah mengapa
Karena dalam kesesaatan tak terjawab tanya lama

Yang sudah lama hanya tanya: Hingga mana? Pabila?
Mau apa… ?

Dan dengan jari-jari gemetar
Kuyakinkan hatiku sendiri: Segalanya
Berlaku percuma serta sia-sia

Dan perempuan ini ‘kan mati dalam kepingin
Karena angin hanya angin

Karena jeram beterjunan dalam diriku
Yang tak mengenal musim kemarau

Air beterjunan dalam jeram
Dan jeram beterjunan dalam darahku.

1962

KLIK INI:  Kudengar Bisik Alam Memanggilmanggilku
Sungai

Dari hulu hingga ke muara, berapa kali ganti nama?
Air yang mengalir sama juga, hanya saja bertukar warna

Tretes Malamhari

Di Tretes malamhari
Semuanya jadi mati:
Surabaya nun jauh di bawah
Gunung Wilis terpacak sebelah kiri

(Aku teringat akan leluri
Ten tang Buta Locaya dan Plecing Kuning)

Apakah Waktu di sini berhenti
Mengendap dalam cahaya lampu pelabuhan
di tepi kaki langit?

Angin naik dari lembah.
Bayang-bayang daun bergoyang
Rumput-rumput pun berdesir.
Ataukah
Hanya hatiku bergetar?

Kucari kau .
Kucari di remang hijau.
Yang mengambang di muka kolam
Wajahmu ataukah bayangan bulan?

Lalu kututupkan jendela.

Malam lengang.
Malamku yang lengang.

1968

KLIK INI:  Tanah Air Mata
Mimpi Kita Siang hari

I
Dalam terik sinar matahari
Kulihat kau melambai:
Bayang-bayangku ataukah aku sendiri
Yang kaupeluk dan kaubelai?

II
Kebun belakang rumah, kolam ikan
Anak-anak bermain, kau menyulam
Menjalin helai-helai peruntungan kita
Dengan benang cinta.

III
Dalam cahaya rembulan
Kau perlahan bersenandung
Meski terpisah gelombang lautan
Kudengar sansai suaramu murung

IV
Jalan lengang panjang,
Wahai!
Mengarah ke batik kelam,
Aduhai!

 

Cinta dan Kepercayaan

Dalam hidup ‘kan kupertahankan
Nilai hubungan antar-manusia, didasarkan
Atas cinta dan kepercayaan.
‘Kan kupertahankan kehangatan
Gamitan dua tangan, menyampaikan
Kehangatan rasa dua jiwa.

Cinta adalah bunga tumbuh
Atas kesuburan tanah kasih, berakarkan
Hati mau mengerti, saling membagi.
Dan kepercayaan, landasan
Kerelaan dan kemesraan.
Pertalian dua hati.

1960

KLIK INI:  Bila Daun Itu Lepas

 

Matahari

Kutembus mega yang putih, yang kelabu, yang hitam sekali
Di baliknya kucari yang terang : Sinar si matahari!

 

Jalan Lempeng

sebuah lukisan S. Soedjojono

Burung gagak, burung gagak! Biarkan dia berjalan!
Biarkan dia berjalan, membungkuk pada keyakinannya
Bertolak dari bumi kehidupan lampau, begitu ia melangkah
Pasti dan yakin. Karena ada mimpi di balik gunung itu:
Lembah hijau hidup segar. Karena di sini batu mencair
Gurun mati. Tandus dan sepi.

Burung gagak, biarkan dia berjalan. Di ruas-ruas langkahnya
Menyala dendam pada bumi lampau. Di dadanya padat kesumat
Pada dunia kehidupan yang mati di sini.

Burung gagak, sampaikan salamku padanya. Salam bagi
Yang sudah melangkah atas keyakinan. Salam bagi
Yang sudah berani bikin perhitungan tandas sekali.

Gunung-gunung yang membatu, gersang dan kering,
kan takluk pada tapaknya.
Satu demi satu kan dilewatinya. Ia terjang dunia mati.

Burung gagak, kini ia berjalan. Melangkah dengan gagah
Ia tahu di balik gunung ada mimpi, ada lembah
Tidak cair meleleh seperti bumi yang menggolak ini.
Semua kan tunduk kepadaNya.
Semua kan menyerah pada langkahnya. Karena ia berjalan
Atas keyakinan.

Biarkan dia berjalan!

Gunung dari lembah sana, gaung dari mimpi diri.
Burung gagak, ia dengar nyanyi itu. Dan ia menuju ke situ.

Pohon-pohon mati dan sepi. Padang pun mati dan sepi.
Batu-batu mencongak ngeri, tajam dan mengancam.
Tapi ia melangkah menuju lembah-lembah mimpi.

Ia sendirian. Batu-batu dan alam geram.
Gunung mendinding di ujung. Langit pun kan menerkam.
Dan ia melangkah dengan pasti: Batu cair jadi beku.

Langit pun jadi membiru, mengucapkan selamat jalan
Menempuh kehidupan.

Burung gagak, burung gagak, biarkan dia berjalan
Sampaikan salam yang erat dan hangat. Ia yang yakin
Ada mimpi di balik gunung batu, ada lembah hijau dan lembut
Kehidupan tenang, sawah-ladang, padang rumput….

Jangan kauganggu!

1955

Nah, itulah 9 puisi Ajip Rosidi yang menggunakan diksi alam yang memukau. Selamat jalan Sastrawan, karyamu tetap abadi. Semoga engkau mendapat tempat yang layak di sisiNya.

KLIK INI:  Pohon Kenangan Ibu
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!