Mengenal Jenis Ukuran Sampah Laut dan Tempat Bermukimnya

oleh -37 kali dilihat
Indonesia Butuh Lebih Banyak Penelitian tentang Dampak Plastik di Laut
Dampak sampah plastik di laut/Foto-tempo.co

Klikhijau.com – Laut sedang berada dalam masalah. Bukan hanya karena penangkapan ikan yang menggunakan bahan peledak, reklamasi, dan abrasi.

Namun, sampah telah menjadi masalah serius yang harus diperangi. Laut seolah menjadi tempat berkumpulnya berbagai ukuran dan jenis sampah.

Ia seperti pusat perbelanjaan. Semua barang yang diproduksi oleh manusia bisa ditemukan di sana. Ukurannya pun beragam.

Sampah-sampah itu, bisa membahayakan lingkungan, manusia dan hewan. Apalagi banyak yang berukuran mini sehingga mudah terbawa ke mana-mana, bahkan ke dalam perut hewan, semisal ikan lalu berpindah ke perut manusia yang mengonsumsinya.

KLIK INI:  Penyidik KLHK Menyegel Tempat Pembuangan Sampah Ilegal di Bogor

Lalu apa sebenarnya sampah laut itu? Sampah laut merupakan sampah yang berasal dari daratan, badan air, dan pesisir yang mengalir ke laut atau sampah yang berasal dari kegiatan di laut.

Sampah paling dominan di laut adalah jenis sampah paling bandel terurai, yakni plastik. Jenis sampah ini bisa ditemukan di semua kawasan laut, baik yang padat penduduknya, yang paling terpencil hingga di laut terdalam.

Sialnya sampah laut  yang mengandung banyak plastik dan logam. Menjadi jenis sampah yang paling sulit terurai. Butuh waktu hingga  proses pelapukan dan penguraian 50  hingga 400 tahun.

Sampah yang telah sampai ke laut, memiliki dampak yang luas, karena bisa berdampak pada sektor ekonomi dan pariwisata, juga sangat mengganggu kehidupan biota laut dan ekosistem pesisir. Dan tentu saja mengancam kesehatan manusia dan satwa.

Sampah laut, tidak hanya satu  jenis saja, tetapi memiliki beragam jenis dan sesuai dengan ukuran dan tempat ditemukan. Dilansir dari akun Instagram @ditjen.pslb3_klhk, berikut berbagai jenis sampah laut dan ukurannya:

KLIK INI:  Mengungkap 5 Program Prioritas Nasional KLHK Tahun Ini
  • Mega-debris

Ukuran jenis sampah ini lebih dari 1 meter. Biasanya ditemukan secara umum di perairan lepas.

  • Macro-debris

Ukurannya kurang lebih 2,5 centi meter hingga 1 meter. Sampah jenis ini terdapat di dasar laut maupun di permukaan perairan.

  • Meso-debris

Memiliki ukuran kurang lebih 5 mm hingga 2,5 cm. Ia biasa ditemukan di  permukaan perairan atau tercampur dalam sedimen

  • Nano-debris

Ukurannya sangat mini, yakni lebih 0,33 mm.  Jenis ini sangat berbahaya karena bisa masuk ke dalam organ tubuh organisme.

  • Micro-debris

Ukurannya 0,33 mm sampai 5 mm.  Ia sangat mudah terbawa arus dan sangat mudah masuk ke organ tubuh organisme laut.

Demikianlah jenis dan ukuran sampah yang menghuni laut. Lalu apa yang harus dilakukan? Yang harus dilakukan adalah mengurangi produksi sampah, tidak membuangnya di sembarang tempat. Selain itu, sampah harus diolah atau didaur ulang dan dipilah sebelum dibuang.

KLIK INI:  Menteri Siti Resmikan Ecoparian Sungai Badung Percontohan Pengelolaan Sampah di Bali
Bagaimana dengan Indonesia

Indonesia, yang merupakan negara kepulauan, tentu memiliki tantangan yang berat untuk menghilangkan sampah dari laut.

Menurut Dr Nani Hendiarti, pejabat di Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, bahwa  tahun 2020 lalu. Tercatat ada lebih setengah juta ton sampah yang masuk ke laut.

“Hasil perhitungan sementara dari Tim Koordinasi Sekretariat Nasional Penanganan Sampah Laut. Sampah yang masuk  laut pada tahun 2020 diperkirakan mencapai angka 521.540 ton, di mana sekitar 12.785 ton berasal dari aktivitas di laut,” ungkapnya.

Namun, meski angkanya masih tinggi, menurut Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Novrizal Tahar bawa jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sampah laut Indonesia mengalami penunuran, khususnya sampah plastik.

Misalnya pada 2018 lalu sampah plastik di lautan Indonesia mencapai angka 615.674,63 ton. Angka tersebut kemudian merosot turun ke angka 566.074,94 ton pada 2019. Lalu pada tahun 2020 turun menjadi 521.540 ton.

Meski jumlahnya mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Namun, tetap dibutuhkan kerja keras untuk mencapai target pada tahun 2025 mendatang, yakni mengurangi sampah plastik hingga 70 persen dari jumlah yang ada saat ini.

Bagaimana pun sampah plastik adalah yang dominan dan paling bandel yang berada di laut. Saat KLHK telah membentuk Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut untuk mencapai target tersebut.

KLIK INI:  KLHK dan BPPT Dorong Teknologi Pengelolaan Emas Ramah Lingkungan