Mengapa Burung Bermigrasi?

oleh -72 kali dilihat
Mengapa Burung Bermigrasi
Numenius madagaskar atau Gajahan timur - Foto/Ramli
Taufiq Ismail

Klikhijau.com – Setiap bulan Mei dan Oktober menjadi euforia bagi kalangan pengamat burung migran. Mereka selalu senang untuk merayakan hari migrasi burung. Memperingatinya dengan melakukan sejumlah kegiatan.

Kegiatan mereka tentunya tak jauh-jauh dari hal-hal positif untuk mengedukasi kesadaran masyarakat. Kesadaran akan penting mendukung fenomena alam ini.

Kegiatannya bisa berupa pengamatan burung migrasi, ajakan melalui media sosial atau bahkan melalui web seminar (webinar).

Mengapa burung melakukan migrasi

Terjadinya perubahan musim di belahan bumi utara menjadi sebab. Terutama saat peralihan ke musim dingin. Burung memiliki kemampuan yang baik untuk menghadapi cuaca dingin yang ekstrim. Septian (2017), menuturkan bahwa burung mampu mengatur suhu tubuhnya sehingga tidak terpengaruh suhu lingungan sekitarnya.

Hanya saja pada saat musim dingin makanan mereka juga berkurang.  Karenanya hal ini membuat instingnya bekerja. Membuat pilihan akan bertahan di wilayah berbiak mereka atau bermigrasi. Bermigrasi menuju bumi bagian selatan yang lebih hangat dan menjanjikan makanan yan melimpah.

KLIK INI:  Ada Apa di Balik Proyek Kalung Eucalyptus Kementan dan Klaim Antivirus Corona?

Bagi sebagian burung, bermigrasi adalah pilihan yang tak dapat terelakkan.  Pun mereka yang memilih bertahan harus menghadapi keterbatas sumber daya akibat musim yang berubah.

Burung-burung yang memutuskan berpindah tempat pun, juga tak lepas dari tantangan bahkan bencana baginya.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa terkadang burung yang bermigrasi mengalami kelelahan dahsyat yang mengakibat kelumpuhan. Bahkan Maulana (2017) dalam Alikodra (2018), melaporkan bahwa pada Maret 2017 di Pantai Cemara, Desa Sungai Cemara, Sadu, Tanjung Jabung Timur, Jambi, dijumpai sekitar 20 burung jenis kedidi (Calidris sp.; Limicola sp.) mengalami kelumpuhan bahkan beberapa di antaranya tak tertolong. Pantai Cemara menjadi langganan burung migrasi dari Siberia dan Australia.

Meski begitu besar tantangan bermigrasi, jika habitat dan lingkungan tujuan wilayah berpindah memenuhi kebutuhannya, maka setiap tahun mereka akan mendatangi tempat yang sama.

Migrasi burung adalah fenomena alam yang terjadi setiap tahunnya. Mingrasi burung ini adalah wujud dari adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya. Mereka melakukan migrasi untuk mencari makan dan kembali ke habitat aslinya untuk berkembang biak.

Mereka harus terbang melintasi beberapa negara untuk sampai di wilayah persinggahan sementara. Terbang ratusan ribu kilometer demi mencari perlindungan dan mencari sumber makanan. Terbang berhari-hari.

burung migrasi
Tringa nebularia atau Trinil kaki hijau – Foto/Ramli
KLIK INI:  Fosil Kayu, Bongkahan Tumbuhan Purba dan 3 Fakta Menarik di Baliknya

Mereka bisa terbang dua sampai tiga hari tanpa berhenti. Bahkan bisa lebih. Jaraknya pun tak tanggung-tanggung dalam sekali terbang bisa sampai sekitar 10.000 kilometer (Alikodra 2018).

Beberapa fakta menyebutkan bahwa burung ini bisa terbang sembari tertidur. Apalagi pada kasus terbang berhari-hari  tanpa henti. Peneliti mendugaan bahwa saat terbang setengah otaknya tertidur dan setengahnya lagi berfungsi. Peneliti melihatnya dari satu mata terbuka dan satu lagi tertutup saat terbang.

Ada juga peneliti berpendapat bahwa burung yang terbang nonstop saat bermigrasi tertidur sekejam. Tertidur dalam masa singkat, sekitar satu menit.

Indonesia menjadi salah satu negara tujuan burung bermigrasi. Iklim di tanah air yang bersifat tropis menjadi alasan. Termasuk juga ketersediaan sumber makanan bagi mereka yang melimpah. Burung yang bermigrasi membutuhkan sumber pakan seperti ikan, kepiting, udang, serangga dan biji-bijian. Mereka bisa memperoleh makanan tersebut saat menjelajah rawa, padang rumput, empang, ataupun sawah.

Migrasi burung ini hanya bersifat sementara. Mereka hanya keluar dari zona nyaman untuk berlindung sementara. Mereka tidak berbiak di wilayah tujuan migrasinya. Saat perkiraan waktu musim dingin usai, mereka kemudian kembali ke negara asal. Kembali ke habitat aslinya.

KLIK INI:  Metamorfosa Kanal di Makassar, Plastik dan Eceng Gondok Bergentayangan

Sebagai salah satu negara tujuan migrasi selayaknyalah kita menjadi tuan rumah yang baik. Menjamu tamu yang datang dari jauh. Jika tak dapat berbuat banyak akan kedatangan tamu ini, setidaknya tidak mengganggunya.

Cukup membiarkannya berlabuh di lahan-lahan basah atau habitat yang sesuai dengan mereka. Membiarkannya mencari makan dan berlindung sejenak. Berbagi ruang sementara dengan mereka.

Karenanya penting untuk menjaga lahan basah yang juga menjadi habitat burung. Bersama-sama pemerintah dan masyarakat menjaga wilayah yang menjadi habitat burung baik migran ataupun penetap.

Lokasi favorit burung air yang bermigrasi di tanah air sering pengamat jumpai di beberapa lokasi. Di Sulawesi sendiri, Danau Limboto di Gorontalo menjadi langganan. Beberapa pengamat juga menerangkan bahwa di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai kerap disinggahi burung migrasi. Untuk wilayah Kota Daeng berada di Lantebung, Kelurahan Bira, Tamalanrea, Makassar. Taman Nasional Wasur menjadi langganan burung migrasi asal Australia. Beberapa wilayah di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera juga tak lepas dari persinggahan burung migrasi ini.

KLIK INI:  Pakaian Dalam Bermukim di Perut Rusa yang Mati di Thailand
Burung apa saja yang bermigrasi?

Sebagian besar burung yang bermigrasi adalah burung air. Burung lain yang juga bermigrasi adalah jenis burung pemangsa, burung pantai, dan burung terstrial yang berukuran kecil.

Azhar (2016), menuturkan bahwa terdapat 2.000 jenis burung migran. Mereka bergerak hampir serentak dalam jumlah ribuan dan beragam famili menuju wilayah yang memberi mereka harapan. Harapan untuk memperoleh sumber pakan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Lebih lanjut Azhar (2016), mengatakan bahwa empuluh persen dari burung yang bermigrasi mengalami penurunan populasi. Penyebab penurunan populasi ini banyak hal yang melatarbelakangi. Termasuk kelelahan saat bermigrasi, menjadi mangsa burung predator, atau bahkan mendapat celaka di lokasi tujuan bermigrasi. Celaka yang dimaksud di sini adalah akibat perburuan liar. Ada banyak laporan pengamat burung migran menjumpai aktivitas perburuan liar.

Alikodra (2018), mengungkapkan bahwa ancaman besar penurunan populasi akibat perburuan liar dan alih fungsi lahan. Alih fungsi sawah, rawa, dan mangrove menjadi kawasan pemukiman, pelabuhan, bahkan industri.

Karenanya dibutuhkan kebijakan yang dapat melindungi habitat yang digemari burung migran ini.

Sungguh perilaku burung bermigrasi ini menjadi pembelajaran yang menunjukkan kekuasaan sang Ilahi. Menunjukkan bagaimana makhluk hidupnya beradaptasi untuk memperoleh penghidupan yang layak. Pembelajaran bagi mereka memahaminya.

KLIK INI:  Zero Waste, Gerakan dan Sinergitas Tanpa Batas Melawan Sampah