Mengais Rupiah dari Budidaya Belatung

oleh -57 kali dilihat
Mengais Rupiah dari Budidaya Belatung
Ide inovatif ini begitu digeluti oleh Rendria Arsyan, seorang pemuda asal Bogor yang mencoba membudidayakan larva jenis lalat black soldier fly (BSF) - Foto/99.co
Azwar Radhif

Klikhijau.com – Mendengar kata belatung mengingatkan kita pada sesuatu hal yang berhubungan dengan sampah dan kotoran. Karena itu, banyak dari kita yang cenderung untuk menghindari hewan yang satu ini.

Namun, siapa sangka kalau ternyata belatung dapat menjadi solusi bagi permasalahan sampah organik yang kian menumpuk sekaligus dapat membawa pundi-pundi rupiah.

Ide inovatif ini begitu digeluti oleh Rendria Arsyan, seorang pemuda asal Bogor yang mencoba membudidayakan larva jenis lalat black soldier fly (BSF). Melalui perusahaan Magalarva milknya, Rendria mampu menyulap tumpukan sampah menjadi ladang penghidupan.

Rendria menaruh perhatian lebih pada permasalahan sampah yang kian hari semakin menumpuk. Keresahannya bertambah setelah mengetahui jumlah sampah organik ternyata lebih banyak diibanding sampah non organik.

Namun, hal ini sangat jarang diperhatikan publik yang justru lebih menaruh perhatian pada sampah plastik.

“Kalau diliat dari statistiknya, 60-70% sampah di Indonesia itu organik, saya jadi malah bingung, kenapa kok lebih fokus di plastik nih. Kalau gitu sebenarnya yang lebih butuh diberikan solusi adalah sampah organik dong,” jelasnya dalam video dokumenter di chanel youtube opini id.

KLIK INI:  5 Jenis Gula Terbaik untuk Membuat Eco Enzyme dan Cara Penerapannya

Rendria mencontohkan masalah sampah di Ibukota Jakarta yang setiap harinya kian menumpuk. Jumlah sampah di ibukota setiap harinya mencapai 7.000 ton sampah campuran.

Jika dikalkulasikan, 60% dari total sampah ibukota setiap hari berjumlah 4.200 ton sampah organik, yang sebenarnya dapat diselamatkan melalui inovasi budidaya larva miliknya.

Setiap harinya, Magalarva mampu mengelola 6 ton sampah organik menjadi makanan larva. Tumpukan sampah yang terkumpul di gudang sederhana miliknya sebelum diproses, terlebih dahulu digiling menjadi bubur untuk menjadi makanan bagi larva lalat BSF.

Bubur sampah organik ini disimpan dalam kandang larva yang berbentuk box berukuran kurang lebih 1 meter persegi. Larva dari lalat BSF dipilih karena kandungan protein dalam larva yang besar untuk dijadikan pakan ternak, yang merupakan salah satu produk dari magalarva.

“Magalarva itu sumber dari protein yang sustainable yang bisa digunakan untuk bahan baku pakan ternak dan diproduksinya menggunakan bantuan teknologi. Spesies serangga yang dibudidayakan yaitu black soldier fly (BSF). BSF ini memang dikenal bisa merubah sampah organik untuk menjadi makanan mereka dan mereka itu tumbuh untuk bisa memiliki protein yang sangat tinggi,” sambung CEO Magalarva.

KLIK INI:  Belajar dari Strategi Amerika Serikat Mengantisipasi Limbah Pangan
Prospek cerah sampah organik

Rendria melihat proses pemanfaatan sampah organik di Indonesia belum maksimal. Sebagian besar produk dari sampah organik hanya dijadikan sebagai kompos atau pupuk yang menggunakan bantuan mikroorganisme.

Hal ini menurutnya akan memakan waktu yang cukup lama sehingga pengolahan sampah organik menjadi kurang efektif.

Berbeda dengan produk pakan ternak miliknya yang menggunakan bantuan makroorganisme jenis larva lalat BSF. Lalat jenis ini mampu menghasilkan beberapa kilogram larva siap panen dalam setiap telurnya.

Proses perkembangbiakan anakan larva membutuhkan waktu sekitar 15 hari untuk tumbuh besar dan siap dikeringkan.

Untuk itu, Rendria berharap kedepannya perusahaan miliknya mampu menjadi bagian dari penyelesaian masalah lingkungan yang mendera dunia, khususnya masalah sampah dan protein hewani. Pakan ternak yang dihasilkan dari larva BST dengan kandungan protein yang besar akan membantu proses pengembangbiakan ternak lebih cepat.

“Kami yakin bahwa magalarva bisa menjadi part of solution dari dua masalah, yaitu pertama permasalahan sampah, kita bisa mengeleminasi sampah dengan menggunakan teknologi ini (BSF). Kedua, masalah kekurangan protein di masa depan, kita menggantikan protein yang sekarang digunakan atau industrinya itu kurang sustainable secara enviromental,” tutur Rendria.

KLIK INI:  Demi Lingkungan, Saatnya Mendoakan Arsenal Agar Terus Menang