Mendengar Pertanyaan Kahlil Gibran tentang Alam dan Manusia

oleh -88 kali dilihat
Mendengar Pertanyaan Kahlil Gibran tentang Alam dan Manusia
Kahlil Gibran - foto/thedailybeast.com

Klikhijau.com –  Kahlil Gibran menulis puisi seperti sedang sarapan pagi. Puisi-puisinya mengalir dengan segar dan jernih.

Lelaki kelahiran  6 Januari 1883 di Lebanon itu, memiliki ciri khas dalam puisinya. Ia merupakan salah satu penyair penting di dunia.

Tidak hanya menyandang sebagai penyair, Kahlil Gibran juga dinobatkan sebagai penulis, filsuf, pakar dan seniman terkemuka.

Karya-karyanya bertebaran di mana-mana dan mengabadikan dirinya. Puisi, merupakan karya yang banyak lahir dari pikiran lelaki yang meninggal di New York, Amerika Serikat pada 10 April 1931 itu.

KLIK INI:  Perempuan yang Berjalan di Gelombang

Meski mati muda (usia 48 tahun) namum namanya telah mengabadi. Karyanya telah membuat banyak orang kagum dan tersadar tentang esensi sesuatu, termasuk alam dan manusia.

Sebagai  anak yang lahir dengan nuansa alam Lebanon yang  bersahabat. Maka masa kecilnya sangat dekat dengan aroma alam.

Alam memberinya inspirasi yang meruah. Di tempat  tinggalnya, Kahlil Gibran terbiasa dengan fenomena alam seperti gempa bumi, petir, dan badai.

Alam adalah anugera terbesar Gibran dalam melahirkan karya-karyanya. Jika kita membaca setiap goresan penanya, tidak sedikit kita akan menemukan diksi alam yang disusupkan secara alami ke dalam karyanya, khususnya puisi.

Selain alam, manusia juga jadi inspirasinya. Manusia tidak bisa dipisahkan dari alam. Karena alam bisa terus ada tanpa manusia dan manusia tidak bisa ada tanpa alam semesta.

Lelaki yang pada akhirnya harus meninggalkan tanah kelahirannya itu bersama ibu dan adiknya pada usia 10 tahun. Membuatnya kaya akan pengalaman perpisahan.  Ia bersama keluarganya  pindah ke Boston, Massachusetts.

KLIK INI:  Bukit Pattowengang

Pengalaman dan kenangan membuatnya disekap pertanyaan-pertanyaan tentang alam dan manusia. ini bisa dilihat dari puisinya di bawah ini:

 

Alam dan Manusia

Aku mendengar anak sungai merintih bagai seorang janda yang menangis
meratapi kematian anaknya dan aku kemudian bertanya,
“Mengapa engkau menangis, sungaiku yang jernih?”
Dan sungai itu menjawab,
“Sebab aku dipaksa mengalir ke kota tempat Manusia
merendahkan dan mensia-siakan diriku
dan menjadikanku minuman-minuman keras dan mereka
memperalatkanku bagai pembersih sampah,
meracuni kemurnianku dan mengubah sifat-sifatku
yang baik menjadi sifat-sifat buruk.”
Dan aku mendengar burung-burung menangis,
dan aku bertanya,
“Mengapa engkau menangis, burung-burungku yang cantik?”
Dan salah satu dari burung itu terbang mendekatiku,
dan hinggap dihujung sebuah
cabang pohon dan berkata,
“Anak-anak Adam akan segera datang
di ladang ini dengan membawa senjata-senjata
pembunuh dan menyerang kami
seolah-olah kami adalah musuhnya.
Kami sekarang terpisah di antara satu sama yang lain,
sebab kami tidak tahu siapa
diantara kami yang bisa selamat dari kejahatan Manusia.
Ajal memburu kami ke mana pun kami pergi.
“Kini, matahari terbit dari balik puncak pergunungan,
dan menyinari puncak-puncak
pepohonan dengan rona mahkota.
Kupandangi keindahan ini dan aku bertanya
kepada diriku sendiri,
“Mengapa Manusia mesti menghancurkan
segala karya yang telah diciptakan oleh alam?”

KLIK INI:  Cerita Warga Berdaya dan Kota yang Anti Ketahanan Lingkungan

Tiga Pertanyaan Gibran

Puisi di atas memuat tiga pertanyaan yang penting untuk diurai. Kahlil Gibran menelurkan pertanyaan untuk kita renungkan.

Cobalah simak pertanyaan pertama, “Mengapa engkau menangis, sungaiku yang jernih?

Pertanyaan itu ditujukan kepada sungai yang jernih. Kahlil Gibran memang ahli membuat  sesuatu di luar manusia seolah mampu bicara—menelurkan keresahannya.

Pada saat puisi itu di tulis, sangat mungkin Kahlil Gibran belum melihat sungai yang tercemar  berwarna hitam dan berbau—jauh dari sifatnya yang jernih.

Jika saja ia hidup di zaman sekarang, di mana banyak sungai tercemar, mungkin pertanyaannya bukan ditujukan kepada sungai yang jernih, tapi sungai yang tercemar.

Sungai dalam puisi tersebut mengalami kegalauan karena tidak dihargai oleh manusia, dijadikan minuman keras dan pembersih sampah.

Namun saat ini, sungai bukan hanya membersihkan sampah, tapi jadi timbunan sampah. Di Indonesia, kita bisa melihat sungai-sungai yang dipenuhi sampah, terutama sungai yang ada di daerah perkotaan atau yang padat penduduk.

Pertanyaan kedua adalah tentang satwa, bacalah kata-kata ini, “Mengapa engkau menangis, burung-burungku yang cantik?”

Burung, merupakan satwa yang banyak diburu, dibunuh, dan diperjual belikan. Mereka dibiarkan terpisah dari keluarganya oleh manusia.

Sebagian manusia “sepertinya” lahir untuk merusak alam, merampas hak burung-burung. Membabat habis habitatnya. Pertanyaan itu, mendapat jawaban dari sang burung.

Anak-anak Adam akan segera datang/di ladang ini dengan membawa senjata-senjata/pembunuh dan menyerang kami/seolah-olah kami adalah musuhnya/Kami sekarang terpisah di antara satu sama yang lain/sebab kami tidak tahu siapa/diantara kami yang bisa selamat dari kejahatan manusia.

 Mendengar jawaban dari sang burung pada puisi  di atas, melahirkan perasaan sedih yang dalam. Kita bisa merasakan penderitaan burung-burung itu karena ulah manusia.

Saat ini, banyak burung terancam punah, dan kita akan kehilangan burung-burung yang cantik itu.

Pertanyaan ketiga, “Mengapa Manusia mesti menghancurkan segala karya yang telah diciptakan oleh alam?”

Gibran tidak memberi jawaba pada pertanyaan ini. Jawabannya bisa sangat beragam, tergantung pada manusianya. Meski banyak yang akan menjawab demi kesejahteraan, demi kebahagian, dan demi generasi mendatang, maka alam pun dirusak. Hutan dibongkar untuk lahan pertanian dan lain sebagainya.

Namun, warisan paling baik untuk generasi selanjutnya adalah alam yang hijau, lestari dan membuat udara segar, air sungai tidak tercemar, dan burung-burung yang bebas terbang dan menikmati hidupnya di alam bebas.

Tak ada kebahagian, kedamaian, kesejehateraan jika alam mulai rusak. Karena ia membawa ancaman yang maha dahsyat.

Pertanyaan terakhir  dari Kahlil Gibran itu, patut direnungkan untuk menemukan jawabannya yang bisa menyelamatkan alam dari kerusakan.

KLIK INI:  Pada Nama Kecilmu