Mencari Sudut Pandang Baru, Hidupkan Media Sosial KLHK

oleh -112 kali dilihat
Mencari Sudut Pandang Baru, Hidupkan Media Sosial KLHK
Bertempat di Amaruba Hotel and Resort, Bogor, Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) gelar pelatihan bagi admin media sosial - Foto: Ist

Klikhijau.com – Bertempat di Amaruba Hotel and Resort, Bogor, Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) gelar pelatihan bagi admin media sosial. Admin media sosial dari berbagai unit pelaksana teknis se-nusantara.

Pelatihan bagi kreator konten ini berlangsung tiga hari: 18 – 20 Mei 2022. Sebanyak 40 peserta antusias menyimak materi dari narasumber.

Panitia pelaksana menghadirkan tiga narsumber profesional. Menghadirkan Didi Kaspi Kasim, Editor in Chief  National Geographic Indonesia; Riza Marlon, Fotoragrafer Satwa Liar; dan Iwan Setiyawan, Editor Foto Kompas.

Kepala Biro Humas KLHK berkesempatan membuka pelatihan. “Peningkatan kapasitas media sosial ini adalah agenda rutin kami. Kami berharap teman-teman admin media sosial menjadi pengantar narasi posistif bagi khalayak,” pungkas Nunu Anugrah, S.Hut., M.Sc., Kepala Biro Humas KLHK.

Didi Kasim saat memberikan materinya, bercerita banyak perihal tempat ia mengabdi. Bercerita, begitu cepat perubahan terjadi. Perubahan mengikuti keinginan pasar agar tetap mampu bertahan. Bertahan di tengah arus transformasi informasi yang terkadang tak terprediksi.

“Tak ada konten yang turun dari langit. Segalanya perlu kita rencanakan,” terang Didi Kaspi Kasim, Eiditor in Chief National Geographic indonesia.

KLIK INI:  47 Perusahaan Meraih Penghargaan PROPER EMAS 2021, Ini Daftarnya!

Didi Kasim, sapaannya, terlebih dahulu membenamkan kepada peserta perihal sejarah jurnalisme. Ia kemudian mulai masuk ke “narrative journalism”.

Pada akhirnya bermuara pada kemampuan menyampaikan pesan melalui storytelling. Storytelling yang berarti kemampuan untuk bercerita layaknya dongeng. Bercerita dengan menggugah pembacanya.

“Kami di Natgeo percaya bahwa dengan kekuatan ilmu pengetahuan, eksplorasi, dan kemampuan bercerita akan membawa perubahan besar,” tambahnya.

Didi Kasim juga berbagi tips membuat “cerita berdampak”. Membeberkan prosesnya. Memulainya dengan riset sebelum terjun ke lapangan. Selanjutnya mencari sudut pandang yang menarik, hingga mengumpulkan data informasi sebanyak-banyaknya. Memerhatikan hal-hal kecil dengan segala indra untuk memperkaya cerita kelak.

Fotografer kawakan, Riza Marlon kemudian membawakan materi kedua. Bang Caca, begitulah sapaan akrabnya, bercerita melalui foto. Bercerita, mengapa foto itu penting?

“Tanah air kita luas. Termasuk hutannya. Kemudian hutan mulai surut karena bencana alam dan ulah manusia. Pada akhirnya habitat satwa kita menyempit. Ini momen. Harus kita manfaatkan. Mengabadikannya,” tutur Bang Caca memulai ceritanya.

KLIK INI:  Peduli Banjir Masamba, UPT KLHK Distribusi Bantuan dan Sinergi ke Tapak

Bang Caca juga menuturkan bagaimana ia bertualang di nusantara dengan kamera analognya  di tahun 1990-an. Bekerja dengan segala keterbatasan. Keinginan kuat mengabadikan satwa liar di hutan, rumahnya, menjadi dorongan kuat.

“Dahulu dengan kamera analog, tantangannya lebih besar. Memotret dengan ISO 100 di tengah hutan yang gelap. Sekarang lebih enak dengan kamera digital,” kenangnya.

Menurut Bang Caca, ada baiknya kuasai alat terlebih dahulu. Kenali segala fitur dan fungsinya. Kehadiran internet memudahkan segalanya untuk belajar.

“Jangan tunggu jago, jangan sampai tunggu jago, baru mau memotret. Begitu sudah jago. Objek sudah sulit ditemui. Atau malah sudah hilang selamanya,” pesan Bang Caca yang sarat makna.

Bang Caca juga berpesan untuk tidak takut salah. Mendorong anak bangsa untuk mengekplorasi potensi tanah air. Menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Jangan takut salah. Yang salah itu jika tidak berbuat,” imbaunya.

Pemateri ketiga: seorang pewarta foto dari Kompas, Iwan Setiyawan. Iwan, sapaannya, memberi pencerahan tentang jurnalistik foto. Memberi tips melakukan liputan foto story.

KLIK INI:  KLHK Sita 1 Alat Berat dan Penambang Emas Ilegal di Kotamobagu

“Untuk foto story bisa menggunakan metode EDFAT. Memotret secara keseluruhan kemudian cari satu objek untuk foto detail. Pada fase detail, lakukan pembingkaian, cari sudut pandang yang pas dan mencari momen yang tepat untuk memotret,” beber Iwan Setiyawan, Editor Foto Kompas.

Metode EDFAT adalah kepanjangan dari Entire, Details, Frame, Angle, dan Time.

Iwan juga menceritakan pengalamannya selama menjadi fotogrefer majalah yang juga terus bertarnspormasi ini.

“Bagi saya, untuk memilih foto sebagai tajuk utama selalu mencari foto yang tak biasa. Mencari sudut pandang baru,” urainya.

Peserta begitu antusias menyimak paparan materi dari ketiga narasumber. Mendapat pencerahan, bagaimana ciptakan konten yang berkualitas. Membuat narasi yang menggugah hati pembaca, ciptakan foto menarik hingga pilihan penyajian kepada khalayak.

Muhammad Soleh, S.H., peserta asal Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru Laiwanggi Wanggameti, bertanya: “Apa yang perlu kita lakukan agar kita punya banyak pengikut dan dikenali di media sosial?”

Ketiga narasumber bergantian memberi saran. Secara umum mereka menerangkan untuk terlebih dahulu mengenali audiens yang disasar. Tak hanya itu perlu menyiapkan konten yang menarik dan otentik dengan instansi. Terakhir, kuncinya adalah konsistensi. “Konsisten untuk mengunggah. Selalu hadir agar mesin alogaritma mengenali kita,” jawab Didi Kasim.

Pelatihan ini telah memberi pencerahan bagi peserta. Menjadi modal, hidupkan media sosial di masing-masing instasi KLHK.

“Selamat bertugas teman-teman admin. Kami berharap ilmu yang telah diperoleh selama tiga hari ini dapat dipraktekkan,” tutur Maulana Yusuf, S.Hut., M.IL.,Pranata Humas Ahli Muda Biro Humas KLHK saat menutup pelatihan.

KLIK INI:  BMKG Sulsel Himbau Masyarakat Berhati-hati Mengantisipasi Cuaca Buruk