Memperpanjang Napas Pesut Mahakam di Tangan Konservasi

Publish by -83 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Memperpanjang Napas Pesut Mahakam di Tangan Konservasi
Pesut mahakam/foto-IDtimesjabar

Dengan disetujuinya pencadangan kawasan konservasi, diharapkan angka kematian pesut di Sungai Mahakam berkurang.

Klikhijau.com – Pagi masih terasa gigil. Namun, kabar baik dari Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur menghangatkannya. Kabar itu perihal pesut mahakam yang belum lama ini habitatnya dijadikan kawasan konservasi.

Hal itu ditandai dengan ditandatanginya SK Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Habitat Pesut Mahakam seluas 43.117,22 hektar oleh Bupati Kutai Kartanegara [Kukar], Edi Damansyah

Keluarnya SK tersebut berkat usaha Yayasan Konservasi Rare Aquatic Sepsies of Indonesia [YK RASI] dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan masyarakat setempat.

Keluarnya SK Kawasan Konservasi tersebut memang sudah seharusnya, karena pesut mahakam atau Orcaella brevirostris merupakan simbol Provinsi Kalimantan Timur, yang habitatnya berada di Sungai Mahakam.

KLIK INI:  Hati-Hati Bawa Plastik di Bekasi, Satgas Zero Plastik Akan Lakukan Razia

Pesut mahakam dinamai juga lumba-lumba air tawar karena ukurannya tidak biiasa. Untuk pesut dewasa, panjangnya hingga 2,3 meter dengan berat mencapai 130 kg. Tubuhnya abu-abu atau kelabu dengan bagian bawah lebih pucat.

Kawasan konservasi tersebut terbagi dari zona inti seluas1.081,28 hektar, zona perikanan berkelanjutan seluas 14.947,65 hektar, kawasan hutan sempadan sungai seluas 2.169,44, areal hutan sempadan danau mencakup 563,79 hektar, dan zona rehabilitasi dan perlindungan hutan gambut dan rawa-rawa seluas 24.355,06 hektar.

Tersisa 81 ekor

Keluarnya SK Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Habitat Pesut Mahakam. Menjadi harapan yang besar bagi kelanjutan hidup pesut mahakam yang semakin hari semakin berkurang.

Penelitian yang dilakukan RASI pada 2018 hingga Mei 2019 menunjukkan jumlah pesut mahakam diperkirakan hanya 81 individu saja

Sepanjang tahun 2019 lalu lalu, dilaporkan empat ekor pesut mahakam mati. Jika itu terus berlanjut bukan tidak mungkin, pesut mahakam hanya jadi cerita saja.

Danielle Kreb, peneliti RASI, mengatakan, dengan disetujuinya pencadangan kawasan konservasi ini diharapkan angka kematian pesut di Sungai Mahakam berkurang.

KLIK INI:  Polusi Udara Dapat Turunkan Jumlah Telur dalam Ovarium Wanita

“Selama ini, angka kematian pesut di Sungai Mahakam mencapai 66 persen. Bersama Bupati dan masyarakat Kukar, kami melakukan berbagai upaya dan baru sekarang bisa dimasukkan dalam Peraturan Bupati,” jelasnya seperti dimuat Mongabay belum lama ini.

Dengan adanya SK dari Bupati Kukar mengenai status sungai mahakam sebagai kawasan konservasi habitat pesut mahakam diharapkan aman dari gangguan industri sawit dan batubara.

Tidak hanya itu, SK tersebut membuka gerbang bagi perekonomian masyarakat, sebab terbantu dengan jumlah ikan yang meningkat.

Kawasan konservasi itu bisa dikelola sumber daya ikannya serta meningkatkan kualitas air dan menjaga populasi pesut mahakam.

“Ini upaya Pemerintah Kabupaten Kukar menjaga dan melestarikan satwa endemik yang kita miliki. Pesut mahakam yang kita ketahui, populasinya terus berkurang,” jelas Edi seperti yang dimuat Korankaltim.com

Wilayah konservasi itu memang luas, mencakup beberapa wilayahnya, yakni Kota Bangun, Muara Muntai, Muara Kaman dan Muara Uwis. Meski ada beberapa kawasan terpisah, namun tetap terhubung di perairan Sungai Mahakam.

Tentang pesut mahakam

Undang-undang No.5 Tahun 1990 tentang keanekaragaman hayati dan ekosistemnya dan berdasarkan PP No.7 Tahun 1999, pesut mahakam merupakan jenis satwa yang dilindungi.

Selain itu, Badan Konservasi Internasional IUCN (International United of Conservation Nature and Natural Resources) telah menetapkan Pesut Mahakam masuk dalam kategori satwa kritis dan terancam punah (Critically Endangered Species).

Menurut berita yang dimuat Mongabay, penyempitan habitat dan penyebab kematian pesut adalah masuknya industri pertambangan dan sawit. Hasil laboratorium menunjukkan, air di hulu sungai mahakam tercemar logam berat yang dapat meracuni pesut.

“Masalah pembuangan limbah itu, sudah dari dulu. Limbah tidak hanya jenis B3 atau sampah, batubara yang jatuh pun berpengaruh pada habitat pesut,” jelas Daniella.

Danielle menyebut, angka kematian pesut paling banyak karena sampah dan limbah yang mereka telan. Terkadang, ada pesut yang limbung karena kerusakan sonar tubuhnya. Penyebabnya, karena bunyi-bunyian yang sangat keras dari air.

“Alur hilir mudik kapal-kapal besar dan ponton di Sungai Mahakam sangat berpengaruh pada kehidupan pesut. Selama ini pesut mengalah, hingga mereka memilih pindah ke anak-anak sungai yang lebih aman,” tambahnya.

KLIK INI:  Wiratno: Konservasi Alam Bukan Sekadar Pekerjaan, Tapi Jalan Hidup

Pesut mahakam secara biologis makannya adalah ikan dan udang ini, bernapas menggunakan paru-paru dan tergolong sebagai hewan mamalia bukan ikan.

Perkembangbiakan pesut mahakam terbilang lambat, sebab hanya melahirkan satu anak pesut setiap tiga tahun sekali. Masa menyusuinya selama 1 – 1,5 tahun.

Ciri lain dari pesut mahakam adalah hidup berkelompok. Keberadaannya sangat penting karena sebagai bioindikator kualitas air. Beberapa sungai di Mahakam yang masih terdapat pesut, dipastikan kondisi airnya dalam keadaan yang baik, serta indikator keberadaan ikan dan udang yang masih berlimpah.

Pesut mahakam sebenarnya tidak punya predator alami, sehingga kepunahan mereka cenderung karena rusaknya habitat sehingga daya tahan hidup mereka juga menurun.

Kita patut melangitkan harapan, dengan keluarnya SK Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Habitat Pesut Mahakam dari Bupati Kukar, semoga hidup pesut mahakam bisa lebih panjang.

KLIK INI:  Kabar Buruk dari Aceh, Ratusan Hektar Dilanda Karhutla di Dua Belas Kabupaten
Editor: Idris Makkatutu
Sumber: Beberapa sumber

KLIK Pilihan!