Memperingati Hari Gunung Bulu Bawakaraeng dengan Introspeksi Diri

oleh -72 kali dilihat
Memperingati Hari Gunung Bulu Bawakaraeng dengan Introspeksi Diri
Gunung Bawakaraeng - Foto/FISS
Azwar Radhif

Klikhijau.com – Pada Tanggal 26 Maret lalu, digelar dialog publik dengan tema ‘dialog introspeksi: Mengapa Harus Gunung Bulu Bawakaraeng?’

Dialog ini diselenggarakan oleh Forum Intelektual Selatan Sulawesi (FISS), komunitas yang menaruh perhatian pada Gunung Bulu Bawakaraeng serta melakukan perjuangan untuk kelestarian gunung tersebut.

Kegiatan ini digelar untuk memperingati hari Gunung Bulu Bawakaraeng yang diperingati pada tanggal 26 Maret setiap tahunnya.

Hari Gunung Bawakaraeng diambil dari peristiwa bencana mega longsor (debris slide) yang terjadi pada 26 Maret 2004 silam. Kejadian itu menjadi memori kelam bagi masyarakat yang terdampak di sekitar gunung.

Seolah tak ingin mengulang kejadian yang sama, FISS melalui dialog ini mencoba untuk merefleksikan berbagai tindakan manusia yang dapat merusak gunung Bulu Bawakaraeng.

Kerusakan yang terjadi di Gunung Bawakaraeng bagi FISS tak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia. Untuk itu, peringatan ini sebagai perenungan bersama hakikat kemanusiaan dan kemahlukan kita.

KLIK INI:  7 Fakta Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Gandang Dewata
Belajar dari peristiwa bencana besar

Andi Rewo Batari Wanti selaku Koodinator FISS menjelaskan, “26 Maret adalah tanggal terjadinya peristiwa bencana besar di Gunung Bulu Bawakaraeng (GBWK), sehingga kejadian ini perlu untuk dikenang.

Sekiranya dapat mengingatkan kita bahwa bisa saja kita telah menjadi bagian dari orang-orang yang lalai dalam menjaga kelestarian gunung sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan,” tuturnya.

Dalam dialog tersebut, Dr. Andi Yaqub Passinringi La Tinaga selaku pembicara pertama mengkaji topik ‘tanggung jawab manusia terhadap gunung’. Dalam paparan materinya, Andi Yaqub menjelaskan keterpautan antara manusia dan gunung sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan.

Baik manusia maupun gunung memiliki status dan hubungan yang sama kepada Tuhan. Keduanya merupakan sesama mahluk ciptaan yang juga memiliki tanggung jawab. Hanya saja, manusia memikul beban yang lebih karena diberikan wewenang untuk menjelajahi muka bumi.

Sebagai mahluk, gunung turut mengambil peran bagi kehidupan di sekitarnya. Andi Yaqub membantah tuduhan bahwa Gunung merupakan benda mati. Baginya, Gunung juga memiliki kehidupannya tersendiri yang berbeda dengan manusia.

KLIK INI:  Peringati Hari Nelayan, Pemuda Pangkep Gelar Demonstrasi

Hanya saja, kita menjadi saksi dari berbagai kerusakan di muka bumi akibat tindakan manusia sendiri. Manusia dinilai telah berbuat dzolim terhadap mahluk yang diciptakan juga untuk menyembah kepada Allah SWT.

Berbagai perbuatan manusia yang merusak Gunung Bawakaraeng seperti kunjungan massif dan sporadis ke gunung, membuang sampah di sembarang tempat, penebangan hutan hingga aktivitas yang tak sesuai peruntukkannya dianggap sebagai bentuk penyelewengan manusia dari kodratnya.

Amanah yang diberikan kepada manusia sebagai khalifah di bumi kerap berujung pada dominasi manusia kepada mahluk lainnya. Hilangnya tanggung jawab manusia disebabkan oleh cara pandang yang menganggap gunung dan mahluk lainnya sebagai objek semata. Akibatnya eksploitasi kepada alam tengah berlangsung dan kian massif.

Untuk Itu, Dr Yaqub berpesan agar manusia tak menempatkan gunung dan mahluk lainnya sebagai objek, “memosisikan diri anda dan gunung sebagai subjek,” jelasnya.

Kerusakan yang terjadi di Gunung Bulu Bawakaraeng bukan hanya mencakup kerusakan fisik dan material semata seperti sampah, pembakaran, penebangan hutan, dan lainnya. Tetapi juga kerusakan kedudukan gunung.

KLIK INI:  Lelaki Tua, Tristania, dan Jalan Terjal Reboisasi di Jannaq Loe

Kerusakan kedudukan diartikan sebagai rusaknya hal yang ‘seharusnya ada pada gunung’, Kerusakan ini mencakup segala tindakan dan perbuatan manusia yang tak sesuai dengan tujuan penciptaan Gunung Bawakaraeng.

Contohnya seperti upacara 17 Agustus di atas gunung, kunjungan massif yang bukan untuk tujuan pendidikan, dan ritual yang tak sejalan dengan nilai agama dan budaya.

Andi Yaqub menambahkan, “Untuk apa tempat itu diciptakan, kembalikan dia pada penciptaannya. Manusia harus mengembalikan sesuatu pada kedudukannya,” tegasnya.

Menjaga gunung

Meski begitu, menurutnya, menjaga gunung bukan berarti kita tak boleh mendaki ke Gunung Bawakaraeng. Mengunjungi Gunung merupakan kewajiban bagi manusia sebagai bentuk silaturahmi. Selama hal ini dilakukan sesuai dengan adab mengunjungi Gunung.

Ia menganalogikannya seperti ketika kita bertamu ke rumah orang lain. Seorang tamu tentu dituntut untuk berlaku sebagaimana etika mengunjungi rumah orang lain. Tak ada tuan rumah yang mempersilahkan tamunya merusak rumahnya.

KLIK INI:  Dinas Kehutanan Sulsel Bagikan 100 Bibit Gratis Kepada Siswa SMA 20 Pangkep

Menjelang akhir materi, Andi Yaqub berpesan agar masyarakat dapat meretas dominasi atas gunung, dimulai dari mengganggap manusia dan gunung sebagai sesama mahluk yang diciptakan Tuhan untuk tugasnya masing-masing. “Antara gunung dan manusia, bukan ‘saya’ dan ‘itu’ tetapi ‘kami’,” jelas Andi Yaqub.

Melalui dialog ini, FISS berharap kedepannya manusia mulai merenungi segala tindakannya yang dapat berdampak lebih bagi alam, khususnya Gunung Bawakaraeng.

Selain itu, agar kedepannya gerakan perjuangan pelestarian gunung akan terus bergema dan mencapai tujuan besarnya, yakni diberikannya status cultural landscap heritage bagi gunung Bulu Bawakareng.

“Menjadikan momen peringatan hari Gunung Bulu Bawakaraeng sebagai ruang introspeksi untuk setiap orang yang masih peduli terhadap gerakan perlindungan Gunung Bulu Bawakaraeng. Sekaligus menjadi pemantik gerakan selanjutnya,” lanjut Rewo.

Forum Intelektual Selatan Sulawesi juga mengharapkan dukungan publik, khususnya bagi masyarakat sekitar gunung, untuk bisa berkontribusi menandatangani petisi daring di situs change.org.

Petisi ini sebagai upaya menggalang dukungan untuk perjuangan kelestarian Gunung Bulu Bawakaraeng. Simak pula fungsi gunung bagi kehidupan di SINI!

KLIK INI:  Tata Cara Penyusunan RPPEG Mulai Disosialisasikan