Memikirkan Ulang Penanganan Limbah Masker yang Bersumber dari Rumah Tangga

oleh -56 kali dilihat
Memikirkan Ulang Penanganan Limbah Masker yang Bersumber dari Rumah Tangga
Ilustrasi limbah masker yang terbuang bebas - Foto/Pixabay

Klikhijau.com – Limbah masker yang bersumber dari rumah tangga meningkat tajam selama pandemi. Laporan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menunjukkan ada sekira 1,5 ton limbah masker dari rumah tangga yang dikumpulkan selama periode April hingga Desember 2020.

DLH Jakarta berupaya melakukan penanganan khusus pada limbah masker karena termasuk limbah infeksius yang juga berpotensi memperluas penularan Covid-19.

“Jakarta sudah melakukan penanganan limbah infeksius dari rumah tangga secara rutin hingga saat ini. Ini dilakukan agar limbah infeksius bisa ditangani dengan baik dan menghindari potensi penularan COVID-19,” kata Humas DLH DKI Jakarta, Yogi Ikhwan sebagaimana dilansir Detik (27/1/2021).

Menurutnya, petugas kebersihan di DKI Jakarta sejauh ini telah melakukan pemilahan sampah masker dari rumah tangga.

Yogi menegaskan, pihaknya melakukan pemilahan khusus untuk limbah masker yang dikumpulkan dari rumah tangga di Jakarta. Lalu, mereka bekerjasama dengan pengelola limbah B3 untuk dilakukan pemusnahan.

“Masker bekas tergolong limbah infeksius, Dinas Lingkungan Hidup bekerja sama dengan pihak pengolah limbah B3 untuk pemusnahannya, dengan cara diinsinerasi,” jelas Yogi.

KLIK INI:  Masker Ramah Lingkungan dari Bubuk Kopi
Masker sekali pakai meningkat

Tindakan preventif yang dilakukan DLH Jakarta adalah suatu tindakan tepat untuk merespons massifnya pemakaian masker sekali pakai saat ini.

Faktanya, data riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan adanya peningkatan pelepasan sampah yang masuk ke Teluk Jakarta selama pandemi.

Dilansir Detik.com (1/1/2021), berdasarkan temuan LIPI, sampah yang banyak terbuang ke laut didominasi oleh tujuh jenis sampah medis baru saat ini antara lain masker kain, masker scuba, masker medis N95, sarung tangan, hazmat, faceshield hingga jas hujan pengganti hazmat.

Data ini menunjukkan bahwa masih banyak pihak yang lalai dalam menangani sampah infeksius terutama masker. Bila tidak diantisipasi, penanganan sampah masker bisa jadi masalah baru, terutama di daerah-daerah yang tidak punya regulasi khusus untuk pemilahan sampah.

Terlebih dalam tiga bulan terakhir ini tren penggunaan masker sekali pakai meningkat pasca harga pasarannya mulai menurun.

Sebelumnya, masker sekali pakai sempat langka, sehingga mendorong banyak orang memilih masker kain. Belum lagi adanya minset baru mengenai penggunaan masker berlapis untuk perlindungan berlapis dari penularan Covid-19.

KLIK INI:  Selama Pandemi Masker dan Sarung Tangan Menjadi Bencana Ekologis

Putri Damayanti (19) seorang mahasiswa di Makassar mengakui jika dirinya memang sudah intens memakai masker sekali pakai beberapa bulan terakhir. Alasannya, akses mendapat masker sekali pakai saat ini sudah tersedia di mana-mana dengan harga terjangkau.

“Saya juga merasa lebih aman dan lebih nyaman memakai masker sekali pakai, daripada masker kain,” kata Putri yang dikonfirmasi (7/1/2021).

Penanganan minim perhatian

Terkait penanganan limbah masker, Putri mengaku hanya membuangnya di tempat sampah yang selanjutnya dijemput petugas kebersihan.

Apakah tindakan khusus untuk penanganan limbah masker yang bersumber dari rumah tangga dilakukan di semua daerah? Pantauan Klikhijau, di sejumlah daerah justru lalai dalam merespons hal ini. Limbah masker bahkan bercampur begitu saja dengan sampah rumah tangga lainnya.

Penyebab utamanya selain minimnya sosialisasi dan pemahaman masyarakat, skema pemilahan sampah berbasis rumah tangga juga belum banyak diterapkan. Akibatnya, limbah masker sekali pakai berpotensi mengancam lingkungan dan memperburuk keadaan bila tak tertangani dengan baik.

KLIK INI:  Mengurai 17 Isu Lingkungan Terkini di Sekitar Kita

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Majene Sulawesi Barat, Hikmah, ST, M.Si., mengatakan limbah masker sekali pakai berbahaya. Karenanya perlu ada semacam treatment khusus agar untuk dampaknya tidak meluas.

“Paling tidak, masker yang telah dipakai digunting menjadi potongan kecil. Lalu, dibungkus dengan kertas atau wadah kemudian dimasukkan ke dalam tempat sampah anorganik,” jelas Hikmah.

Worldwide Wildlife Fund (WWF) telah melaporkan kekhawatiran akan hal ini. Dilaporkan bahwa secara global, ada 129 miliar masker wajah dan 65 miliar sarung tangan plastik di setiap bulan.

“Jika hanya 1 persen dari masker yang dibuang secara tidak benar, ini akan menghasilkan 10 juta masker per bulan yang tersebar di lingkungan. Menimbang bahwa berat masing-masing masker adalah sekitar 4 gram, ini akan memerlukan dispersi lebih dari 40 ribu kilogram plastik di alam.”

Dr Laura Foster (Head of Clean Seas) mengatakan, tempat terbaik untuk masker sekali pakai adalah tempat sampah, bukan sembarangan di tempat publik, seperti trotoar, taman, dan tempat umum lainnya.

“Jika Anda memilih untuk pakai masker sekali pakai, sesuai dengan petunjuk pemerintah dan WHO, maka pastikan untuk membuang masker dengan benar, dengan melemparkannya ke tempat sampah,” katanya, seperti dikutip dari The Independent.

Sejauh ini, sosialisasi mengenai penanganan masker sekali pakai memang masih minim. Selain masih tertangani sebagaimana sampah umum, limbah masker juga masih kerap terbuang bebas ke selokan, jalanan dan sangat mungkin berakhir ke sungai.

Saatnya membuat aksi serius akan hal ini dalam bentuk perhatian khusus dari pemerintah untuk meminimalisir aksi pembuangan sembarangan. Hal lainnya yang juga penting adalah sosialisasi ke masyarakat mengenai perlunya penanganan khusus limbah masker.

KLIK INI:  Marak Kapal Membuang Limbah di Laut, Luhut: Kita Akan Kejar Mereka