Memerangi Pemanasan Global Melalui Lahan Basah

oleh -23 kali dilihat
Lahan Gambut, Pemilik Kekayaan Vegetasi yang Tak Boleh Dibakar
Ilustrasi lahan gambut/foto-ugm

Klikhijau.com – Tanaman di lahan basah bergaram (asin) dan air tawar memiliki peran yang besar. Terutama dalam memerangi pemanasan global. Karena dapat menangkap dan menyimpan karbon dioksida dalam jumlah besar.

Itu artinya merestorasi lahan basah, baik rawa air tawar atau rawa air asin hingga hutan bakau adalah sebuah keharusan. Jika ingin meredam pemanasan global.

Potensi lahan basah sebagai senjata memerangi pemanasan global memang besar. Pasalnya lahan basah hanya menutupi sekitar satu persen dari permukaan bumi. Mereka menangkap dan menyimpan lebih dari 20 persen CO2 yang diserap oleh semua ekosistem di dunia.

Peran lahan basah sebagai senjata memerangi pemanasan global—yang saat ini sangat meresahkan ditemukan oleh sebuah tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Radboud University.

KLIK INI:  Selain Inovasi Teknologi, Inovasi Sosial juga Penting Atasi Krisis Iklim

Para peneliti itu mengklaim jika lahan basa memiliki potensi yang sangat menjanjikan untuk membantu mitigasi perubahan iklim dan memperlambat pemanasan global.

Penyimpan CO2 setelah hutan

Karena tumbuhan yang terdapat di lahan basah mampu menangkap sejumlah besar CO2 dan menyimpannya di tanah sekitarnya. Ini menciptakan “hotspot penangkapan karbon”, seperti yang sekarang telah dikonfirmasi oleh para peneliti.

Para ahli menemukan bahwa lautan dan hutan menyimpan CO2 paling banyak, diikuti oleh lahan basah.

“Tetapi ketika kita melihat jumlah CO2 yang disimpan per meter persegi. Ternyata lahan basah menyimpan sekitar lima kali lebih banyak CO2 daripada hutan dan sebanyak 500 kali lebih banyak daripada lautan,” jelas Ralph Temmink penulis pertama studi tersebut.

“Rawa gambut, rawa asin, hutan bakau, dan padang lamun merupakan ‘titik panas’ penyimpanan CO2 global,” tambahnya.

KLIK INI:  Mengurai 4 Indikator Perubahan Iklim yang Alami Kesuraman

Rahasia hotspot ini, para peneliti menemukan bahwa lahan basah dibangun oleh tanaman pembentuk lanskap. Tanaman ini saling membantu ketika mereka tumbuh berdekatan, dan proses ini meningkatkan kemampuan mereka untuk menangkap CO2.

Misalnya, di rawa yang ditinggikan, lumut gambut berperilaku seperti spons dan menahan sejumlah besar air hujan.

Hal ini membuat lumut tumbuh lebih cepat, dan mereka mampu menstabilkan bahan tanaman mati yang tertahan di bawahnya di bawah air. Unsur hara yang dilepaskan dari bahan mati selanjutnya merangsang pertumbuhan lumut, yang pada gilirannya mengentalkan lapisan tanah yang menyimpan CO2.

“Kami mendukung penelitian ini dan sangat senang dengan temuannya,” kata Teo Wams seperti dikutip dari Earth

“Ini menunjukkan betapa pentingnya lahan gambut dan rawa asin, dan menggambarkan bahwa kita harus menjaga ekosistem yang berharga ini dengan baik. Selain itu, pengetahuan ini membantu kami meningkatkan pengelolaan dan restorasi bentang alam yang unik,” tambahnya.

Selain sebagai senjata memerangi perubahan iklim, lahan basah memiliki peran, di antaranya:

KLIK INI:  Menyelamatkan Hutan dengan Daging Alternatif Berbasis Jamur
  • Keanekaragaman hayati dan keindahan alam

Lahan basah unik dan kaya akan sumber daya alam, tetapi keanekaragaman hayati air tawar telah menurun drastis sejak tahun 1970-an. Tindakan bersama oleh individu, kelompok masyarakat, pemerintah dan sektor swasta sangat dibutuhkan untuk membalikkan tren ini.

  • Penunjang kesejahteraan

Lahan basah sering digunakan sebagai penggerak ekonomi lokal. Penggunaan lahan basah secara bijak dan diversifikasi mata pencaharian masyarakat lokal akan memungkinkan pengurangan penurunan lahan basah sekaligus mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial.

  • Sumber makanan berlimpah

Ketahanan pangan jangka panjang dan peningkatan keanekaragaman hayati dapat dipastikan dengan meningkatkan praktik pengelolaan air dan pertanian di lahan basah, dan memasukkan pengelolaan berbasis lahan basah ke dalam kawasan pertanian.

KLIK INI:  Studi: Krisis Iklim Harus Direspons seperti Pandemi Covid-19
  • Sebagai penyimpanan karbon

Lahan basah adalah salah satu reservoir karbon terbesar di Bumi. Dengan melindungi dan memulihkan lahan basah, kita dapat mengurangi emisi karbon, meningkatkan kemampuan kita untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, dan meningkatkan keanekaragaman hayati, ketahanan air, dan kesejahteraan manusia.

  • Penyedia air bersih

Permintaan akan air tumbuh dua kali lipat dari laju pertumbuhan penduduk. Kebutuhan air untuk konsumsi manusia, pertanian dan energi semakin meningkat. Pasokan air dapat dipertahankan melalui perbaikan pengelolaan air dan restorasi lahan basah.

  • Perlindungan dari bencana

Dampak bencana alam dan ulah manusia semakin meningkat akibat perubahan iklim, pembangunan yang tidak terencana dan kondisi lingkungan yang semakin merusak. 90% bencana yang terjadi berkaitan dengan air. Mengembalikan lahan basah yang hilang dan memperbaiki lahan basah yang rusak merupakan salah satu solusi untuk mengurangi kerusakan dan kerugian akibat bencana.

KLIK INI:  Peduli Kebersihan, Bank NTT Sumbang Tempat Sampah di Labuan Bajo