Membaca Tanda-Tanda

oleh -40 kali dilihat
Ilustrasi/foto-Sabalukisan

Benar saja, perempuan itu berjalan ke selatan. Mendaki bukit yang melintang di tengah dua gunung yang angker. Semua orang tahu itu bukan bukit biasa, tapi tempat tidur bangkulahang. Bukit itu adalah jalan menuju yang lain. Tempat berkumpulnya yang tak utuh, tak kasat mata.

Di puncak bukit tumbuh dengan rimbun pattong ‘bambu betung’. Pattong itulah yang diyakini warga sebagai penyelamat dari bangkulahang. Akar-akarnya memeluk bangkulahang hingga bisa tidur pulas.

Karenanya, tak ada yang berani menebangnya.  Menebangnya berarti mengizinkan kampung ditimbuni longsor. Juga tak ada yang berani memasuki  rimbunannya, sebab sama saja menyerah pada maut.

Bukit itu  tak jauh dari rumahku. Sejak aku mulai dimukimi ingatan—seingatku hanya satu orang yang berani mendaki bukit tersebut—perempuan itu.

Ketika semua lelaki di kampungnya jadi pengecut karena takut, seorang perempuan yang biasa-biasa saja menjadi pembeda.

Perempuan itu menelanjangi semua lelaki, namanya Cida. Orang yang lebih muda memanggilnya Puang Cida sebagai wujud menghormati yang lebih tua.

Puang Cida,  perempuan yang telah menyerahkan sepenuh hidupnya pada kepasrahan mendaki bukit itu dengan gagah berani. Padahal  di puncak bukit semua hal mengerikan bisa terjadi.

Konon, bukit itu adalah jalan para penunggu dua gunung, tempat berlalu lintas para tampakora, makhluk yang entah berjenis kelamin apa.

Tampakora biasa terlihat tengah malam saat sunyi benar-benar mengendap. Tampakora menggunakan obor yang saling menyambung hingga puluhan meter tanpa putus. Penandanya hanya obor itu.

Luka kehilangan yang nganga

Sejak delapan atau sembilan bulan terakhir,  pada hari kelima belas setiap bulan, Puang Cida akan mendaki bukit itu sambil  membawa layang-layang.

Awalnya tak ada yang peduli apa yang dilakukannya, tapi setelah tiap bulan ia mendaki. Perhatian warga mulai beralih. Segala perihal tentang Pung Cida jadi perbincangan yang menarik.

Semua bermula ketika cucu pertamanya meninggal di usia yang masih sangat muda, sekitar sembilan tahun. Sebagai cucu pertama, tentu menjadi pukulan luka paling perih bagi Puang Cida.

Apalagi cucunya itu telah jadi yatim piatu sejak kecil dan satu-satunya harapan melanjutkan keturunannya. Kepulangan cucunya kepada semestinya berarti memutus pula gen Puang Cida di dunia ini.

Semasa hidup, cucunya sangat menyukai layang-layang meski ia perempuan. Dan di balik rimbunan pattung itu, konon semua yang telah pergi bisa di temui dan Puang Cida ingin membuktikannya—menemui cucunya.

Hanya saja, setiap pulang dari bukit itu ia akan bungkam, menyembunyikan rahasianya. Warga kemudian menganggapnya tak waras. Rambutnya yang mulai diintipi uhang ‘uban’ akan dibiarkan tergerai. Ia menjadi perempuan paling angker di kampungku

Pertemuan-pertemuan yang merisau

Setiap pendakian bagi Puang Cida adalah pertemuan, pertemuan dengan cucunya. Layang-layang itu akan dipenuhi tulisan dan gambar-gambar menggemaskan sebagai oleh-oleh untuk cucunya di tempat lain, di balik rimbunan pattong.

“Layang-layang itu penuh dengan puisi.” Aku menoleh dan mendapati Puang Haming, ayahmu seolah berbisik di telingaku.

Aku abaikan saja ocehan, ia  terkenal suka bura-bura ‘bohong’. Semua orang tahu perilaku itu. Saat itu warga berkumpul menyaksikan Puang Cida mendaki bukit. Ia sangat lincah, meski telah berumur.

Dan hanya beberapa jam ia telah sampai di rimbunan pattong. Ia tak menoleh ke arah kampung. Terus saja berjalan dengan tergesa hingga tak lagi terlihat. Ia serupa tertelan batang-batang pattong

Cucu Puang Cida meninggal karena hal sepele, tersedak jagung bakar.  Rasa kehilangan terlalu biak dalam dirinya. Saat cucunya terbaring kaku di ruang tengah rumah. Ia berkali-kali pingsan.

Itu cucu pertamanya, juga cucu terakhirnya. Dua jam pasca cucunya itu dilahirkan ibunya meninggal—anak satu-satunya Puang Cida. Wajar saja jika luka teramat nganga dalam dirinya.

Saat pertama Puang Cida mendaki bukit, tak ada warga yang menyadarinya. Dua hari dua malam, lampu tak menyala di rumahnya.

Setelah warga  menyadari kejadian itu sontak geger dan berhamburan ke rumah panggung Puang Cida, yang sedikit tersembunyi dari jalan raya karena terhalang rimbunan cengkih dan masjid.

Rumahnya terkunci rapat, gembok kecil berwarna hitam terpasang kokoh di setang kunciannya. Warga bergantian mengetuk, mengintip di celah dinding papan sambil teriak memanggil nama perempuan itu.

Puang Cida tinggal sendiri setelah anak satu-satunya meninggal. Anak yang mengadokan  seorang cucu yang lucu menggemaskan. Namun, nasib tak berpihak baik kepadanya, cucunya pun meninggal dunia.

Sementara suaminya yang merantau dengan membawa perempuan lain—anak angkatnya sendiri tak pernah pulang.

“Ayo cari!”

“Kasihan dia,”

“Betapa berat beban hidupnya,”

“Ke mana kira-kira?”

Perdebatan warga saat menyadari Puang Cida sudah dua hari tak berada di rumahnya menghangat. Pencarian di perluas, hingga ke kaki bukit dan ditemukan satu petunjuk, sandal jepit berwarna merah putih berada di kaki bukit itu.

Semua orang tahu itu sandal jepit Puang Cida, jejak kakinya mengarah  ke atas. Tapi, tak ada yang berani mencarinya ke sana.

“Pasti sudah mati di makan tampakora atau dimakan binatang buas. Ini bahaya jika bangkulahang terbangun”  lagi, ayahmu yang mengeluarkan pendapat itu. Dan diamini yang  mendengarnya.

Bangkulahang, adalah makhluk raksasa yang tertidur di tanah. Jika ia bangun dan bergerak pergi maka akan menyebabkan tanah longsor.

Bangkulahang itu hanya mitos,” jawabku. Kamu menatapku geram karena membantah ayahmu. Aku suka tatapan marahmu, Kaina. Kamu terlihat cantik dalam marahmu.

“Jangan sembarang bicara, kalau bangkulahang dengar, kampung kita bisa tertimbun longsor.

“Hahhahaha, tak mungkin.”  tegasku. Aku menatapmu, matamu melotot kepadaku. Ayahmu menggerutu. Banyak pandangan benci mengarah kepadaku saat mengatakan itu. Namun, untuk membuktikannya tak ada yang berani mendaki bukit—mencari Puang Cida.

Lima hari berlalu, banyak orang yang mengira Puang Cida telah meninggal.

“Sebaiknya kita tunggu sampai besok, kalau Cida tak kembali, kita mencarinya,” ujar Puang Ramasing,  ketua RT yang dihormati warga.

Cerita di balik kepulangan

Bukit itu tempat paling angker di kampungku. Suara-suara aneh kerap muncul dari bukit meneror kampung. Menurut nenekku, itu suara orang yang putus hubungannya dengan hidup. Ia berkumpul di balik pattong itu.

Di sana ada tanah lapang yang sangat luas.  Di tempat itu jika beruntung akan bertemu sanak yang telah lama berpulang. Namun, hanya sedikit yang bisa membuktikannya. Biasanya lebih banyak yang tak pulang, tersesat di tanah lapang tersebut hingga berakhir di sana dengan mengerikan.

Malam keenam setelah menghilang, awal malam, lampu rumah Puang Cida kembali menyala. Orang-orang berhamburan ke sana ingin memastikan apakah Puang Cida masih hidup atau tak. Ketika orang naik ke tangga rumahnya, Puang Cida membuka pintu tanpa ada yang mengetuk. Wajahnya terlihat ceria.

“Puang dari mana,?” Tanya ayahmu, melombai yang lain. Aku menatapmu, Kaina. Kau mengedipkan mata dengan genit.”

“Datang membawakan layang-layang, Malana,” jawabnya ringan. Orang-orang yang datang banyak saling pandang, tak sedikit pula ada yang mencibir. Menganggap Puang Cida hanya bergurau. Namun lebih banyak yang merinding, termasuk aku dan kamu.

Kamu merapatkan tubuhmu ke arahku, rasa hangat menjalari tubuhku. Untung saja saat itu tak ada yang memperhatikan, jika ada bisa saja berakhir tragis kisah kita.

“Puang  naik ke bukit itu?” tanyaku.

Puang Cida hanya tersenyum. Menatap mata yang hadir satu persatu

“Di atas bukit banyak binatang buas. Dan hal-hal aneh, tapi aku senang bisa bertemu Malana, cucuku. Di sana tempat tinggal semua parangkang. Tulang-tulang berhamburan,” terangnya dengan mimik serius.

“Jangan bercanda,” tegas ayahmu

“Di tanah lapang setelah rimbunan pattong, ada tanah lapang yang luas, di sana para arwah, tetua kampung kita berumpul,”

Ayahmu terlihat pucat.

Ranang yang merana

Sejak kejadian malam itu. Tak ada lagi yang berani berkunjung ke rumah Puang Cida. Ia dianggap orang yang aneh dan membahayakan. Dan setiap hari kelima belas tiap bulan. Ia akan naik ke bukit  itu, membawa layang-layang  yang ditulisi  untuk cucunya, Malana.

Namun, aku sering melihat Puang Ranang, seorang duda yang ditinggal mati istrinya kerap mengunjungi rumah Puang Cida. Barangkali ia ingin ikut Puang Cida ke atas bukit agar bisa bertemu mendiang istrinya.  Tapi, Puang Cida tak pernah mengabulkannya.

Suatu hari, Puang Ranang menghilang. Orang-orang menebak jika ia naik ke bukit untu menemui mendiang istrinya. Puang Cida satu-satunya orang yang dianggap mampu menyelamatkan Puang Ranang. Setiap hari, orang-orang datang membujuknya dengan berbagai hadiah agar bersedia mencari Puang Ranang.

“Tunggu pada hari ke lima belas bulan ini, begitu saja jawabannya sambil menulisi layang-layanhg  untuk cucunya. Janji itu tak pernah ditepati olehnya, sementara hadiah menumpuk di rumahnya.

Membaca tanda-tanda

Sembilan hari setelah Puang Ranang menghilang, pattong di puncak bukit yang sering didaki Puang Cida terlihat banyak yang tumbang. Warga kembali geger, dilihatnya dari kejauhan seseorang mengayunkan kapaknya—ia menebangnya.

Warga yakin itu adalah Puang Ranang. Semakin lama, rimbunan pattong itu menipis. Banyak warga ketakutan, mereka memilih meninggalkan rumahnya, sebab percaya bangkaluhang akan bangun, tak ada lagi akar yang memeluknya, jika itu terjadi rumah-rumah warga akan ditimbuni longsor.

Kamu sekeluarga pun meninggalkan kampung, sementara aku sekeluarga memilih bertahan. Aku telah membaca tanda-tanda sejak hari pergimu, pertemuan kita semakin menipis.###