Melepas Status Gastrodia Bambu sebagai Anggrek Endemik Indonesia

oleh -18 kali dilihat
Melepas Status Anggrek Hantu sebagai Flora Endemik Indonesia
Gastrodia Bambu, si anggrek hantu-foto/Lipi

Klikhijau.com – Keberadaan Gastrodia bambu, si anggrek hantu belum terlalu lama diketahui. Publikasinya pun baru dimulai pada pertengahan Agustus 2017 lalu.

Orang yang berjasa mempublikasikannya adalah Destario Metusala. Ia merupakan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Destario bertugas di Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) Kebun Raya Purwodadi. Ia tak sendiri, tapi bersama Jatna Supriatna, seorang peneliti biologi konservasi Universitas Indonesia (UI).

Pada tahun 2017 lalu, Destario telah mempublikasikan spesies baru anggrek hantu Gastrodia. Anggrek tersebut berasal dari Pulau Jawa yang diberi nama ilmiah Gastrodia bambu.

KLIK INI:  Dunia Serangga Segera Berakhir?

Mengapa namanya harus Gastrodia bambu? Itu karena nama tersebut terinspirasi dari habitatnya yang spesifik di sekitar rumpun-rumpun bambu.

Karena itu, nama yang diambil pun adalah bambu yang berasal dari bahasa Indonesia. Sehingga, nama lengkap spesies baru itu pun menjadi Gastrodia bambu.

Publikasi spesies baru anggrek dari Indonesia tersebut di terbit pada jurnal ilmiah internasional yang bernama Phytotaxa.

Hasil identifikasi menunjukkan jika spesies baru anggrek hantu itu berasal dari kelompok anggrek holomikotropik. Anggrek jenis ini biasa disebut anggrek hantu oleh para peneliti.

Mengapa namanya harus horor, “hantu”. Itu karena daur hidup alami anggrek ini cukup unik. Hanya bisa terlihat secara kasat mata saat berbunga saja.

Anggrek yang dalam dunia peranggrekan populer berasal genus Gastrodia spp ini, akan mustahil dapat ditemukan di alam saat tidak sedang berbunga.

Selain itu, periode berbunganya pun terbilang sangat jarang. Pada setiap individu rhizom dewasa saja, hanya biasa berbunga 1 hingga 2 kali dalam setahun. Itu pun waktu berbunganya singkat, hanya sekitar satu mingguan.

Karena itu, bagi yang melihat tanaman berbunga ini di habitat alaminya adalah orang yang sangat beruntung.

Ciri-ciri Gastrodia bambu

Anggrek hantu pada umumnya hanya muncul pada satu waktu pendek, sekitar 2 hingga 4 minggu pertahun.

Tumbuhan ini merupakan tumbuhan yang tidak berklorofil. Itulah sebabnya ia tidak dapat berfotosintesis.

Meski begitu, tumbuhan ini termasuk tumbuhan mandiri, sebab tidak bersifat parasit. Itu pula yang menyebabkan seluruh daur hidupnya menggantungkan suplai nutrisi organik melalui simbiosis dengan jamur mikoriza.

Anggrek ini digolongkan ke dalam kelompok holomikotropik. Ia bisa mengejutkan, sebab  perbungaannya secara tiba-tiba akan muncul dari permukaan tanah/seresah. Namun tidak lama, hanya hanya kisaran 1 hingga 2 minggu perbungaan, lalu akan layu busuk dan lenyap.

KLIK INI:  Kebun Raya, Tumpuan Indonesia Hadapi Perekonomian Bioindustri

Untuk Gastrodia bambu, tumbuhan ini memiliki bunga berbentuk lonceng. Ukurannya, yaitu panjang 1,7-2 cm, sedangkan lebarnya  1,4-1,6 cm. Untuk kombinasi warna bunganya tidak ada yang terlalu mencolok.  Warnanya secara umum hanya  berkisar pada warna putih, kekuningan, hingga kecoklatan.

Dalam satu perbungaan, ia bisa menghasilkan hingga 8 kuntum bunga yang mekar secara bergantian. Bunga yang dihasilkan memiliki  aroma ikan busuk. Aroma itu bertujuan  mengundang serangga polinator.

Tumbuhan ini terkesan angker. Apalagi ia suka “ngumpet” di tempat yang gelap, karena  ia menyukai habitat yang gelap, lembab, dan selalu berdekatan dengan rumpun bambu lebat yang sudah tua

Untuk perbungaannya sendiri akan muncul dari tanah berseresah di bawah rumpun-rumpun bambu tua pada ketinggian 800 – 900 m di atas permukaan laut (mdpl).

KLIK INI:  Meski Statusnya Dilindungi Burung Pleci Tidak Bebas Terbang
Melepas status endemik

Jika selama ini Gastrodia bambu berstatus sebagai flora endemik Indonesia, maka status itu harus dilepaskan dengan suka rela.

Pasalnya pada tahun 2018, Leonid Averyanof, seorang peneliti berkebangsaan Rusia telah mempublikasikan sebuah spesies baru anggrek hantu Gastrodia khangii berbunga kecoklatan. Averyanof menemukannya di hutan Provinsi Son-La, Vietnam dan diduga anggrek tersebut adalah  spesies endemik yang terbatas.⁣

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal global Phytotaxa pada tahun 2020. Setelah penemuan Averyanof tersebut, Destario melakukan observasi mendalam untuk membandingkan kedua spesies Gastrodia tersebut.

Dan hasilnya menunjukkan, keduanya merupakan satu taksa yang sama. Karena itulah ditarik kesimpulan jika anggrek hantu Gastrodia bambu yang dulu berstatus endemik Indonesia, kini bukan lagi sebagai spesies endemik Indonesia. Sebab populasi alaminya ditemukan pula di Vietnam.⁣

Namun meski begitu, habitan Gastrodia bambu tetap harus dijaga agar lestari. Apalagi diduga kuat jika anggrek ini memerlukan kondisi ekologi yang sangat spesifik dan sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Ia sangat sangat peka terhadap kekeringan, intensitas cahaya berlebih, dan juga perubahan pada media tumbuhnya. Karenanya, ia harus dijaga dan dilindungi.

KLIK INI:  Membincangkan 4 Spesies Baru Kepiting yang Ditemukan di Indonesia