Mata Sulida

Publish by -53 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Mata Sulida
Ilustrasi/Foto- Gus Sofyan

Gelisah merajamnya. Naik ke Lompobattang adalah mimpi yang akan tiba dalam nyatanya meski ketakutan membatu di hatinya. Telah banyak ia dengar bila tingkat keangkeran Lompobattang lebih mengerikan daripada Bawakaraeng. Menurut banyak orang, Lompobattang adalah perempuan. Perempuan lebih sensitif dari lelaki.

Lalu hari itu, hari yang membuat jantungnya serasa palpitasi. Hari di mana ia harus ke Gunung Lompobattang, menikmati tualang kecilnya. Maka, sekali saja ia menoleh ke arah perempuan yang dipanggilnya ibu, langkahnya kemudian terayun perlahan ditelan pepohonan di setapak itu—jalan menuju romang ‘hutan’ untuk mencari madu.

Musim kemarau, waktu paling tepat mencari madu yang akan di jual ke pasar. Hasil penjualan itu akan pakai membeli bibit cengkih dan kopi. Dua komoditi andalan di kampungnya. Namun, kali ini ia bertekad bukan hanya untuk membeli keduanya, tapi juga ingin membelikan ibunya panci yang memakai dandang, di kampungnya namanya langsang—panci yang bisa dipakai mengukus makanan.

Ibunya telah lama menumpuk keinginan itu—memiliki panci yang bisa menghasilkan songkolo, ‘beras ketan yang dikukus’. Hatinya selalu sesak setiap melihat ibunya meminjam langsang dari tetangga.

KLIK INI:  Nyanyian Sunyi di Rumpun Bambu

Sementara ayahnya lebih banyak abai, lebih memilih menghidupi istri kedua dan ketiganya. Acap ia pikirkan akan melampaui pencapaian ayahnya, yang hanya memiliki tiga istri.

Ia ingin memiliki empat atau lima istri. Jika itu tercapai, ia bisa menepuk dada di hadapan ayahnya. Sebab ia bisa mengalahkan lelaki yang angkuh itu. Membayangkannya saja, hatinya telah girang, bagaimana jika benar-benar terwujud?

Ia juga bayangkan, jika kemarau telah hijrah pada entah yang tak bisa ditebak, dan musim basah turun, makan songkolo akan jadi pelipur dingin dan sepi yang sempurna. Pare pulu’ ‘beras ketan’ tak usah dibeli, sebab sawahnya bisa menghasilkan panen enam karung sekali panen pare pulu’

*****

“Bekal ini cukup seminggu,” terka ibunya sambil mengemasi lappa’ ‘nasi jagung yang dibungkus daun jagung’ “ini tahan basi,” lanjutnya.

Besoknya ia bersama Puang Tangka, pamannya serta dua sepupunya berangkat ke romang. Mendaki gunung Lompobattang. Semua itu dilakukan demi panci, demi cinta pada ibunya.

Tak ada alasan baginya bermalas-malasan, apalagi tahun depan ia akan dinikahkan dengan Sulida, anak kedua Puang Baska. Perempuan dari dusun seberang.

Ayahnya dan ayah Sulida berteman karib dan memiliki perangai yang sama—memiliki tiga istri. Ia tak mungkin abai pernikahan itu. Lagi pula dirinya tak menampik jika cinta bertunas di hatinya untuk Sulida lebih dari apa pun. Jika membayangkan Sulida, kelelakiannya acap berontak.

Naik ke gunung Lompobattang adalah peristiwa langka, tak sembarang orang melakukannya, juga waktunya. Karenanya harus dipilih hari baik oleh orang pintar. Biasanya jika ada yang akan naik ke Lompobattang mencari madu atau rotan, maka malam Jumat sebelum berangkat akan diadakan sungkabala oleh Puang Bunja. Sungkabala adalah ritual menolak bala, menghindarkan orang yang naik ke Lompobattang dari bencana.

“Kalian harus berangkat dua hari lagi, saat subuh hari,” saran Puang Bunja penuh keyakinan. Tak ada yang bisa membantahnya, membantah adalah kualat, sebab Puang Bunja mengatakan itu bukan tanpa dasar, ada kitab lontara ia pegang.

KLIK INI:  Gerakan Kultural Ekologi Politik Kaum Muda Nahdliyin

“Jangan menebang pohon sembarangan, jangan bicara kotor, dan jangan mengambil apa pun selain yang menjadi tujuan utama kalian, madu dan rotan untuk di bawa pulang. Jika diambil untuk dimakan atau digunakan dalam romang tak masalah.” Lanjutnya panjang agar pesan itu melekat di kepala.

Ini pengalaman pertamanya masuk romang. Semangatnya buncah melimpah. Ia bayangkan panci yang akan dibelikan untuk ibunya, membayangkan Sulida tiba di hadapannya sebagai istri. Membayangkan semua itu, semangatnya tumbuh subur. Sehari jelang pergi. Ia bertamu ke rumah Puang Baska. Tujuannya bukan untuk pamit, hanya ingin menikmati seduhan kopi Sulida sebelum ia pergi ke romang.

Tak semua orang di kampungnya berani masuk romang, tapi ia termasuk pengecualian. Tak ada gentar di hatinya jika itu masalah ibunya dan juga untuk dirinya sendiri.

Bibit cengkih dan kopi akan ia tanam di tanah kosong yang telah disepakati keluarganya akan menjadi sunrang, ‘mahar’ saat ia menikah nanti. Itu artinya ia tak punya alasan bermasalasan sebab jerih payahnya akan dinikmati Sulida dan anak-anaknya kelak d tanah kosong itu, yang sebentar lagi akan menjelma kebun kopi dan cengkih.

*****

Sulida tahu jika ia telah dijodohkan oleh ayahnya. Ia tidak berani membantah, tapi di hati kecilnya. Darmian sudah seperti kakaknya sendiri. Tak ada cinta yang bisa tumbuh di hatinya untuk lelaki yang memelihara kumis tipisnya itu. Tapi, mengabdi kepada orang tuanya dengan cara patuh tanpa membantah adalah sebuah kewajiban, kewajibannya sebagai anak.

Dan sangat kurang ajar, ia berharap Darmian tak pernah pulang dari Lompobattang. Ia berharap Darmian disembunyikan salihu ‘kabut’. Doa yang keterlaluan, tapi sungguh itulah yang dilakukannya. Ia tak menginginkan perjodohan itu. Hatinya telah tertambat kepada Illang, anak si kepala RT yang berwajah imut.

KLIK INI:  Hujan yang Berhenti di Bibirmu

Namun, ia tak memilki kuasa membantah. Membantah kepada orang tuanya sama saja merampas hidup kedua orang yang telah menghadiahkannya kehidupan. Dan sungguh ia tak tega, maka satu-satunya cara yang dilakukan adalah berdoa agar Darmian tak pulang.

“Semoga ini kopi terakhir saya seduh untuknya,” ucapnyaa ketika menyeduh kopi untuk Darmian, saat kunjungan terakhirnya ke rumahnya.

Darmian menyeruput kopi itu dengan dengan perasaan nikmat yang luar biasa, kopi seduhan Sulida baginya adalah kopi ternikmat. Tak ada bandingannya. Cinta membuat rasanya lebih dari apa pun.

*****

Seharian ia berjalan ke Lompobattang, banyak duri melukai kulitnya. Tapi ia tetap tegar, berjalan tanpa alas kaki. Bekal pemberian ibunya hampir habis di perjalanan.

“Kalian lemah,” ejek pamannya. Sambil melihat ke ponakannya dan kedua anaknya.

Ada hal yang rupanya dilanggar oleh mereka. Saran Puang Bunjo, tak boleh ke romang, ke Lompobattang jika tak ganjil. Dan mereka pergi hanya berempat dengan terpaksa, setelah Puang Linang membatalkan niatnya karena mencret sejak semalam.

Apa boleh buat, tak ada kata mundur dari rencana. Keempatnya tetap pergi ketika warga banyak yang lelap. Mereka membawa lancu’ ‘obor’ menyusuri jalan setapak yang entak akan berujung di mana. Ketika matahari sepenggalan naik, Puang Garri naik ke batu, appihajang ‘melihat dengan meletakkan tangan di atas mata’ untuk melihat bampo ‘lebah’ di mana bersarang.

Hampir tiga puluh menit Puang Garri melakukan hal tersebut, tapi hasiilnya nihil.

“Ayo, kita lanjut,” ajaknya. Perjalanan masuk ke romang, naik ke Lompobattang masih merentang jarak.

****

Malam telah turun ketika mereka sampai di gunung keramat itu. Mereka memutuskan bermalam di sebuah tanah lapang, tak terlalu jauh dari sungai. Mereka menggatung sarung membentuk ayunan bayi di pohon tinggi agar binatang buas tak memangsa mereka.

Babi hutan dan hewan lainnya bisa saja tiba menerkam. Meski belum ada yang pernah ada yang alami, tapi waspada jauh lebih baik.

Tiga hari mereka di borong, madu telah banyak dan rotan pun cukup dibawa pulang. Hari keempat mereka berencana pulang. Saran Puang Bunjo selalu saja diulang oleh Puang Garri, jangan mengambil sembarang benda di Lompobattang. Bisa berakibat fatal.

Ketika subuh dan mereka bersiap pulang, Darmian ke sungai cuci muka. Ia melihat sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia mengambil jepit rambut itu.

“Akan kuhadiahkan Sulida,” katanya sambil memasukkan ke kantongnya. Ia membayangkan mata Sulida akan membesar kegirangan melihat hadiah darinya.

KLIK INI:  Seberapa Besar Cinta Kita pada Hutan?

Mereka berjalan pulang. Kantong celana Darmian terasa berat ketika ia keluar romang. Suara aneh acap mendengung di sana.

“Kembalikan, kembalikan,” suara itu memenuhi pikirannya. Dan ia merasa bersalah. Tapi, rasa bersalah itu diabai, bayangan senyum Sulida membayang di matanya saat ia mengenakan jepit rambut itu. Sulida akan terlihat cantik jika mengenakannya.

Hari keenam, mereka sampai di kampungnya di sambut ceria semua warga. Bagi yang pulang dari Lompobattang dengan selamat adalah pahlawan. Tapi, saat pulang itulah Darmian terlihat aneh. Ia sering berbicara sendiri.

Lama kelamaan pikiran Darmian semakin kacau. Barangkali doa Sulida terkabul dengan cara yang lain. Jepit rambut yang diambil dari sungai kerap mengeluarkan suara rintihan, yang hanya Darmian sendiri mendengarnya. Jika ia mendengar suara itu, kepalanya serasa akan pecah dan keringat akan membanjir dari porinya.

“Kamu mengambil sesuatu dari Lompobattang, hutan dan gunung yang keramat dan dilindungi,” terkah Puang Bunjo.
“Hanya ini, Puang,” ia mengulurkan tangan, memperlihatkan jepit rambut itu, tapi tak ada yang melihatnya selain dirinya.
“Kosong,”
“Ini jepit rambut,”
“Jika kamu mengambil sesuatu, sebaiknya kembalikan. Tapi kali ini kamu harus mengembalikannya seorang diri.

Mendengar saran Puang Bunjo. Darmian menjerit sejadi-jadinya lalu lari turun dari tangga rumahnya, berlari terus menuju jalan ke Lompobattang.

Mata Sulida berair saat tubuh Darmian tak lagi terlihat.

KLIK INI:  Dadamu Deru Ombak

Idris Makkatutu, lahir di Desa Kindang, Bulukumba sekian tahun lalu. Menyukai sastra

Editor: Idris Makkatutu
Sumber: Klikhijau.com

KLIK Pilihan!