Masyarakat di Sekitar TN Gunung Palung Berkreasi Membuat Ecopolybag Berbahan Bambu

Publish by -145 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Masyarakat di Sekitar TN Gunung Palung Berkreasi Membuat Ecopolybag Berbahan Bambu
Polybag berbahan limbah bambu hasil kreasi masyarakat di sekitar TN Gunung Palung - Foto/Ist

Klikhijau.com – Masyarakat di sekitar Taman Nasional (TN) Gunung Palung Kalimantan Barat mengembangkan ecopolybag selama pandemi.

Kegiatan ini dilakukan berkolaborasi dengan Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) yang melibatkan kelompok masyarakat yang diberdayakan yakni Kelompok Kayek Melayet Besame yang berasal dari Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.

Pemberdayaan yang dilakukan adalah pembelian kerajinan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dalam bentuk Ecopolybag sebanyak 15.000 unit sampai dengan akhir tahun 2020.

Kepala Balai TN Gunung Palung, M. Ari Wibawanto menjelaskan, ecopolybag yang dibuat oleh kelompok Kayek Melayet Besame ini adalah contoh inovasi yang luar biasa, dan patut diberikan apresiasi.

Hal ini juga merupakan bentuk kemitraan konservasi yang digagas oleh Kementerian LHK melalui Ditjen KSDAE, dengan memberikan akses yang legal kepada masyarakat untuk dapat memanfaatkan HHBK dari dalam kawasan konservasi.

KLIK INI:  KLHK Apresiasi Polri Atas Pengungkapan Kasus Perdagangan Illegal Satwa Liar Dilindungi

“Kami berterima kasih karena Yayasan ASRI terus mendukung program-program pemberdayaan masyarakat yang kami lakukan,” kata Asri.

Asri mengatakan, dengan adanya kerjasama ini semoga dapat membantu meningkatkan ekonomi kelompok masyarakat terutama di tengah tantangan Pandemi Covid-19 ini. Pihaknya bersama para mitra berkomitmen untuk terus mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan.

Kayek Melayet Besame adalah kelompok masyarakat yang memiliki izin pemanfaatan HHBK di zona tradisional melalui Kemitraan Konservasi. Kelompok ini terdiri dari 35 orang, dimana 25 orang anggotanya adalah perempuan.

Lebih lanjut, Ari menyampaikan Balai TN Gunung Palung selalu mendorong pemberdayaan masyarakat. Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, pihaknya selalu mendorong kelompok Kayek Melayet Besame melakukan pengembangan produk kerajinan melalui mitra-mitranya.

KLIK INI:  Indonesia dan Denmark Perkuat Kerjasama dalam Pengelolaan Sampah

“Kesanggupan kelompok memenuhi permintaan Yayasan ASRI untuk membuat ecopolybag merupakan salah satu kontribusi kelompok dalam upaya melestarikan kawasan taman nasional,” ucapnya.

Kayek Melayet Besame merupakan spesialis kelompok pengrajin anyaman berbahan dasar bambu, rotan dan resam yang HHBK tersebut dipungut dari dalam Kawasan taman nasional.

Polybag ramah lingkungan

Kepala RPTN Pangkal Tapang pada Balai TN Gunung Palung sekaligus Fasilitator masyarakat di Desa Laman Satong, Ranto Sihotang mengatakan ecopolybag yang dibuat oleh kelompok ini berbahan dasar bambu yang aman dan tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan.

“Ecopolybag ini dapat digunakan sebagai pengganti polybag plastik yang umumnya digunakan untuk pembibitan. Penggunaan polybag plastik kurang ramah lingkungan karena menimbulkan limbah plastik. Dengan adanya ecopolybag dari bambu ini, selain meningkatkan ekonomi kelompok masyarakat, juga mengurangi limbah plastik,” ujarnya.

KLIK INI:  Tiga Direktur Pemilik Kayu Ilegal di Jayapura Resmi Jadi Tersangka

Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan ASRI Nur Febriani menyampaikan bahwa Yayasan ASRI sangat gembira dengan adanya kerjasama ini.

Sejak lama ASRI dan Balai Taman Nasional Gunung Palung bekerjasama dalam program penanaman hutan kembali. Kali ini kedua pihak bekerjasama untuk meningkatkan kualitas dari program penanaman tersebut.

“Berawal dari keinginan ASRI untuk mencari alternatif polybag agar tidak menghijaukan hutan dengan meninggalkan tumpukan sampah plastik dari polybag. ASRI menghubungi perusahaan-perusahaan biodegradable polybag, namun sayangnya polybag mereka tidak bisa bertahan lama. Kurang dari tiga bulan, polybag mereka akan terurai. Sementara bibit-bibit pohon yang disemai ASRI membutuhkan polybag yang dapat terurai jauh lebih cepat dari plastik, namun cukup tahan hingga bibit pohon kuat untuk ditanam di tanah (sekitar 6 bulan – 1 tahun),” tuturnya.

Balai TN Gunung Palung memberikan jawaban atas kebutuhan ini. Kelompok binaan di Desa Laman Satong dikaryakan untuk membuat polybag dari anyaman bambu.

“Jadi, jika biasanya kami menyemai bibit dalam polybag plastik, kali ini kami menggandeng masyarakat, terutama perempuan, untuk memproduksi polybag ramah lingkungan. Polybag ini terbuat dari bambu yang tadinya merupakan bahan sisa dari ibu-ibu yang membuat anyaman tampi beras,” kata Nur.

Bisa dibayangkan, kata Nur, ribuan polybag plastik akan digantikan dengan polybag anyaman bambu ini, yang tidak hanya ramah lingkungan karena akan terurai alami, tapi juga membantu perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

KLIK INI:  Demi Masa Depan, Edukasi Bahaya Sampah Penting untuk Anak-Anak
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!