Masyarakat di Desa Penyangga TN Babul Mitra Kunci Konservasi Hutan

oleh -72 kali dilihat
Masyarakat di Desa Penyangga TN Babul Mitra Kunci Konservasi Hutan
Kepala Balai TN Babul memaparkan gambaran umum TN Babul kepada peserta sosialisasi Kemitraan Konservasi di Maros - Foto: Ist

Klikhijau.com – Masyarakat adalah subjek utama dalam pengelolaan hutan konservasi di Taman Nasional Bantimumurung Bulusaraung (TN Babul). Untuk diketahui, terdapat 48 desa penyangga di sekitar kawasan yang menjadi kunci kemitraan konservasi.

Desa tersebut berada di 12 kecamatan dan 3 kabupaten yakni Maros, Pangkep, dan Bone. Keberadaan desa penyangga memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian kawasan TN Babul sebagai kawasan konservasi.

Masyarakat harus hidup sejahtera dan hutan juga tetap lestari dan terjaga. Inilah filosofi dari kemitraan konservasi yang diusung dalam pengelolaan hutan dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor kunci.

Oleh sebab itu, kolaborasi antara Balai TN Babul, masyarakat dan para stakeholders di sekitar kawasan perlu dibangun dan dijaga. Demikian dikatakan Kepala Balai TN Babul Ir. Yusak Mangetan, M. AB saat memaparkan gambaran umum mengenai pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan.

“Sejauh ini, hubungan kami sangat baik dengan para stakeholders di semua desa penyangga. Kami berkomitmen mendorong kesejahteraan masyarakat desa dengan memediasi munculnya produk-produk hasil hutan non kayu,” cerita Yusak Mangetan dalam Sosialisasi Kemitraan Konservasi yang digelar Balai TN Babul di Maros (20-21 Maret 2022).

KLIK INI:  Rahmia Nugraha, Kartini Tangguh Penggemar Fauna Wallacea

Yusak Mangetan menambahkan sejauh ini sudah ada beberapa produk unggulan dari kabupaten Maros khususnya kopi yang telah dipromosikan di tingkat nasional. Selain kopi, ada pula jahe instan yang dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH) di sekitar kawasan.

“Semua produk-produk unggulan tersebut sangat membantu perekonomian masyarakat di desa, di samping juga mempromosikan Kabupaten Maros,” ucapnya.

Yusak Mangetan juga berharap ke depan semua desa penyangga di sekitar kawasan memiliki KTH dan Kelompok Pengelola Ecowisata (KPE). Kelompok-kelompok tersebut diharapkan akan menonjolkan kekhasan produknya sesuai potensi yang ada di wilayahnya.

Sosialisasi Kemitraan Konservasi yang digelar Balai TN Babul menghadirkan semua stakeholders khususnya pemerintah desa dan kelurahan yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional. Pada pertemuan ini pula ditandatangani komitmen pengakuan terhadap kawasan konservasi yang harus dijaga secara bersama.

Saat ini terdapat, kelompok pemberdayaan di desa penyangga ada sekira 40 kelompok binaan yang berada di 25 desa penyangga. Dari kelompok tersebut, sebanyak 12 kelompok kemitraan konservasi yang berada di 7 desa penyangga. 12 kelompok di antaranya juga sudah memperoleh Surat Keputusan Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Konservasi (SK KULIN) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Juga terdapat 7 kelompok sudah memperoleh Surat Keputusan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (SK KUPS) yang fasilitasi oleh Balai Perhutanan Sosial Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Sulawesi.

Yusak Mangetan juga menekankan skema kerjasama yang dapat didorong bersama antara masyarakat dan pihak Balai TN Nasional dalam pengelolaan hasil hutan non kayu. Hal ini penting sebab kekayaan hutan selain menghasilkan barang dan jasa yang dapat dikonsumsi secara langsung, juga potensi yang sifatnya tidak langsung berupa jasa-jasa lingkungan.

KLIK INI:  Cerita Berakhirnya Aksi Pelaku Penjualan Online Bagian Tubuh Satwa yang Dilindungi

Sekilas tentang TN Babul

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung ditunjuk menjadi kawasan konservasi cq. taman nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan nomor: 398/Menhut-II/2004, tanggal 18 Oktober 2004.

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung seluas ±43.750 ha, terletak di wilayah administrasi Kabupaten Maros, Pangkep dan sebagian kecil Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Sebagian Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan ekosistem karst yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan jenis- jenis flora dan fauna endemik, unik dan langka. Tak hanya itu taman nasional ini memiliki keunikan fenomena alam yang khas dan indah; serta sebagai daerah tangkapan air.

Taman nasional menghasilkan barang dan jasa yang market base dan non market based. Barang dan jasa yang market base adalah yang dapat nilai secara moneter dalam satuan nilai mata uang, sehingga transaksi dari barang dan jasa tersebut dapat dengan mudah dilakukan.

Sedangkan apabila dilihat dari aspek manfaat sumberdaya hutan memiliki manfaat tangible dan intangible. Manfaat tangible berupa kayu dan non kayu yang dapat secara langsung dinilai melalui sistem pasar (market base) sedangkan manfaat intangible hutan belum dapat dinilai dengan sistem pasar (non market base).

KLIK INI:  Karena Alasan Cuaca, Jalur Pendakian Bulusaraung Tutup Sementara Waktu