Masa Depan Penerapan Green building di Indonesia?

oleh -1.398 kali dilihat
green building di indonesia
green building-Foto/Pixabay

Klikhijau.com – Bagaimana penerapan bangunan hijau (green building) di Indonesia saat ini? Sudah cukup lama minset ini dihembuskan dengan istilah lain arsitektur hijau. Bukan tanpa alasan, permasalahan lingkungan di perkotaan semakin kompleks dengan defisit ruang terbuka hijau.

Kota-kota di Indonesia mulai memanen pemborosan energi dan merosotnya kualitas hidup akibat pola bangunan tidak ramah lingkungan. Isu bangunan hijau semakin mengemuka karena dikaitkan pula dengan isu global seperti perubahan iklim dan global warming.

Secara global, isu green building sudah berjalan dengan adanya sistem penilaian terhadap implementasinya. Penilaian arsitektur hijau paling populer di dunia adalah LEED (leadership ini Energy and Enviromental Desain) dari Amerika Serikat. Di Jepang dikenal sebuah lembaga bernama CASBEE (Comprehensive Assesment system for Built Enviroment Efficiensy). Sedangkan di Australia ada Green Star dan BREEM (Building Research Establishment Enviromental Assessment Method) dari Inggris.

Di Indonesia sendiri penilaian green building dilakukan oleh GBCI (Green Building Council Indonesia). Monitoring dan penilaian terhadap arsitektur hijau di Indonesia juga mulai berjalan. Banyak pihak melihat bahwa konsep ini adalah strategi jitu dalam menghadapi krisis lingkungan ke depan.

KLIK INI:  Apakah di Masjid Tempat Anda Shalat Jumat Sudah Ramah Lingkungan?

Richard Mathews, Konsul Australia di Makassar pada sebuah forum diskusi juga pernah mengatakan kalau Australia semakin serius dalam pengembangan green building. Bahkan bangunan rumah warga di Australia juga mulai bergeser ke konsep arsitektur hijau sebagai cara memiminimalkan pemborosan energi dan air.

“Banyak masyarakat sudah memasang sistim panel surya di rumah pribadinya untuk mengurangi pemakaian listrik yang berasal dari pembakaran minyak atau batu bara. Dengan maksud untuk mengurangi pengeluaran gas karbon dioksida dan bahan karbon lainnya,” kata Richard.

Richard membeberkan bagaimana Australia sangat concern akan hal ini. Misal dibangunnya banyak pabrik tenaga listrik terbarukan seperti PLT bayu, air, surya dan pabrik tenaga listrik berkelanjutan lainnya. “Inilah industri dan sistim baru yang akan menyelamatkan kita dari ekonomi karbon yang merusakkan lingkungan dunia ini,” jelasnya.

Dampak lingkungan arsitektur hijau

Apakah penerapan arsitektur hijau memiliki dampak besar terhadap kesehatan dan lingkungan. Muhammad Nur Fajri Alfata, Direktur Penelitian dan Pengembangan Energi Bersih Indonesia, menulis bahwa beberapa studi kritis memperlihatkan adanya perbedaan sudut pandang akan green building terutama pada aspek dampak lingkungannya.

Dalam tulisannya berjudul “Telaah atas konsep green building di Indonesia” Nur Fajri membandikan tiga riset ahli. Pertama, studi Scofield (2009) yang menemukan bangunan yang sudah bersertifikasi hijau dari LEDD tidak menunjukkan kemampuan penghematan energi yang lebih baik bila dibandingkan dengan bangunan non hijau.

KLIK INI:  Indonesia Loloskan 5 Resolusi di Sidang UNEA-4, Begini Uraiannya!

Riset Gou, et al (2013) juga menemukan bahwa penghuni bangunan hijau ternyata hanya merasa puas pada aspek desain, kebutuhan dan produktivitas tapi kurang puas pada aspek kesehatan. Dari aspek kenyamanan, penghuni bangunan hijau merasa lebih nyaman pada kondisi udara musim panas tapi merasa kurang pada kondisi udara musim dingin.

Pandangan paling kritis diajukan Olgyay & Herdt (2004, dikutip Nur Fajri), tidak ada indikator kesehatan lingkungan dalam menilai dampak bangunan terhadap lingkungan sekitar. Pendapat ini diperkuat oleh studi Sharifi & Murayama (2013) yang melihat bahwa tujuh sistem penilaian bangunan hijau seringkali bias pada kriteria sumber daya dan lingkungan.

Katanya, isu-isu penting seperti perumahan yang terjangkau, ekonomi lokal dan lapangan kerja, masyarakat yang terbuka (terutama aspek sosial dan ekonomi) belum menjadi perhatian pada sistem penilaian bangunan hijau.

Green building sudah kebutuhan

Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku (P3E Suma) KLHK, Dr. Ir. Darhamsyah berpendapat, penerapan green building saat ini adalah sebuah keniscayaan. Khususnya di daerah perkotaan (urban). Bagaimana tidak, katanya, kawasan perkotaan kita semakin menyesakkan dari waktu ke waktu.

“Bangunan cenderung membuat manusia teralienasi (terasing) dari lingkungan hidupnya. Mereka stres, baper, melow. Itu fenomena orang yang banyak tinggal di ruang tertutup dan mengalami diconnected denganlingkungannya,” tuturnya.

KLIK INI:  Apa Urgensinya Segera Dibentuk Tim Pencari Fakta Banjir Masamba?

Inisiator program eco office di kantor P3E Suma ini menegaskan, perlunya reformasi minset dari gedung yang serba buatan ke gedung yang serba natural. “So, jangan terlambat. Sebelum masyarakat kita sakit, mari beralih ke green building,”pesannya.

Untuk konteks Indonesia, kata Darhamsyah konsep yang tepat adalah tropical green building. “Kita kaya sinar matahari dan hembusan “angin mammiri”. Mari manfaatkan kekayaan itu dengan desain arsitektur yang cerdas,” katanya.

Darhamsyah melihat perkembangan bangunan hijau di Indonesia mulai membaik seperti di Jakarta. Namun, perlu lebih banyak lagi memasukkan kearifan lokal. “Gedung boleh bertingkat, tapi prinsip beberapa rumah adat yang mengoptimalkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami perlu diadopsi.

Nirwono Joga dan Yori Antar dalam bukunya “Bahasa Pohon Selamatkan Bumi” berpendapat, konsep bangunan ramah lingkungan sama dengan “hemat”. Konsep ini menekankan pada peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi dan material bangunan. Mulai dari desain, pembangunan hingga pemeliharaan bangunan itu ke depan.

Paling penting, kata Yoga dan Nuri adalah penggunaan bahan bangunan yang tepat, efisien dan ramah lingkungan. Misalnya, pemakaian atap-atap bangunan yang dikembangkan menjadi taman atap (roof garden, green roof). Termasuk pemaian keramik, semen, daun jendela dan bahan lainnya.

Selain itu, Yoga dan Nuri mengusulkan perlunya pembuatan septic tank dalam setiap bangunan yang tidak mencemari lingkungan. Pengelolaan air limbah bersih dengan daur ulang air serta penggunaan panel sel surya yang dapat meringankan kebutuhan energi listrik.

“Di tengah krisis sumber bahan bakar, merencanakan dan merenovasi bangunan sudah harus diubah.  Bagaimana menghadirkan bangunan yang hemat (bahan bangunan, waktu, tenaga) yang berujung pada penghematan anggaran biaya dengan tetap menjaga kualitas dan tampilan bangunan, serta ramah lingkungan,” tulisnya.

KLIK INI:  Dari Pantai Kupang, Menyelisik Indonesia Darurat Sampah