Manusia Jadi Biang Kerok Terjadinya Gelombang Panas Ekstrem

oleh -21 kali dilihat
Perlu Diketahui, Indonesia Hanya Dilanda Suhu Panas, Bukan Gelombang Panas
Ilustrasi gelombang panas/foto-Tribunnews

Klikhijau.com – Manusia, dalam buku Greendeen yang ditulis Ibrahim Abdul-Matin merupakan khalifah di Bumi ini—mewakili Tuhan.

Salah satu tugas khalifah adalah menjaga dan merawat Bumi. Bukan sebaliknya, merusaknya. Meski begitu, kenyataannya sekarang ini, justru manusialah—si penjaga yang merusaknya. Itu seperti judul lagu dangdut “pagar makan tanaman”.

Berbagai bukti telah membuktikan jika aktivitas manusia telah menyebabkan banyak bencana. Sebut saja penggundulan hutan, perdagangan satwa liar, membuang sampah sembarang tempat telah memicuh perubahan iklim.

Dan yang terbaru menurut pakar iklim, gelombang panas saat ini, khususnya yang terjadi di Inggris. Hanyalah bagian kecil dari masalah yang akan datang.

KLIK INI:  Studi: Sejak 1950-an Kapasitas Terumbu Karang Menurun 50 Persen

Para pakar iklim itu  memperkirakan bahwa 40 derajat Celcius hari akan menjadi norma pada tahun 2050 mendatang.

Belum lama ini pula,  sebuah studi  dari Akademi Ilmu Pengetahuan China mengungkapkan, bahwa para ahli telah melaporkan manusia patut disalahkan karena menyebabkan emisi atas lonjakan  suhu tahun lalu di AS dan Kanada. Suhu panas itu menewaskan 1.500 orang.

“Gelombang panas yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya menyapu Amerika Utara bagian barat pada akhir Juni 2021. Itu mengakibatkan ratusan kematian dan kematian besar-besaran makhluk laut di lepas pantai serta kebakaran hutan yang mengerikan,” kata rekan penulis studi, Chunzai Wang.

Selain itu,  laporan yang diterbitkan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences dapat pula menjelaskan gelombang panas saat ini di Inggris. Emisi gas rumah kaca dan pola atmosfer tampaknya menjadi penyebab utama.

“Dalam makalah ini, kami mempelajari proses fisik variabilitas internal, seperti pola sirkulasi atmosfer, dan kekuatan eksternal, seperti gas rumah kaca antropogenik,” kata Wang.

KLIK INI:  5 Tumbuhan yang Bisa Jadi Racun Ikan Alami, Satunya Paling Familiar di Sulawesi
Peran penting manusia

Setidaknya para peneliti menemukan tiga pola sirkulasi yang bertepatan selama gelombang panas 2021. Ketiganya adalah Pasifik Utara, Arktik-Pasifik Kanada, dan pola Amerika Utara. Para peneliti menemukan pla itu dengan menggunakan model komputer,

“Pola Pasifik Utara dan pola Arktik-Pasifik Kanada terjadi bersamaan dengan perkembangan dan fase matang gelombang panas. Sedangkan pola Amerika Utara bertepatan dengan pergerakan gelombang panas yang membusuk dan ke arah timur,” kata Wang.

Ia juga menambahkan, hal tersebut menunjukkan gelombang panas berasal dari Pasifik Utara dan Kutub Utara. Ssementara pola Amerika Utara mengantarkan gelombang panas keluar.

Meskipun pola udara sering terjadi tanpa memicu gelombang panas yang intens, para ahli menemukan emisi rumah kaca yang disebabkan oleh manusia memainkan peran penting dalam menyebabkan gelombang panas tahun lalu.

KLIK INI:  Semut Bisa Jadi Pendukung Pertanian Berkelanjutan dan Pengganti Pestisida

Berdasarkan simulasi model, para peneliti yakin bahwa jumlah gelombang panas yang parah akan meningkat lebih dari 30 persen, dan gas rumah kaca akan menyebabkan hampir dua pertiga dari peningkatan itu.

“Dari model CMIP6, kami menemukan kemungkinan bahwa pemanasan global yang terkait dengan gas rumah kaca memengaruhi tiga variabilitas pola sirkulasi atmosfer ini, yang, pada gilirannya, menyebabkan peristiwa gelombang panas yang lebih ekstrem,” jelas Wang.

“Jika tindakan yang tepat tidak diambil, kemungkinan terjadinya gelombang panas ekstrem akan meningkat dan selanjutnya berdampak pada keseimbangan ekologi, serta pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan,” tutupnya.

Jadi, sebagai khalifah, seharusnya manusia menjadi penjaga dan perawat Bumi—bukan merusaknya.

KLIK INI:  Masyarakat Adat Sudah Menerapkan Ekonomi Hijau Sejak Dulu

Sumber: Earth